Sejenak #10 : Korban Amarah 1883 yang Menuai Kecantikan (Pulau Sebesi)
Tahun 1883 ketika berbicara letusan gunung Krakatau seperti tak akan ada habisnya. Amarahnya yang begitu dahsyat hingga memakan ribuan korban, bahkan gejolak letusan gunung Krakatau sampai memasuki wilayah eropa. Turut serta dihabisi kawasan sekitar krakatau termasuk Pulau Sebesi yang jaraknya sekitar 2 jam, seketika juga seluruh penduduk pulau sebesi menjadi korban keganasan gunung tersebut.
Ratusan tahun telah berlalu, kini pulau Sebesi menjelma dengan menampakkan keeksotikan didalamnya. Mulai tanah yang subur melalui hijaunya pepohonan yang saling menjulang tinggi, serta birunya laut dengan ditemani terumbu karang dan keanekaragaman ikan yang mengitari pulau tersebut. Bekas lahar panas yang kini menjadi bebatuan hasil letusan gunung Krakatau menjadi hiasan di pulau sebesi sebagai bagian dari sejarah yang tak terlupakan.
Seakan keindahan di pulau sebesi turut serta menjadi bagian destinasi wisata favorit. Hamparan batu karang, pohon tua dan pasir putih bisa dinikmati disekitaran pulau sebesi. Banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang hendak ke gunung Krakatau akan singgah ke pulau sebesi untuk melihat sejarah dampak akan letusan tersebut. Pulau sebesi terletak di kecamatan rajabasa, kabupaten lampung selatan, provinsi lampung. Luas pulau sebesi sekitar 2620 ha dengan ketinggian 844 di atas permukaan laut.
Kepemilikan Pulau Sebesi
Ketika berkunjung ke pulau sebesi, sempat bertemu salah seorang pemilik pulau tersebut yakni usman. Dia menceritakan asal muasal pulau sebesi sampai dirinya menjadi pemegang penih pulau tersebut. Ketika menjadi jaman penjajahan belanda, pulau sebesi menjadi sengketa antara kerajaan banten dengan pemerintahan belanda. Kerajaan banten yang dipimpin oleh pangeran Singa Brata mengklaim bahwa pulau sebesi masih menjadi wilayah kekuasaanya. Ditelusuri oleh pemerintah belanda, ternyata benar pulau tersebut memang milik kerajaan Banten. Konflik masih berlanjut sampai berujung pada perlawanan melawan pemerintah belanda, dan akhirnya pangeran singa brata di tangkap dan di asingkan ke Manado. Para kepala kampung pesisir meminta kepada pemerintah belanda untuk memulangkan pangeran singa brata dengan syarat tidak akan melakukan perlawanan. Berhasil di pulangkan, pangeran singa brata kembali memimpin wilayah kerajaan banten. Berselang 4 tahun yakni tahun 1883 terjadi letusan gunung krakatau yang menewaskan seluruh penduduk yang berada di pulau sebesi dan pesisir termasuk pangeran singa brata.
Kepala kampung raja basa yang masih memiliki hubungan persaudaraan dengan pangeran singa brata dikukuhkan sebagai pengganti singa brata. Kepemilikan pulau sebesi menjadi hak kepala kampung raja basa yang bernama pangeran minak putra. Pengalihan kekuasaan dan status kepemilikan pulau sebesi juga disetujui oleh pemerintahan belanda.
Berselang waktu kemudian, pangeran minak putra memberikan pulau sebesi kepada Haji Djamaludin yang merupakan kepala kampung kalianda untuk dikelola sebagai perkebunan. Hingga saat ini sudah keturunan ketiga dari Haji Djamaludin atas kepemilikan pulau sebesi yakni bernama Usman.
Masyarakat Pulau Sebesi
Pulau sebesi hanya memiliki satu desa yang bernama Desa Tejang dan dihuni sekitar 2900 jiwa. Desa tersebut terdiri dari 4 dusun yakni Dusun Bangunan, Dusun Inpres, Dusun Regahan Lada dan Dusun Segenom. Meskipun pulau tersebut dimiliki perorangan, tapi secara terbuka Usman menerima orang dari luar untuk bertempat tinggal di pulau sebesi. Usman mempersilahkan orang luar untuk tinggal sekaligus mencari kehidupan di pulau sebesi. Sistem yang dilakukan dengan melalui bagi hasil dari perkebunan tanpa perlu membeli tanah. Tersedia juga sarana pendidikan dari tingkat TK sampai SMA untuk menunjang kesejahteraan masyarakat. Sebagian besar penduduk berasal dari kalianda (pesisir) lampung selatan dan Banten.
Dengan jumlah penduduk yang kian banyak, usman mengajak masyarakat untuk turut andil dalam membangun pulau sebesi sebagai destinasi wisata yang dilakukan secara mandiri. Masyarakat menyambut ide usman secara antusias dengan ditunjukkan membuka area penginapan (home stay) dengan fasilitas dan layanan terbaik. Masyarakat juga meyediakan wisata yang bersifat edukatif seperti bercocok tanam dan memanen di perkebunan coklat dan pembuatan gula kelap Selain itu masyarakat juga menyediakan jasa transportasi dan tour guide mulai dari penjemputan di dermaga Canti (Dermaga terdekat dari pulau sebesi) menuju ke pulau sebesi dan gunung Krakatau. Masyarakat juga memanjakan wisatawan ke tempat snorkeling yang berada di tiga lokasi berbeda yakni pulau umang, pulau sebuku dan gugusan gunung Krakatau.
.
Kemandirian masyarakat pulau sebesi layak mendapat apresiasi, secara sadar mereka memahami potensi yang ada di daerahnya sehingga mampu memanfaatkan secara maksimal. Namun peran pemerintah menjadi sangat penting sebagai pendukung destinasi wisata di pulau sebesi, seperti masih terbatasnya pasokan listrik yang hanya berfungsi selama 6 jam sehari dan keterlibatan dengan mendorong masyarakat dalam mengelola destinasi wisata yang profesional, terlebih lagi melihat kondisi sekarang sudah memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Semoga harapan kedepan kolaborasi masyarakat pulau sebesi dengan pemerintah terjalin dengan baik, karena secara tidak langsung turut serta mensejahterakan masyarakat lokal ketika wisata pulau sebesi menjadi ikon wisata favorit provinsi lampung dan Indonesia, terlebih lagi sejarah yang tak terpisahkan dengan letusan gunung Krakatau.















