Kajian Dokter Muda
17 Rabiul Akhir 1439H
Tembok Kamko Berbicara
“meninjau kembali pentingnya menjaga lisan sebagai seorang muslim sekaligus tenaga medis”
dr. Syahmi Amar (Residen Pediatri)
عَنْ النَّوَّاسِ بنِ سَمْعَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ : الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَاْلإِثْمُ مَا حَاكَ فِي نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ
Dari Nawwas bin Sam’an radhiallahuanhu, dari Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam beliau bersabda: “Kebaikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah apa yang terasa mengganggu jiwamu dan engkau tidak suka jika diketahui manusia “ Riwayat Muslim (Hadist ke 27 dalam Hadist Arbain)
Akhlak yang baik itu sangat luas. Ada akhlak terhadap Allah, sebagai tuhan kita, dengan kita mengimani-Nya, meng-Esa-kanNya. Ada pula akhlak terhadap sesama manusia seperti menjaga lisan kita, menjaga saudara kita dari bahayanya lisan kita.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf: 16-18).
Allah menerangkan kepada kita bahwa segala yang kita ucapkan semuanya dicatat dan dinilai oleh Allah. Tidak hanya ucapan-ucapan baik yang akan diberi ganjaran pahala. Bukan hanya ucapan-ucapan buruk yang akan diberi balasan dosa. Tetapi ucapan-ucapan sia-sia pun juga akan dicatat. Inilah peringatan bagi kita bahwa selama 24 jam penuh akan selalu ada malaikat yang mencatat apapun yang kita lakukan, apapun yang kita ucapkan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Kita perlu berhati-hati, apakah ucapan yang keluar dari mulut kita adalah ucapan-ucapan yang justru menyebabkan dosa dan menambah berat timbangan amal buruk kita.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)
Ada tiga hal yang dibahas dalam ayat ini,
1.Prasangka
Manusia pada umumnya, jika tidak suka pada seseorang, atau ada penyakit hati, sering sekali suudzon. Padahal mungkin tidak seperti yang kita bayangkan.
2.Mencari keburukan
Ketika tidak senang dengan orang lain, kerap kali kita mencari-cari keburukannya. Yang lebih afdol adalah kita harusnya mencari keburukan diri kita sendiri. Adakah kita lebih baik dari orang lain sehingga patut kita mencari-cari keburukan mereka?. Kita tampak baik di mata orang-orang itu karena semata Allah sangat baik menutup aib-aib kita.
3.Menggunjing
Apa itu ghibah?
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim no.2589).
Allah mengakhiri surat Al Hujurat ayat 12 dengan “Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
Ghibah termasuk dosa karena di akhir ayat disebutkan Allah Maha Menerima Taubat. Artinya, apa yang disebutkan dalam ayat termasuk dalam dosa karena berarti dituntut bertaubat. Imam Nawawi juga menyebutkan bahwa ghibah termasuk perbuatan yang diharamkan, lihat Syarh Shahih Muslim, 16: 129.
Dalam Kunuz Riyadhis Sholihin (18: 164) disebutkan, “Para ulama sepakat akan haramnya ghibah dan ghibah termasuk dosa besar.”
Beberapa ulama berpendapat bahwa ghibah termasuk dosa. Ulama lain menggolongkan ghibah dalam dosa besar. Akan tetapi,
Tidak ada dosa kecil ketika kita melakukannya terus menerus. Tidak ada dosa besar ketika kita menguburnya dengan istighfar.
Jadi ketika kita menganggap ini sebuah dosa kecil dan kita rutin melakukannya, itu akan menjadi sebuah dosa besar. Itulah yang menjadi sulit. Kadang dosa kecil menjadi tak terasa ketika kita lakukan karena sudah seperti menjadi kebiasaan. Kadang kita tidak merasa jika obrolan yang kita lakukan itu adalah hal yang kurang tepat. Itulah gunanya punya teman, supaya saling mengingatkan.
Perbuatan yang disebutkan dalam surat Al Hujurat ayat 12, yakni berprasangka buruk, mencari kesalahan-kesalahan orang lain, menggunjing merupakan perbuatan dosa. Dosa itu ketika mengumpul akan membentuk suatu noktah hitam di hati. Ketika semakin menumpuk maka akan membuat hati keras. Bisa jadi maksiat-maksiat yang disebabkan karena ghibah inilah yang membuat iman turun. Sebab iman itu naik turun, naik dengan ketaatan dan turun dengan kemaksiatan.
