#baweljadicerita
Diary Lagi
Kamis, 25 Juni 2020
Pada akhirnya. Mendengarkan Ia tidak pernah salah. Selalu. Harusnya sejak dari awal. Tapi Aku ragu. Karena otak Aku banyak. Seperti cabang olahraga. Kegiatannya sangat sangat bisa bermain fisik lalu juga bisa dihabiskannya. Kata Kamu-pun, mendengarkan, dengarkan maksud Ia. Akunya ngeyel. Nyeleneh kata orang daerah. Aku selalu seperti itu. Hingga ada pada titik kamu mulai makin tidak fokus. Aku kamu salahkan Ia kenapa tidak lebih jujur? Padahal Ia selalu terus terang. Aku yang bodoh kamu.
Ini terus berlarut-larut. Aku semakin kelimpungan. Sudah banyak dari Kamu seakan pahlawan kesiangan. Padahal bisikanmu yang memicu jahat Aku. Tolong. Haruskah begitu ku teriakkan? Tidak pantas. Aku menunjukkan kelemahan. Tapi sok kuat juga tidak baik untuk kesehatanku. Apa-apa menjadi khawatir. Menangislah tapi jangan terlalu keras. Marahlah padaku tapi jangan sampai pitam. Tidak boleh menyalahkan diri Aku. Meskipun sebegitu tidak baiknya sikapku. Saat disinilah kamu ingat apa yang Ia katakan. Tidak jarang malah jadi bahan untuk menyalahkan. Padahal Ia tidak pernah melakukan apa-apa terhadapmu. Bagaimana? Masih berapa lama egoisme mu??
Bukan sering lagi, tapi memang sudah menjadi biasanya menyalahkan itu dalam dirimu. Padahal kamu tahu Tuhan tidak menciptakan manusia sempurna tapi memberikan apa-apa dengan sebaik sesempurna mungkin, sesuai porsinya. Aku tahu. Tapi kenapa dihantui selalu? Tanya pada diri.
Diri ini seperti ukiran Tuhan. Bagaimana Tuhan sudah menggariskan mu akan memiliki hidung seperti apa, bagaimana fisik mu. Indahnya diri yang dilestarikan atau tidak. Semua sudah memiliki garis-garis itu. Tinggal bagaimana kamu mengatur amarah dari marah yang Tuhan porsikan, apakah akan menjadi luka orang lain atau mendewasakan indahnya dirimu. Sesungguhnya,lagi, Kamu tidak bisa mengatasi Aku. Karena yang ada di posisi ini adalah Aku. Kamu hanya bagian dari persis. Tidak menjamin, walau sebagiannya Kamu juga bisa menjadi penenang untuk Aku. Kamu yang pasti ku cari. Ada yang sudah ku tuliskan Kamu akan mengerti dan Kamu yang hanya mendengarkan dan menyediakan peluk. Ini sangat pelik. Jika Aku biarkan berlarut-larut. Banyak mengingat, meresapi dan akhiri respon pada Nya. Tidak ada Ia yang tidak baik. Aku saja yang khawatirnya keras kepala. Aku jahat padamu, maafkan, apakah Ia akan? :(((
Sesungguhnya Kamu itu tidak pernah benar-benar tahu walau mungkin mengerti iya. Tapi Ia pada Aku yang selalu selalu baik. (:













