LABELED MIND
Dulu, sewaktu ramai orang mengutuk serangan Israel di Gaza, bahkan presiden Jokowi pun tidak ketinggalan ikut mengutuk Israel. Gw mengingatkan bahwa, beberapa hari sebelumnya ada juga pembantaian di Paniai, Papua, yang sepi dari pemberitaan. Gw ingatkan bahwa Humanity itu Universal .....Ujung2nya gw ikutan dituduh sebagai antek zionis, Islam Kafir, dll....
Sekarang, sewaktu gw melihat pemberitaan media barat mengenai tragedi Perancis yang disusul dengan aktifitas public relation yang masive, disokong oleh Facebook sebagai social media terbesar di dunia, kembali gw ingatkan untuk tidak menjadi bagian dari aksi propaganda mengatas namakan kemanusiaan. Be Silent....It’s Much Better than be Stupid...I said. Walhasil kembali datang berbagai respon seperti..”Dasar orang islam norak”, “Islam terbelakang”, “Anti Kemanusiaan”...”Emang lu dah pinter apa?” dan lain sebagainya.
Padahal maksud gw, silahkan berduka untuk kemanusiaan, tapi jangan ikut2an dalam kampanye mereka. Why? Karena kita menolak jadi bagian dari sebuah kampanye yang berkedok kemanusiaan yang mungkin saja nantinya akan berujung pada sebuah aksi militer atau intelijen. Ingat apa yang terjadi di Irak, sebuah negeri berdaulat yang tumbang hanya gara-gara propaganda Senjata Pemusnah Massal yang tidak pernah terbukti. Ujung2nya adalah penguasaan sumur-sumur minyak oleh negara-negara barat. Ini fakta...bukan teori konspirasi sebagaimana yang sering dituduhkan oleh haters.
Semua orang yang tahu cara kerja di dunia Public Relation pasti paham bahwa kampanye berkedok kepedulian ini sama sekali tidak spontan.
Kenapa sih ada tragedi kemanusiaan?
Karena kita belum bisa lepas menilai sesama kita dari label yang telah kita lekatkan kepada mereka......label bahwa dia orang yahudi, kristen, islam, syiah, sunni, wahabi, perancis, amerika, israel, rusia, jawa, batak, sunda dan lain sebagainya....label ini yang kemudian kita putuskan untuk kita cintai atau kita benci. Love or Hate......
proses filter pikiran melalui labeling or stereotyping ini tadinya mungkin sederhana dan asik buat lucu-lucuan aja seperti misal “jangan nikah sama cewek dari suku tertentu, karena mereka matre”, “jangan percaya orang ini, mereka licik”, dan lain sebagainya....label yang tadinya dibuat untuk mempermudah proses pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari hari (entah akurat apa tidak) lama-lama berkembang menjadi keputusan untuk Love or Hate.
Berjuang untuk kemanusiaan artinya harus membebaskan pikiran kita dari label kebangsaan, negara, kesukuan, agama, ras, aliansi politik dan lain sebagainya. Karena pemaknaan sempit atas label-label inilah yang menjadi penyebab utama dari hampir seluruh Tragedi Kemanusiaan yang ada di muka bumi. Manusia adalah manusia. Titik.
Atas dasar ini kenapa gw gak pernah bisa mentoleransi pembantaian tahun 1965-1970 baik yang dilakukan oleh PKI maupun oleh TNI, baik yang mengatas namakan bangsa dan negara maupun yang mengatas namakan revolusi. Pembantaian ya pembantaian....yang jadi korban itu bukan kyai, komunis, tentara, atau petani...yang jadi korban itu Manusia.
Nah sekarang bagaimana bisa anda menyatakan kepedulian atas kemanusiaan dengan cara memberikan label berupa warna bendera sebuah bangsa tertentu?
atau mungkin demi menyatakan solidaritas terhadap pembantaian kaum komunis anda perlu memasang bendera merah dengan simbol palu dan arit?
Bendera Negara atau simbol golongan apapun tidak akan pernah relevan dengan kemanusiaan....
Intinya....
You cannot solve the problem with the same level of thinking that created it.
This is the Golden Rule of Problem Solving........
So yes it is your prerogative right to use it in your profile picture.....and I never urge you to change it...I’m just saying it’s stupid....because it would be counterproductive if what you fight for is Humanity....