Jika kita menemui keadaan sholat jamaah kita banyak yang ketinggalan, ngaji kita berkurang, tahajjud susah bangunnya, kajian banyak halangan, pada saat itu mungkin kita perlu introspeksi diri adakah kemaksiatan-kemaksiatan, termasuk ghibah, yang kita lakukan sehingga itu membuat kita futur. Ghibah termasuk hal yang sulit kelihatan karena mungkin ia ada diantara diskusi-diskusi kita.
Bagaimana jika hanya mendengarkan?
Imam Nawawi berkata di dalam Al-Adzkar: ”Ketahuilah bahwasanya ghibah itu sebagaimana diharamkan bagi orang yang menggibahi, diharamkan juga bagi orang yang mendengarkannya dan menyetujuinya. Maka wajib bagi siapa saja yang mendengar seseorang mulai menggibahi (saudaranya yang lain) untuk melarang orang itu, kalau dia tidak takut kepada mudhorot yang jelas. Dan jika dia takut kepada orang itu, maka wajib baginya untuk mengingkari dengan hatinya dan meninggalkan majelis tempat ghibah tersebut jika hal itu memungkinkan.
Sebagai seorang cendekiawan muslim, sudah menjadi kewajiban kita untuk meninggalkan perbuatan ghibah, mengingkari jika mendengarnya, dan melarang jika ada saudara kita yang melakukannya. Bagaimana caranya tergantung bagaimana kondisinya. Saling mengingatkan dengan orang baru tentu caranya berbeda dengan saat mengingatkan teman yang sudah lama kita kenali.
Adakah ghibah yang diperbolehkan?
Imam Nawawi rahimahullah menyatakan ada enam keadaan yang dibolehkan menyebutkan ‘aib orang lain adalah sebagai berikut:
• Mengadu tindak kezaliman kepada penguasa atau pada pihak yang berwenang. Semisal mengatakan, “Si Ahmad telah menzalimiku.”
• Meminta tolong agar dihilangkan dari suatu perbuatan mungkar dan untuk membuat orang yang berbuat kemungkaran tersebut kembali pada jalan yang benar. Semisal meminta pada orang yang mampu menghilangkan suatu kemungkaran, “Si Rahmat telah melakukan tindakan kemungkaran semacam ini, tolonglah kami agar lepas dari tindakannya.”
• Meminta fatwa pada seorang mufti seperti seorang bertanya mufti, “Saudara kandungku telah menzalimiku demikian dan demikian. Bagaimana caranya aku lepas dari kezaliman yang ia lakukan.”
• Mengingatkan kaum muslimin terhadap suatu kejelekan seperti mengungkap jeleknya hafalan seorang perowi hadits.
• Membicarakan orang yang terang-terangan berbuat maksiat dan bid’ah terhadap maksiat atau bid’ah yang ia lakukan, bukan pada masalah lainnya.
• Menyebut orang lain dengan sebutan yang ia sudah ma’ruf dengannya seperti menyebutnya si buta. Namun jika ada ucapan yang bagus, itu lebih baik. (Syarh Shahih Muslim, 16: 124-125)
Bagaimana wujud ghibah?
Di zaman dulu, ghibah bisa dinyatakan dengan perkataan atau isyarat. Akan tetapi, di zaman sekarang, ghibah banyak sekali medianya seperti grup WhatsApp, Line, Facebook, Twitter, Instagram, dll. Inilah tantangan kita di zaman sekarang. Kadang kita tidak sadar, bukan dari perkataan kita, bukan dari tindakan kita, melainkan dari gerakan jempol kita di keyboard yang memiliki potensi untuk memunculkan dosa.
Tips Meninggalkan Ghibah
1. Sibukkan dengan amal
Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, kecuali yang beriman dan beramal sholeh. Dua itu, beriman dan beramal sholeh. Ketika kita sudah meyakini dalam hati, mengucap di lisan, maka yang selanjutnya adalah mengamalkannya. Perbanyaklah amal karena kita tidak pernah tahu kapan akhir hidup kita di dunia ini. sibukkanlah dengan amal baik, karena ketika kita tidak sibuk dalam kebenaran maka akan sibuk dengan kebatilan.
