Berbulan-bulan lalu, kepalaku berisi banyak pertanyaan tentang bagaimana perasaanmu, tentang adakah aku di rencana dan doa-doamu, dan tentang sesayang apa kamu.
Tuhan membuatku luntang-lantung mencari jawabannya. Aku merasa payah sekali, patah dan sempat hilang arah.
Namun Tuhan Maha Baik, Dia tidak membiarkanku lama-lama hilang arah. Aku tersadar sesuatu.
Aku tersadar bahwa aku pernah salah karena mencintai seseorang lebih besar daripada rasa cintaku padaNya.
Aku tersadar pula bahwa mengapa aku pernah begitu sibuk mencari jawaban atas pertanyaanku tapi tidak melibatkan Tuhan, dan justru malah sibuk menanyai makhlukNya? Aku pernah sepayah itu kehilanganmu.
Setelah melalui segala-pernah yang aku alami; jatuh, bangkit, berantakan, berdiri tegap, goyah, dan cinta, kini aku menyerahkan dan memasrahkan segala urusan tentang kita padaNya.
Tuhan memilihkanmu setelah aku meminta dipilihkan yang terbaik menurut versiNya. Tuhan menjawab doaku setelah aku pernah mencoba belajar merasakan nyaman dan mempercayai hati yang selain kamu, di hati yang mungkin jauh lebih baik darimu, di hati yang mungkin lebih bijak darimu. Tapi kenyataanya, selalu padamu hatiku tertaut. Aku pernah berdoa agar hatiku tertaut olehnya yang di dalam doanya, aku tidak pernah luput. Lalu padamu, hatiku selalu tertaut. Doaku terjawab, kan?
Terima kasih sudah berkata sejujur ini. Terima kasih sudah mengutarakan sejelas-jelasnya segala isi hati. Kini aku tahu apa yang bersembunyi di dalam hatimu.
Lekas kemari, temui orang tuaku, mintalah restunya. Atau jika menurutmu belum waktunya, aku akan menunggu. Pastikan dengan sikap dan doa-doamu bahwa kita akan kesana, menuju tujuan yang sama.