Bercermin -
Belakangan ini marak kejadian terorisme yang mengatasnamakan “jihad” atau demi mencapai “kebenaran” versi mereka. Tak sedikit pula orang-orang yang mengutip ayat-ayat kitab suci secara terpisah-pisah sebagai pembenaran-pembenaran atas perbuatan mereka. Kebetulan saja mereka yang notabene pelaku adalah orang-orang dengan “agama” tertentu, sehingga terkesanlah suatu agama membenci agama lain. Padahal seperti yang diklarifikasi oleh banyak pemuka agama, bahwa tidak ada satupun agama yang mengajarkan kekerasan. Lalu, apakah kebencian itu dapat “menular”?
Saya pernah bekerjasama dengan salah satu badan pemerintah yang bergerak khusus menangani terorisme. Saya sempat berkeliling Lapas untuk Program Deradikalisasi menemui para Napiter (Narapidana Teroris) di beberapa pulau di Indonesia. Mereka menyambut saya, mereka kemudian juga mulai terbuka untuk menceritakan latar belakang mereka dalam melakukan aksi-aksi teror. Dari semua orang yang saya temui, ternyata saya menemukan satu persamaan bahwa ada kegelisahan dan kekecewaan besar yang mereka alami salah satunya adalah karena faktor “benci” dan “sakit hati”. Orang yang kita nilai bengis; kejam; kasar; dan biadab ini adalah mereka yang pada awalnya sangat menghormati satu sama lain, hidup rukun di Poso tanpa memandang perbedaan agama. Hingga sampai suatu saat banyak faktor politik serta kerusuhan yang terjadi diantara mereka. Salah satu Napiter yang saya temui adalah pelaku pemenggalan kepala siswi SMA Kristen yang kemudian menaruh kepalanya di salah satu gereja. Lainnya lagi dengan segala tuntutan perakitan bom dan penusukan polisi. Ada pula salah satu dari mereka yang sempat bersembunyi karena menyaksikan langsung kakaknya mati ditembak persis di pelipis, lalu ia menemukan jenazah ibu hamil tetangganya di tepi sungai dengan isi janin yang sudah diganti dengan bangkai kucing. Dendam menyelimuti hatinya semenjak itu. Se’sadis’ itukah manusia? Singkat cerita, kekejaman dan kengerian yang mereka alami tersebut lalu dibumbui dengan “ujaran kebencian” oleh pihak-pihak tertentu yang telah ditanamkan sejak masih muda dan turun temurun demi suatu kepentingan.
Apakah hanya dalam kelompok agama saja’kah? Saya rasa tidak. “Ujaran kebencian” bisa berawal dari sekedar membicarakan keburukan orang lain atau bahkan mengarang bebas demi mendapatkan “sekutu”. Dalam lingkungan keluarga, anak bisa membenci orangtua; bisa juga membenci saudaranya karena sering dibandingkan satu dengan yang lain. Dalam lingkungan sekolah, perilaku “bullying” mampu mengubah perangai anak penuh dengan kebencian dan amarah. Dalam lingkungan pekerjaan apalagi…. Tak jarang kita menemukan “ujaran kebencian” dengan berbagai macam tujuan. Ada yang bertujuan demi kemajuan karir diri sendiri; ada yang ingin menjatuhkan orang lain; ada pula yang memang secara tidak sadar ikut ke dalam arus. Ada yang mengatakan kebenaran secara sepotong-sepotong; ada yang mengarang demi kepuasan pribadi. Pernahkah kita melakukannya? Hanya diri kita masing-masing yang tahu. Jika ada pepatah mengatakan “Fitnah lebih kejam dari membunuh”, maka lebih menyeramkan siapa? Kita atau para Napiter yang tadi saya ceritakan?
Saat kita tidak menyukai pantulan yang kita lihat di cermin, bukan cermin’nya yang salah melainkan kita yang perlu bersolek agar tampak lebih menarik.
Sama hal’nya saat kita tidak menyukai apa yang kita lihat di dunia atau disekitar kita, bukan dunia’nya yang salah melainkan sudut pandang kita yang perlu diubah agar lebih indah.
Sulit? Ya…
Bisakah berdamai? Percaya saja..
-21 Mei 2018-
Saya.