2. Ingatlah mengenai dosanya
Meskipun kita bersembunyi dalam dinding kamko (kamar koas), tetap Allah Maha Melihat, malaikat tetap mengawasi. Setiap ucapan dan perbuatan akan dicatat. Ini pilihan. Mau berbuat/ berkata baik, atau diam. jadilah orang yang bisa menjaga lisannya, yang khawatir kalau kalau ucapannya justru akan memberatkan timbangan amal keburukannya.
3. Memilih lingkungan yang baik
Lingkungan yang baik penting untuk saling mengingatkan.
Dari Abu Hurairah r.a“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (H.R Bukhari dalam adabul mufrad, shahih menurut syaikh al-Albani)
Perbanyaklah bercermin, muhasabah diri sendiri. Seperti perkataan Umar ibn Khattab ra “hisablah dirimu sebelum nanti di hari akhir dihisab”. Jika kita melihat diri sendiri lebih baik dari orang, yakin diri ini benar lebih baik? apakah itu karena Allah menutupi aib-aib kita? Jika kita selalu mengingat itu, kita akan berhenti membicarakan orang lain karena sadar bahwa diri sendiri belum tentu lebih baik dari orang yang dibicarakan.
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53).
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8)
Bertobatlah, dengan cara
• Menyesali dosa yang telah dilakukan dahulu
• Tidak terus menerus dalam berbuat dosa
• Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut di masa akan datang
• Dan jika berkaitan dengan hak manusia, maka ia segera menunaikannya atau meminta maaf.
Apakah dalam taubat itu disyariatkan adanya penyesalan atas segala sesuatu dan meminta maaf kepada orang yang telah digunjingkannya itu? mengenai hal itu terdapat perbedaan pendapat. Ada ulama yang mensyaratkan agar meminta maaf kepada orang yang digunjingkan. Ada yang berpendapat, tidak disyaratkan meminta maaf karena dikhawatirkan orang tersebut akan lebih merasa sakit hati daripada jika ia tidak diberi tahu. Maka, cara bertaubat dan “meminta maaf”nya adalah dengan memberikan pujian atau membicarakan kebaikan-kebaikannya, atau menghindari gunjingan dari orang lain atasnya. Sehingga gunjingan dibayar dengan pujian.
rekaman kajian dokter muda “Tembok Kamko Berbicara” dapat diunduh di sini
Dalam ilmu psikiatri, kita mengenal adanya istilah tilikan (insight).
Yakni kemampuan seseorang untuk memahami penyebab maupun arti dari situasi, misalnya pada gejala penyakit yang dialaminya.
Tilikan dibagi kedalam 6 derajat. Mulai dari derajat pertama dimana pasien menyangkal total terhadap penyakitnya, sampai derajat keenam dimana pasien menyadari sepenuhnya tentang situasi dirinya dan disertai motivasi untuk memperbaiki diri.
Pasien dengan gangguan jiwa mempunyai tilikan yang rendah, menganggap dirinya sehat-sehat saja, bahkan menyangkal jika dikatakan dia mengalami gangguan jiwa
Demikian halnya dengan seseorang yang selalu melakukan maksiat.
Ia memiliki tilikan yang rendah, terhadap amal buruk dan dosa yang ia lakukan. Ia akan menganggap perbuatan maksiatnya adalah hal yang baik, dan tidak ada yang salah dengannya.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan "Maksiat melunturkan persepsi buruk tentang dosa dalam hati seseorang, ia tidak akan merasa bahwa dosa yang ia lakukan adalah perbuatan buruk"
Maksiat dan dosa menyebabkan Allah menutup hati seseorang, sehingga ia tidak lagi dapat menyadari bahwa yang ia lakukan setiap saat tidak lain adalah dosa.
كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
"Sekali kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka" (Q.S. 83:14)
Lalu apalagi yang dapat diharapkan ketika kita sudah tidak bisa menyadari bahwa kita sedang terus-menerus berdosa?
Atau apalagi yang dapat diperbaiki ketika kita menyangkal berbuat dosa walaupun sudah diingatkan dengan ayat-ayatNya ?
