(Self-Talk) Warisan Cerai?
Gue selalu suka moment ngobrol berdua dengan ibuk.
Seperti semalam, saat ibuk menanyakan dengan siapa gue lagi dekat sekarang. Terus kemudian gue curhat panjang lebar, tentang Andris yang tiba-tiba muncul dan mulai suka ngechat random, tentang mas-mas yang sumpah orangnya positif banget padahal kondisi kami sama (gue sampe pengen bilang makasih langsung ke orangmya dan nraktir kopi di GWK, tapi nggak nemu waktu yang pas huhu) dan beberapa orang yang keliatannya pengen serius sama gue tapi guenya lagi nyaman sendirian. Sampai akhirnya gue cerita tentang seseorang yang nanyain pertanyaan yang paling gue kutuk seumur hidup;
"Kalau orang tuanya cerai, apakah bakal nurun ke anaknya dan bakal ikutan cerai juga?"
Gue ngomongnya sambil berkaca-kaca. Aseli ngga kuat. Ibuk pun keliatan kayak sedih karena mungkin merasa bersalah. Ibuk bilang, "apapun yang terjadi, ben tak songgo-indit dewe. Siapa sih yang mau cerai? Itu keputusan Tuhan, ibuk cuma manut pakem. Ibuk juga nggak mau anak-cucu ibuk ngalamin hal yang sama. Nggak usah tersugesti buat percaya, ya? Kamu adalah kamu, ibuk ya ibuk. Ngga ada hubungannya takdir kita bakal sama."
Dan gue nangis. Ini yang pernah nanya ginian ke gue, tau nggak sih gimana nggak enaknya ditanyain kayak gitu? Imbasnya bukan cuma ke gue, tapi keluarga gue juga. Secinta apapun lo ke gue, kalo buat ngertiin perasaan gue dengan nggak nanya-nanya hal sensitif kayak gini aja lo nggak bisa, ya gimana? Bayangin aja sih, gue dan ibuk belasan tahun berusaha nyembuhin luka itu, tiba-tiba aja gitu ujug-ujug dateng orang nanya kayak gitu tapi kesannya bukan nanya, apa ya? Lebih kayak ngejudge tanpa dasar. Seakan nasib gue dia tahu banget ke depannya bakal kayak gimana, padahal dia bukan siapa-siapa. Kehadirannya di hidup gue juga baru beberapa bulan. Dan beneran, sebaik apapun dia, gue seketika langsung kehilangan respect.
Buat serius sama seseorang, bahkan sampai memutuskan si A, si B, atau si C untuk jadi teman hidup or jodoh, cinta aja nggak cukup, merasa dia orang baik aja nggak cukup, nyaman aja nggak cukup. Banyak orang yang mendekat terpaksa gue libas secepatnya karena sebagian dari mereka belum apa-apa sudah merasa wajar menyentuh privasi-privasi gue. Belum lagi hal-hal kecil yang mungkin bagi mereka sepele, tapi buat gue nggak. Ya misalnya aja kayak pertanyaan tadi, imbasnya menyakitkan buat gue dan ibuk. Jadi nggak bersyukur lagi karena mengingat kejadian di masa lalu yang bikin keadaan gue terombang-ambing. Dan itu nggak sesepele yang orang lain kira.
Ini bukan sok bener masih piyik sok-sok'an ngomongin hubungan yang serius, tapi ya gimana ya?
Gue tahu, setiap orang tua selalu ingin anaknya mendapat yang terbaik. Baik itu pendidikan, pekerjaan, ataupun jodoh. Kalau lo takut dengan statement anak dari keluarga brokenhome akan berakhir dengan brokenhome juga, atau anak yang orang tuanya meninggal salah satu, dia akan buruk pendidikannya. Ya udah, ngga usah cari pasangan dari kategori tadi. Daripada lo malah nyakitin mereka karena lo merasa takut dan karena pengen menyakinkan diri lo, lo malah nanya-nanya hal yang nggak wajar buat ditanyain ke mereka. Karena lo nggak akan pernah tahu, seberat apa hidup yang mereka lalui.
Lebih baik mundur teratur sebelum lo semakin jauh dan justru nyesel lalu nyalahin mereka.
Ya gue nggak ngerti aja sih, yang dia pikirkan ketika nanya itu ke gue apa?
Ibuk seketika nyuruh gue buat ngejauh, ya, padahal gue emang udah ngejauh lama karena udah nggak respect banget. Gue mending ngga usah deket-deket orang yang bahkan menyebut keadaan gue ini kutukan. Menyakitkan, lo.
Gue akan sekeras mungkin menjauhkan orang semacam itu dari circle kehidupan gue. Nggak peduli seberapa jahatnya gue ketika menjauhkan dia. Daripada nanti dia semakin menyakiti gue dan gue malah tergerak untuk menjadi jahat. Bukankah lebih baik menjaga jarak?
Lucu aja, di saat gue berusaha yakin untuk menikah suatu saat karena bapak-ibuk berulangkali meyakinkan bahwa apa yang mereka alami nggak akan terjadi juga ke gue, eh, di belahan bumi sebelah ada manusia yang seenaknya mematahka keyakinan gue dengan judgement tanpa alasan dan dasar yang jelas dan kuat. Kalau gue misuh-misuh salah nggak sih?

















