tentang apa yang selalu ingin aku tulis.
hai. aku ingin menuliskan sesuatu yang selama ini aku bayangkan untuk menulisnya. banyak sekali topik dan kejadian yang ingin sekali ku tuliskan, namun hanya berakhir jadi tumpukan rencana tema tulisan.
misalnya hari ini, ketika ku sedang mereview tulisan, sambil menyalakan tv yang sedang menyiarkan sidang sengketa hasil pilpres 2019, ketika semua orang kantor sedang pergi keluar dan aku sendiri bersama kucing yang sedari tadi menungguku untuk memberinya makan. aku menyaksikan bagaimana para saksi yang hari ini dijadwalkan untuk bersaksi di persidangan, bersaksi yang ternyata asumsi mereka atas data-data invalid yang rupanya mereka temukan dengan meneliti berkas dan dokumen-dokumen. lalu ku berteriak kekesalan ketika mereka menjawab bahwa mereka tidak tahu apakah orang itu melakukan pencoblosan atau tidak. seketika ku berfikir, apakah BW, seorang yang dianggap luar biasa itu adalah seorang yang ceroboh atau bodoh atau sebagainya yang hanya menyediakan saksi berdasarkan asumsi? lalu waktu pun berjalan menuju isya, dan aku masih di kantor, dan ternyata sidang masih berjalan menanyai saksi, yang ternyata barulah menghadirkan saksi-saksi terkait fakta-fakta yang mereka temukan di lapangan. meski tidak berhubungan dengan saksi sebelumnya, saksi tersebut menyatakan bahwa mereka melihat pencoblosan 15 kertas suara oleh satu orang, salah satunya.
kemudian tentang bagaimana, aku, sebagai individu yang belajar dan graduate dari fakultas ekologi manusia, yang tahu dan meyakini bahwa hidup itu lebih baik dijalani dengan faham ekosentrisme, yang yakin bahwa perubahan iklim itu terjadi, ternyata when it comes to myself, to my life, kehidupan bagaimana aku berkeluarga, bukan saja aku tidak melakukannya, aku bahkan tidak mampu melihat sama sekali bahwa yang sedang aku hadapi itu adalah suatu bentuk usaha dalam mewujudkan ekosentrisme.. rupanya secara tidak sadar aku masih berfaham antroposentrisme, dimana aku masih mengedepankan kehidupan aku berkeluarga dibanding mengikhlaskan bagaimana seseorang yang ku nikahi, bapak dari seorang ali yang mungkin menganggap aku sebagai ibunya, beraktivitas untuk menjual sedotan dari tanaman bernama purun demi menjaga hutan agar terhindar dari eksploitasi tambang minyak dan batu bara, termasuk juga menguatkan ekonomi warga agar tetap mau berjuang dengan purunnya dan tidak beralih ke komoditas lain yang merusak lingkungan..
to be continued.. aku harus pulang, udah malem.