Dan berakhirlah kisah seorang pendosa tersebut
ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُو الْجَحِيمِ. ثُمَّ يُقَالُ هَٰذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ
"Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.
Kemudian, dikatakan (kepada mereka), “Inilah (azab) yang dahulu kamu dustakan.” (Q.S. 83:16-17)
Maka berdoalah
اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مِنْ عِنْدِكَ مَغْفِرَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menzhalimi diri sendiri dan tidak ada yang mampu mengampuni dosa melainkan Engkau, maka berilah ampunan kepadaku dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. HR. Bukhari : 6839
Kajian Dokter Muda
28 Safar 1439
Bahagiology
dr. Rivan Danuaji, M. Kes, Sp. S.
Apa itu bahagia?
“keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan)” –KBBI
“Keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasaan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens” –Wikipedia
Kita bisa tahu rasa manis karena kita tahu bagaimana yang pahit. Kita tahu kanan, karena kita telah tahu kiri. Hal yang sama berlaku pada kebahagiaan. Kita bisa merasakan bahagia karena kita pernah merasa tidak bahagia. Allah menciptakan semuanya berpasang-pasangan.
Katanya, bahagia itu sederhana. Menurutmu bagaimana?
Orang bilang, bahagia itu sederhana, tak pandang kaya atau miskin. Orang bilang, bahagia itu sederhana, sesederhana senang, senyum, dan tertawa. Lantas, sesungguhnya, apa itu bahagia?
Dimana letak kebahagiaan itu?
bahagia itu merupakan emosional experience yang sangat terkait dengan persepsi. Kesemua itu bersumber dari otak. Otak lah yang mengatur seluruh aktivitas satu manusia, baik motorik, sensorik, dan lain sebagainya. Para ahli membagi otak menjadi dua, yakni:
Upper brain (mammalian brain): terdiri dari lobus frontal, parietal, occipital, temporal
Lower brain (reptillian brain): berupa limbic system, pengaturan instinct dan mood. Area yang mengatur mood, termasuk rasa bahagia, didominasi oleh lower brain.
Terdapat konektivitas yang menghubungkan kedua otak ini. seperti saat kita bahagia, maka pikiran akan bahagia. Sama halnya saat kita berpikir bahagia, maka kita akan merasa bahagia.
Terdapat banyak neurotransmitter yang terkait dalam proses munculnya rasa bahagia ini. serotonin, dopamin, dan neurotransmitter lainnya. Dalam dunia medis, obat bagi orang yang depresi salah satunya adalah SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor) yang bekerja menghambat ambilan serotonin sehingga serotonin yang beredar tetap banyak dan si pasien bisa berkurang depresinya. Ini baru satu jalur. Masih banyak jalur biomechanical proses lainnya.
Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kondisi seperti apa fitrah itu? dalam kajian neuroscience fitrah dapat diartikan seperti kondisi otak dalam keadaan paling sehat dimana otak dapat selalu mengalami plastisitas. Kita belajar, kita dapat berpikir, menyimpan memory. Apakah itu karena sel otak kita tambah banyak? Tidak. Lantas apa yang bertambah? Sinapsnya, ikatan antar selnya. Inilah plastisitas. Jadi, yang disebut fitrah dalam kacamata neurosciense adalah kemampuan otak yang mampu berplastisitas secara optimal. Ini berarti otak yang memiliki plastisitas optimal dapat dengan mudah menerima positivity.
Dalam hal mendidik anak pun, harusnya yang ditekankan adalah berpikir positif, bukan berpikir negatif. Tetapi kita selama ini sering kali berpikir negatif, misalnya dengan menakut-nakuti. Misalnya dengan memberikan gambaran bahwa hal ini-itu dapat membawa kita ke neraka. Hal ini akan menjadi salah manakala tidak diimbangi dengan positivity yang lebih adekuat. Contoh lainnya adalah kisah kisah cerita jaman dulu yang sering kali diceritakan oleh para orang tua. Kisah kancil, misalnya? Bagaimana kisahnya? Tentu kita semua tahu bahwa kancil adalah binatang nakal yang sukanya mencuri. Kisah kisah seperti ini sebaiknya tidak diceritakan. Mengapa menceritakan kejelekan? Mengapa tidak mencari kisah lain yang justru membangun sikap positif? Dalam perspektif neuroscience, kisah negatif semacam ini tidak bagus untuk ditanamkan dalam otak anak-anak.
Kisah semacam ini nantinya akan membangun karakter buruk. Inilah mungkin yang menjadi alasan mengapa dalam pertandingan sepak bola, jika tidak terima dengan hasil pertandingan maka suporternya akan tawuran. Inilah yang menjadi alasan mengapa masih ada saja yang melanggar lampu lalu lintas. Jika diperhatikan, apakah mereka bahagia? Ketika Anda melakukan perpecahan, apakah Anda bahagia? Ketika Anda melanggar aturan, apakah Anda bahagia? Tentunya tidak.
Kembali ke neuroscience. Jadi, plastisitas inilah yang mendasari seseorang dapat mengembangkan brain-nya, dan controlling-nya ada di lower brain, serta berkaitan dengan happiness.
Konsep bahagia itu terdiri dari motivation + pleasure + learning. Tiga hal ini lah yang menjadi positivity untuk kita berpikir happy.
Bagaimana kebahagiaan dalam Islam? Dalam islam, semua kebahagiaan dunia adalah semu. Kebahagiaan yang hakiki berada di akhirat.
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qasas:77)
Apakah kebahagiaan itu bisa diukur dengan lebarnya senyum? Sulit sekali mengukur kebahagiaan. Karena semua berkaitan dengan perasaan. Ada orang menangis karena sedih, tapi ada pula yang menangis karena bahagia. Ada yang bisa mengungkapkan kebahagiaan, tapi ada pula yang tidak dapat mengungkapkannya. Maka bisa dikatakan, bahagia di dunia ini pun hanya Allah yang tahu.
Al-Quran menggambarkan kebahagiaan adalah rasa syukur dan persaudaraan. Jika kita bisa memelihara ukhuwah, kita bisa menigkatkan rasa syukur kita, maka kebahagiaan itu akan masuk ke dalam diri kita.
rekaman kajian dokter muda “Bahagiologi” dapat diunduh di sini
Kajian Dokter Muda
3 Rabiul Akhir 1439H
Toleransi dan Intoleransi
dr. Muchtar Hanafi, M.Sc
Di Indonesia saat ini sering kita mendengar mengenai Toleransi dan Intoleransi, khususnya dalam menjalankan kehidupan beragama. Berbagai pihak memiliki pendapat serta standar masing-masing dalam mendefinisikannya. Lalu manakah standar kebenaran yang paling benar dari semua itu?
Sebelum kita menyebutkan sebuah kaum/golongan sebagai toleran ataupun intoleran, carilah mana definisi yang paling benar terhadapnya. Apakah benar Islam?
Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (QS. Ali Imran: 19)
Berdasarkan ayat tersebut, disebutkan bahwa agama yg diridhai oleh Allah adalah Islam dan hanya Islam. Apabila kita telah meyakini bahwa Islam lah kebenaran itu, maka kita harus menjadikan islam sebagai pedoman hidup. Apa saja yang ada di dalamnya, tugas kita hanyalah sami'na wa ato'na. Seperti yg tertuang pada Qs. Al Baqarah ayat 208,
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
Iya.. Setelah yakin, tingkatan selanjutnya adalah mengamalkannya. Masuklah islam secara kaffah, keseluruhan, taat tanpa tapi..
Setelah yakin bahwa Islam lah yang paling benar dan menjadikan Quran serta hadis sebagai pedoman hidup, barulah kita melihat bagaimana Islam mengaturnya.
TOLERANSI
Berdasarkan KBBI, toleransi adalah bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.
Di dalam Al Quran, terdapat sebuah surat yang diturunkan khusus mengatur tentang toleransi. Disebutkan demikian karena asbabun nuzul surat tersebut adalah ketika pada suatu malam Rasulullah didatangi oleh kaum kafir (Kafir dalam islam: orang non muslim yang tidak memerangi islam dan mengeluarkan kata-kata menarik). Kemudian mereka berkata pada Rasulullah, "Wahai Muhammad, kami paham bahwa kita berbeda. Namun jangan sampai perbedaan ini menyebabkan perpecahan diantara kita. Maka dari itu, kami mengajukan penawaran bagaimana jika pada satu hari kami ikut ibadah agamamu, namun di hari lain kau ikut ibadah kami."
