“Halo, Nduk. Sori lagi ngabari”
“Oke, Nduk. Ketemu di situ yo”
“Sip, Nduk. Opsi kedua mawon yo”
“Ojo lali sarapan yo, Nduk”
Seorang sahabat memperkenalkan seseorang yang aku kagumi. Yang selama itu selalu tak sempat atau belum beruntung melihat langsung pertunjukannya. Seorang sahabat itu pernah berkata kurang lebih seperti ini “Tenang, semesta belum mendukung, suatu saat kamu pasti dipertemukan” Aku hanya tersenyum kecut seraya mengamini perkataannya. Dan memang, Tuhan menjawab perkataan seorang sahabat itu. Tanpa diduga seorang sahabat itu mengirim pesan untuk meminta izin kepadaku untuk memberikan nomerku ke seseorang yang aku kagumi tersebut. Lagi-lagi Tuhan baik hati kepadaku. Aku diberi kesempatan untuk bekerja sama dengan seseorang yang aku kagumi itu. Tentu saja perasaan ini campur aduk. Ada rasa bahagia karena bisa mengenal lebih banyak dengan orang yang aku kagumi ini. Ada perasaan khawatir karena aku merasa aku belum bisa maksimal terhadap pekerjaanku. Semua terhapus ketika orang yang aku kagumi ini memanggilku dengan “Nduk”. Panggilan orang tua kepada anaknya kurang lebih. Atau panggilan seorang kakak kepada adiknya, aku memilih mengamini opsi kedua. Lelaki yang memanggilku dengan “Nduk” sebelum ini adalah Bapak. Ada rasa tentram, rindu, nyaman tentunya. Orang yang aku kagumi itu menganggapku seperti adik perempuannya. Terima kasih.
Rizki itu mengalir melalui kepanjangantangan dari Tuhan melalui seorang sahabat. Selalu diberi rizki yang nikmat, rizki yang halal, rizki yang tak terputus untuk seorang sahabat. Rizki materi dan rizki pertemanan. Segala sesuatu yang dipakai untuk memelihara kehidupan. Pun untuk orang yang aku kagumi.
Bahagia kehidupan, bahagia kehidupan.