Mencari Irisan Realita dengan Utopia Kehidupan
Judul: 5cm: Aku, Kamu, Samudera dan Bintang-Bintang
Penulis: Dhonny Dhirgantoro
Editor: Abinustra, Yay Dewintya
Penerbit: PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Cetakan Pertama: Juli 2020
Tebal: 498 halaman
“Setelah ABG yang absurd, datang seventeen yang emang selalu sweet, abis itu turbulence twenty one, now is terrible twenty five, with a bullet, yang paling berat. It’s now or never.”
Aku, Kamu; Samudera dan Bintang-Bintang, sebuah sekuel dari 5cm akhirnya terbit setelah 15 tahun semenjak seri pertamanya 5 cm terbit pada tahun 2005. Novel ini menceritakan hari-hari Zafran, Genta, Ian, Arial dan Riani setelah kepulangannya dari puncak Mahameru. Ternyata setelah hari yang sangat memorable itu segalanya terasa berbeda. Mereka kembali ke realita yang harus dihadapi untuk terus bertahan hidup, mereka kembali menyelami kesibukan masing-masing berkawan hiruk-pikuk ibu kota. Bermula dari renungan Zafran di atas kereta Matarmaja dan obrolannya dengan Genta soal kehawatiran tentang pekerjaan, tentang cinta, juga tentang persahabatan mereka. Kemudian kekhawatiran itu seakan berubah menjadi kenyataan sedikit demi sedikit, waktu demi waktu hingga mengakibatkan turbulen pada diri masing-masing yang kerap kita sebut “Quarter life crisis”.
Setiap tokoh mendapat porsi yang pas untuk diceritakan kehidupannya: Zafran dan segala konfliknya tentang pencarian irisan antara idealismenya dengan realita; Genta antara move on dan kesibukan pekerjaan; Ian yang terpaku template dan berkubang di zona nyaman; Arial dengan segala tetek bengek urusan pernikahan dengan Indy; serta Riani dengan kebingungan dengan cinta dan karier. Setiap tokoh memiliki puncak konfliknya masing-masing, namun untuk kelima sahabat itu puncak konfliknya adalah momen ketika persahabatan mereka merenggang dan tidak bisa berkumpul bersama lagi. Konflik diceritakan dengan perlahan-lahan hingga ¾ bagian buku. Hal tersebut sedikit membuat saya, pembaca merasa bosan, selain itu terkadang terlalu banyak repetisi kalimat atau diksi di setiap paragrafnya yang terkesan bertele-tele, tapi tentu hal tersebut bersifat relatif untuk setiap pembaca sebab bisa jadi gaya tersebut memang cara bertutur khas dari penulis.
Setelah lika-liku kehidupan di ibu kota yang rasanya bergerak lambat, pembaca diajak untuk mengeskplor alam Nusantara yang begitu cantik, sama seperti pertualangan Mahameru, namun kali ini tentu dengan destinasi yang berbeda. Kecantikan alam Indonesia ditonjolkan melalui narasi-narasi yang membawa pembaca turut membayangkan keramaian jalan raya, hijaunya pepohonan, birunya laut, suara deburan ombak hingga gemerlap konstelasi bintang. Momen travelling bareng kelima sahabat tersebut itu ditambah dengan Dinda seakan menjadi pelipur lara setiap tokoh. Berkumpul kembali dan bertualang bersama sahabat tercinta seakan jadi ajang untuk menjernihkan pikiran sebelum kembali bertarung dengan masalah kehidupan.
Novel ini mungkin akan terasa membosankan bagi pembaca baru yang belum mengikuti kisah persahabatan mereka di novel pertama atau bagi yang belum pernah menonton adaptasi filmnya. Namun berbeda bagi seseorang yang seakan sudah akrab dengan 5 sekawan tersebut.
Novel ini mengajak pembaca untuk merenungi kembali tentang makna hidupnya, tentang memperjuangkan impian, mengajak untuk menysukuri kehidupan sebagai manusia ciptaan Tuhan, mengajak untuk menghargai sejarah, alam semesta dan juga memaknai persahabatan.
“Hiduplah dengan pencarian makna-makna, hidupi hidupmu dengan memberi arti pada setiap perjalanan, hidupi hidupmu dengan makna, kamu akan menemukan betapa indahnya diri sebagai seorang manusia.”









