Bahagiologi
Kajian Dokter Muda 28 Safar 1439 Bahagiology dr. Rivan Danuaji, M. Kes, Sp. S.
Apa itu bahagia?
“keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan)” –KBBI
“Keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasaan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens” –Wikipedia
Kita bisa tahu rasa manis karena kita tahu bagaimana yang pahit. Kita tahu kanan, karena kita telah tahu kiri. Hal yang sama berlaku pada kebahagiaan. Kita bisa merasakan bahagia karena kita pernah merasa tidak bahagia. Allah menciptakan semuanya berpasang-pasangan.
Katanya, bahagia itu sederhana. Menurutmu bagaimana?
Orang bilang, bahagia itu sederhana, tak pandang kaya atau miskin. Orang bilang, bahagia itu sederhana, sesederhana senang, senyum, dan tertawa. Lantas, sesungguhnya, apa itu bahagia?
Dimana letak kebahagiaan itu?
bahagia itu merupakan emosional experience yang sangat terkait dengan persepsi. Kesemua itu bersumber dari otak. Otak lah yang mengatur seluruh aktivitas satu manusia, baik motorik, sensorik, dan lain sebagainya. Para ahli membagi otak menjadi dua, yakni:
Upper brain (mammalian brain): terdiri dari lobus frontal, parietal, occipital, temporal
Lower brain (reptillian brain): berupa limbic system, pengaturan instinct dan mood. Area yang mengatur mood, termasuk rasa bahagia, didominasi oleh lower brain.
Terdapat konektivitas yang menghubungkan kedua otak ini. seperti saat kita bahagia, maka pikiran akan bahagia. Sama halnya saat kita berpikir bahagia, maka kita akan merasa bahagia.
Terdapat banyak neurotransmitter yang terkait dalam proses munculnya rasa bahagia ini. serotonin, dopamin, dan neurotransmitter lainnya. Dalam dunia medis, obat bagi orang yang depresi salah satunya adalah SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor) yang bekerja menghambat ambilan serotonin sehingga serotonin yang beredar tetap banyak dan si pasien bisa berkurang depresinya. Ini baru satu jalur. Masih banyak jalur biomechanical proses lainnya.
Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kondisi seperti apa fitrah itu? dalam kajian neuroscience fitrah dapat diartikan seperti kondisi otak dalam keadaan paling sehat dimana otak dapat selalu mengalami plastisitas. Kita belajar, kita dapat berpikir, menyimpan memory. Apakah itu karena sel otak kita tambah banyak? Tidak. Lantas apa yang bertambah? Sinapsnya, ikatan antar selnya. Inilah plastisitas. Jadi, yang disebut fitrah dalam kacamata neurosciense adalah kemampuan otak yang mampu berplastisitas secara optimal. Ini berarti otak yang memiliki plastisitas optimal dapat dengan mudah menerima positivity.
Dalam hal mendidik anak pun, harusnya yang ditekankan adalah berpikir positif, bukan berpikir negatif. Tetapi kita selama ini sering kali berpikir negatif, misalnya dengan menakut-nakuti. Misalnya dengan memberikan gambaran bahwa hal ini-itu dapat membawa kita ke neraka. Hal ini akan menjadi salah manakala tidak diimbangi dengan positivity yang lebih adekuat. Contoh lainnya adalah kisah kisah cerita jaman dulu yang sering kali diceritakan oleh para orang tua. Kisah kancil, misalnya? Bagaimana kisahnya? Tentu kita semua tahu bahwa kancil adalah binatang nakal yang sukanya mencuri. Kisah kisah seperti ini sebaiknya tidak diceritakan. Mengapa menceritakan kejelekan? Mengapa tidak mencari kisah lain yang justru membangun sikap positif? Dalam perspektif neuroscience, kisah negatif semacam ini tidak bagus untuk ditanamkan dalam otak anak-anak.
Kisah semacam ini nantinya akan membangun karakter buruk. Inilah mungkin yang menjadi alasan mengapa dalam pertandingan sepak bola, jika tidak terima dengan hasil pertandingan maka suporternya akan tawuran. Inilah yang menjadi alasan mengapa masih ada saja yang melanggar lampu lalu lintas. Jika diperhatikan, apakah mereka bahagia? Ketika Anda melakukan perpecahan, apakah Anda bahagia? Ketika Anda melanggar aturan, apakah Anda bahagia? Tentunya tidak.
Kembali ke neuroscience. Jadi, plastisitas inilah yang mendasari seseorang dapat mengembangkan brain-nya, dan controlling-nya ada di lower brain, serta berkaitan dengan happiness.
Konsep bahagia itu terdiri dari motivation + pleasure + learning. Tiga hal ini lah yang menjadi positivity untuk kita berpikir happy.
Bagaimana kebahagiaan dalam Islam? Dalam islam, semua kebahagiaan dunia adalah semu. Kebahagiaan yang hakiki berada di akhirat.
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qasas:77)
Apakah kebahagiaan itu bisa diukur dengan lebarnya senyum? Sulit sekali mengukur kebahagiaan. Karena semua berkaitan dengan perasaan. Ada orang menangis karena sedih, tapi ada pula yang menangis karena bahagia. Ada yang bisa mengungkapkan kebahagiaan, tapi ada pula yang tidak dapat mengungkapkannya. Maka bisa dikatakan, bahagia di dunia ini pun hanya Allah yang tahu.
Al-Quran menggambarkan kebahagiaan adalah rasa syukur dan persaudaraan. Jika kita bisa memelihara ukhuwah, kita bisa menigkatkan rasa syukur kita, maka kebahagiaan itu akan masuk ke dalam diri kita.
rekaman kajian dokter muda “Bahagiologi” dapat diunduh di sini














