egois yang hakiki
dulu, saya hampir selalu memiliki ekspektasi yang tinggi kepada orang-orang terdekat: keluarga, sahabat, dan rekan kerja.
saya sering merasa kecewa jika mereka membuat keputusan-keputusan penting yang tidak sejalan dengan keinginan saya.
padahal, keinginan saya tersebut adalah bentuk kepedulian saya, untuk kebaikan mereka. sema sekali tidak ada kepentingan lain, selain itu.
“saya hanya peduli. tidak kurang, tidak lebih”
---
hari berjalan. asam-manis-asin-pahit-nya hidup semakin pekat, membersamai detik-detik menuanya waktu.
---
saya kecewa jika mereka merasa lelah, sedih, ingin menyerah. saya merasa harus menjadi orang no #1 agar mereka bisa bangkit lagi.
saya berkecil hati jika mereka marah, kesal karena sikap saya.
dan saya sedih jika pada akhirnya mereka pergi, memilih jalan yang lain.
sampai pada satu momen saya menyadari... boom!
peduli berlebihan, sampai menggantungkan kebahagiaan saya pada pilihan hidup dan sikap orang lain adalah keegoisan yang hakiki.
ternyata kepedulian saya hanya untuk kepentingan saya pribadi?
jangan-jangan, saya hanya memikirkan diri sendiri agar saya tidak kecewa ketika tau mereka dalam keadaan sulit dan tidak bahagia menurut ukuran saya.
padahal definisi bahagia itu relatif, melekat pada masing-masing individu. kita bisa saja memiliki definisi yang sama, tapi yang berbeda definisi belum tentu tidak bahagia.
yaa..
ternyata saya mudah kecewa karena sulit menghargai.
padahal saya wajib menghargai perasaan marah dan jengkelnya mereka, dengan atau tanpa sebab yang jelas.
saya belajar juga untuk bisa menghargai pilihan sikap yang paling sederhana sampai keputusan hidup yang kompleks dari mereka.
saya tidak ingin kebahagiaan saya bergantung pada sikap orang lain, dan saya tidak ingin orang terdekat terbebani karena ekspektasi yang tinggi dari saya.
kita bisa saling menghargai, sehingga tidak ada lagi egois berbalut kasih, egois yang hakiki.
---
Note: Ini adalah refleksi pribadi, kamu boleh tidak sepakat :)
Depok, 26 Mei 2020, 11:26PM










