Sekumpulan Entah
Semuanya berjalan seperti kutukan. Kesalahan demi kesalahan yang tidak seharusnya dilakukan justru membenamkan diri dalam kegelapan yang tak berujung. Titik jemu melambai-lambai di depan mata. Tidak lagi bisa diam, apalagi menahan. Di balik dada, riuh keinginan untuk berteriak. hai, gelap mengapa semakin hari kau semakin menenangkan? Dramaturgi paling bodoh kembali terulang. Mengorbankan air mata dan darah demi sebuah penyangkalan. Demi kelelahan yang ingin dienyahkan. Dan sederet demi yang lainnya. ada yang ingin kaukatakan padaku? katakan, aku akan mendengarkan sampai pagi. jangan ragu! Sudah dibuang seluruh gengsi dan cemas, sembari mengesampingkan iba dan sadar. Katakan saja, apakah ini semua benar selesai atau hanya aku saja yang merasa semuanya selesai. Tirai dijatuhkan. Habis lakon. Lakumu, lakuku, luka kita, adalah penghujung pertunjukan. Bukan begitu? satu-satu dari kita kehilangan kata yang tak lagi bisa bersatu dan utuh. hanya tersisa bisu yang juga kehilangan isyarat. ya? Tidak ada yang tak bisa dipilih. Hidup pun kita selalu dihadapkan pada banyak pilihan. Mau hidup selamanya atau mati muda. Meninggalkan atau ditinggalkan. Memilih atau dipilih. Membenci atau dibenci. Mengabaikan atau diabaikan. Kalau aku, lebih memilih mengabaikan. Kau tahu, aku lebih suka menjadi subjek daripada objek. hutan tidak pernah mengutuk ketika manusia menjajah tubuhnya. semestalah yang bekerja; memberi imbalan pada manusia. di kepalaku, hutan tumbuh lebat. kau mau merusaknya, kah? Kematian selalu terdengar menyenangkan bagi sebagian manusia. Ada kelegaan begitu nyawa terlepas dari badan. Meski setelahnya banyak beban yang akan kembali dipikul. Ada penerimaan yang lebih leluasa untuk dipercaya. Kau pilih mana? Mendengar kematian atau kepamitan? debu-debu akan merayakan kekosongan dengan bahagia. mereka memiliki ruang yang luas untuk eksistensinya. kau, jangan kosong, ya! Kau yang lain. Pernahkah terbesit di kepalamu bahwa terlaku memaksa hati akan mengakibatkan kematian? Entah hatimu atau hatinya yang mati. Maka berhati-hatilah. Hatimu atau hatinya menjadi taruhan. Taruhan antara kewarasan dan kegilaan. Sungguh, aku tidak bercanda. aku mau saja tersesat dalam belantara hatimu tapi tunggu sepertinya aku sedang tersesat dalam hatiku sendiri bagaimana ini? © intanrahayu | Tirtoasri, 14063017