Karena tawaran yang begitu halus dan menarik, sempat terbesit ragu di hati Rasulullah. Namun Allah menguatkan beliau melalui firmanNya..
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ
1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,
لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ
2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah,
وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku".
Sami'na wa atho'na. Teguhlah hati Rasulullah untuk menolak tawaran kaum kafir. Berdasarkan tafsir quran, sebagai seorang muslim dalam hal ibadah dan akidah tidak ada toleransi sama sekali. Untukmu agamamu dan untukku agamaku. Termasuk perayaan, tempat ibadah, dan yang lainnya. Sedangkan dalam muamalah, diperbolehkan.
Jika kita bicara toleransi, tentu islam merupakan agama yang toleran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan muamalah. Islam adalah agama yang indah, sebagai contoh saat seorang muslim memasak kemudian aroma masakan tersebut sampai kepada tetangganya maka islam mengajarkan untuk membagi masakan tersebut kepada tetangga. Contoh lainnya adalah jika ada pohon yang berbuah, ketika buahnya sampai ke halaman tetangga maka bagian itu menjadi milik bersama.
Di nusantara, kedatangan islam justru memberikan nuansa toleransi yang sangat baik. islam menjadi pioner untuk menata masyarakat menjadi lebih baik. kemudian apa contoh hal intoleran di nusantara? Ialah kedatangan portugis di bumi nusantara dipimpim oleh alfonso de albuquerque dengan membawa misi Gold Glory Gospel. Mereka datang dan menjajah nusantara.
Jika kemudian kita ditanya
mengapa dalam mengucapkan “selamat natal” saja tidak diperbolehkan?
Karena jika begitu, artinya kita meyakini bahwa pada tanggal tersebut telah lahir tuhan yang mereka sebut sebagai Yesus. Hal ini berkaitan erat dengan akidah dan telah disampaikan bahwa dalam hal akidah tidak ada toleransi.
~dunia di tanganku, akhirat di hatiku~
rekaman kajian dokter muda “Toleransi dan Intoleransi” dapat diunduh di sini
Stase besar yang istimewa, berat, penuh drama salah satunya adalah stase bedah. Masuk pagi sekali sebelum jam 6 hingga kadang bisa pulang sampai jam 11 malam. Nilai kedisiplinan, kejujuran, rasa menghormati dan menghargai ditekankan di sini. Salah satu kelebihan dari stase ini adalah rasa kekeluargaan yang bagus walaupun mungkin ada beberapa “bentrokan” di dalamnya tapi rasa kekeluargaan tetap mendasarinya. Belajar bersama, berjuang bersama, main bersama, kajian bersama membuat rasa kekeluargaan semakin mesra dan indah.
Salah satu kegiatan yang patut mendapatkan apresiasi adalah kegiatan syukuran spesialis bedah baru. Kegiatan dikemas dengan acara makan sederhana di dalam rumah sakit. Acara mengundang para staf pengajar, residen PPDS bedah, sekretaris SMF bedah dan dokmu bedah. Acara yang diikuti itu diantaranya disi dari kepala SMF, perwakilan direktur, staf pengajar, dan tentunya dokter spesialis bedah baru yang bersangkutan. Acara ditutup dengan foto bersama dan ramah tamah. Sederhana, berkesan, dan penuh makna. Perjuangan belajar selama 4 tahun atau lebih menuai akhir yang indah. Itu yang saya rasakan ketika menghadirinya.
Merayakan hal yang baik. Acara syukuran kelulusan dokter spesialis bedah baru merupakan hal yang baik. Nikmat kelulusan yang diperoleh dengan kurasan keringat, air mata, perjuangan, pengorbanan selama pendidikan disyukuri supaya nikmat dari Allah ditambah.
”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Kemudian cara merayakan syukuran tersebut juga dilakukan dengan baik. Mengundang perwakilan direktur rumah sakit, staf pengajar yang selama ini telah mendidik susah payah, teman sejawat PPDS yang sedang menuju ke tujuan yang sama, dan dari sekretariat SMF bedah yang banyak membantu. Di samping itu juga mengundang orang-orang yang “hidupnya susah” seperti dokmu bedah. Hehe. Alhamdulillah. Turut bersuka cita, turut mendoakan. Seperti itu. Islam mengajarkan umatnya untuk merayakan sesuatu yang baik dengan cara yang baik.
