"Setidaknya merangkak jauh lebih baik daripada tetap duduk bukan?"
Sebuah tulisan yang kebetulan terbaca di beranda Facebook yang sudah lama tidak di buka. Benar sekali apa yang dikatakan pemilik akun tersebut. Seorang teman di dunia Maya yang rajin saya ikuti sejak kemunculannya di beberapa proyek antologi cerpen maupun puisi. Hari ini setelah melewati banyak pergumulan hidup yang cukup menguras pikiran. Saya mulai merenungi langkah kaki yang tak terasa sudah menapaki tahun ke tiga dengan amanah yang berbeda.
Setelah merasakan euforia luar biasa atas karya yang ditulis dengan waktu singkat namun begitu memikat. Dua tulisan yang lahir di sebuah halte di pinggir jalan utama kabupaten Magelang saat menunggu teman untuk kepentingan mengawas bersama di luar sekolah. Setelah berhasil melewati fase ini hati saya begitu bahagia karena mampu kembali aktif dalam dunia tulis menulis setelah vakum cukup lama. Respon suami juga begitu antusias menandakan apa yang saya lakukan diridhoi olehnya. Keinginan kuat untuk bisa memiliki karya solo sendiri kembali mengisi. Dengan tetap rajin menulis setidaknya saya tidak hanya berdiam diri dalam menggapai keinginan tadi. Hajat besar "satu buku sebelum mati" kembali mendapatkan porsi pada hidup yang saya jalani.
Memang terkadang dalam mengejar apa yang sangat kita inginkan tak dapat dipungkiri kita kerap mengedepankan hawa nafsu hingga melupakan inti utama dari apa yang menjadi tujuan kita . Setelah begitu lelah berlari saya terhenti sejenak untuk kembali merefresh tujuan sebenarnya saya menulis. Kembali saat menunggu teman di halte saya menghabiskan surat-surat dari saudara yang belum pernah bertatap muka dengan saya namun terasa begitu dekat. Surat-surat yang membuat saya membisu pada satu titik itu.
"Apa tujuan sebenarnya kita hidup? Apa tujuan utama kita bekerja? Untuk jadi kaya? Terus kalau sudah kaya apa? Apa lagi?" Kurang lebih isi dari surat yang dikirim adalah tentang pertanyaan mendasar tujuan kita melakukan sesuatu. Saya kemudian berpikir jangan-jangan dalam mengejar mimpi ini saya begitu bernafsu? Begitu berambisi hingga lupa tujuan utamanya apa? Jangan-jangan selama hidup yang di kejar hanya dunia saja?
Astaghfirullohaladzim... selama ini saya terkadang lebih fokus akan hal-hal yang tampak di mata namun tidak mendalam hingga jiwa. Selama ini saya hanya sibuk memikirkan diri sendiri tanpa bisa menjadi bermakna untuk sesama. Malam ini setelah melakukan perhitungan juga pencatatan detail pengeluaran ada banyak pos yang seharusnya tidak terisi namun saya paksakan. Ada beberapa unsur pemborosan di sana.
"Kamu terlalu konsumtif. Kapan kamu berubah mengurangi keinginanmu itu?" Suami yang sedari tadi seolah tidak peduli tenyata menyimak kegiatan saya.
"He.. ya mas. Maaf" hanya itu yang bisa terucap dari mulut saya. Ya selama ini suami selalu mengajak kepada hal-hal positif. Kepada perubahan yang lebih baik. Tapi saya cenderung pasif susah sekali diajak ke arah yang lebih baik.
Namun secara tidak langsung saya menemukan tujuan utama hidup yang lama tidak nampak dalam hidup saya. Saya ingin menjadi perempuan yang lebih baik lagi. Memperbaiki gaya hidup, pemikiran, perilaku juga memperkuat iman yang kadang belum benar-benar saya terapkan. Lama sekali saya menyadari apa-apa yang sudah disampaikan suami. Juga hal-hal baik yang sebenarnya sudah ditunjukkan oleh Allah langsung.
Setidaknya merangkak lebih baik daripada diam bukan?
Saya sedang merangkak untuk menjadi perempuan yang berdaya. Perempuan yang mampu menjalankan fitrahnya dengan sebaik-baiknya. Menyelesaikan mimpi tanpa ambisi dan tetap melakoni peran yang digariskan oleh illahi dengan setulus hati.
Borobudur, 8 April 2019
Semangat berubah