Mengenai tahun baru masehi, Islam sudah memiliki tahun baru sendiri yaitu tahun baru hijriah dan seharusnya kita tidak melupakannya.
Merayakan tahun baru masehi apakah termasuk hal yang baik ya?
Kemudian cara yang dilakukan juga apakah hal yang baiknya ya?
Untuk mengetahui itu semua, maka jalan satu-satunya, tidak lain tidak bukan adalah dengan belajar. Belajar mencari ilmunya. Tentunya dari sumber yang terpercaya. Bisa dengan bertanya pada ahlinya, maupun memcari di buku atau internet (sumber yang terpercaya ya. Ingat). Contoh mesin pencari yang terpercaya seperti yufid.com atau yufid.tv. Sedangkan link webnya misalnya konsultasisyariah.com, muslim.or.id dan lain-lain.
Jangan biarkan kita menjadi bodoh karena tidak tahu ilmunya sehingga menjadi sekedar ikut-ikutan saja.
“Katakanlah (wahai Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS Az Zumar: 9)
Kajian Dokter Muda
19 Rabiul Awal 1439H
Profesi Dokter, Surgamu atau Nerakamu?
dr. Misbah (Residen Orthopedi)
Imam An Nawawi pernah merasa imannya turun. Ketika itu ia menyibukkan diri untuk mempelajari kitab Al Qanun (kitab kedokteran karya Ibnu Sina). Kemudian beliau menjual kitab kitab tersebut, dan hatinya tenang kembali.
Imam An Nawawi diberi kenikmatan/ kemudahan untuk beramal membuat kitab hadits dan mengamalkan ilmunya (sebagai mubaligh, bukan sebagai dokter yg mempelajari Al Qanun)
Ada juga kisah Imam Malik yang pernah diajak oleh sahabatnya untuk beruzlah. Imam Malik menolak ajakannya. Karena beliau sadar bahwa ladang amal imam malik sebagai ahli hadits/fiqh, bukan sebagai ahli beruzlah.
Dari kisah di atas dapat disimpulkan bahwa ladang amal masing-masing orang berbeda.
Sebagaimana kita yang diberikan Allah ladang amal untuk belajar di bidang kedokteran.
Selalu jangan lupakan niat. Jika niat kita lurus, maka in shaa Allah, Allah akan memudahkan jalan yang terbaik untuk kita.
dr. Misbah dimudahkan untuk masuk kedokteran, padahal dalam nilai-nilai try outnya beliau tidak pernah masuk ke dalam passing grade kedokteran. Jalan untuk mengambil PPDS ortopedi juga dimudahkan dengan terpilih untuk PTT di Pinogu, Gorontalo. Mengalahkan ribuan orang lainnya yang mendaftar. Beliau juga pernah ke Suriah untuk membantu misi kemanusiaan di sana.
Beliau memiliki tokoh panutan, yaitu dr. Jose Rizal, Sp.OT. dr. Jose bersama LSM MERC berhasil membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Pesan dr. Jose yang selalu diingat beliau yaitu "Menjadi dokter itu, punya tanggung jawab yang besar terhadap ummat. Kita punya potensi untuk beramal lebih banyak lagi. Jangan disia-siakan"
Jangan jadi dokter yang terpaksa. Terpaksa jadi orang capek. Jangan jadi dokter yang orientasinya uang saja. Kalau orientasinya uang, lebih baik tidak usah jadi dokter.
Tanyakan lagi pada diri kita tentang cita cita kita.
Apakah dengan jadi spesialis, kita akan punya kesempatan beramal lebih banyak?
Sangat rendah kalau kita berlelah hanya untuk mengejar dunia. Karena disana, ada kampung akhirat abadi yang menanti. Dalam kehidupan profesi, selalu cari waktu untuk beribadah. Karena mungkin waktu kita tidak banyak.
rekaman kajian dokter muda “profesi dokter : surgamu atau nerakamu?” dapat diunduh disini