Pensamento não paga imposto! Nunca pare de questionar o mundo e as coisas ao seu redor! #arquitetura #urbanismo #souufal #semau #delegakariri (en Faculdade de Arquitetura e Urbanismo - FAU UFAL)

seen from Taiwan
seen from United States
seen from United States
seen from Belgium
seen from Germany
seen from China

seen from United States
seen from Nepal
seen from United Kingdom
seen from Brazil
seen from Albania
seen from Italy
seen from United States
seen from Germany

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
Pensamento não paga imposto! Nunca pare de questionar o mundo e as coisas ao seu redor! #arquitetura #urbanismo #souufal #semau #delegakariri (en Faculdade de Arquitetura e Urbanismo - FAU UFAL)
Kami tiba di Semau pukul 10.04 #eksploresemau #semauisland #pulausemau #semau
Pulau Semau, Kupang NTT Jumat, 25 Juli 2014
Pertama kali tau tentang Semau dari instagramnya @lostpacker yang lagi #LostInRide. Cari info sana sini yang masih sangat minim (yang ada malah berita buaya di laut, coba aja cari) dan akhirnya berkesempatan ke sana.
Pulau Semau terletak di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Kita bisa menikmati pemandangan Pulau Semau dari atas pesawat sesaat sebelum mendarat di Bandara El Tari Kupang. Untuk mencapai Pulau Semau, kita harus naik kapal nelayan dari Pelabuhan Tenau. Tidak perlu masuk ke gedung pelabuhan, kapal ke Semau menunggu di sisi luar gedung. Tarif kapal sebesar 15 ribu rupiah. Kalau mau membawa motor juga bisa, tarifnya 40 ribu rupiah per motor, ditambah dengan 5 ribu rupiah untuk orang yang membantu mengangkat motor ke atas kapal. Katanya, kapal paling pagi ke Semau adalah jam 7 pagi.
Masyarakat Kupang sendiri tidak banyak yang tahu bahwa ada keindahan di balik pulau ini. Pulau ini justru terkenal dengan suangginya (semacam setan atau orang yang punya ilmu sihir) dan terkesan mistis. Pulau ini juga sangat kering, tapi ternyata mempunyai pantai yang cantik.
Sebelum menyeberang ke Semau, sebaiknya sempatkanlah membawa bekal nasi. Karena di sana tidak ada warung makan. Ada satu tempat makan yang terkenal di Tenau, dekat dengan pelabuhan. Namanya Kuah Ikan Tenau. Kata teman-teman enak, tapi karena saya tidak suka ikan laut, saya memesan nasi daging sapi, yang terasa sangat enak di makan di Semau setelah selesai berkeliling sambil menunggu kapal kembali ke Kupang. Maklum kelaparan.
Tiba di Pulau Semau, banyak ojek yang menawarkan jasanya. Saya dan ayulasa berkeliling Pulau Semau ditemani Eman dan ayahnya, berdasarkan info dari Tina (tinasiringoringo.blogspot.com - thanks Tina!). Sebenarnya ngga keliling juga sih, berhubung waktu terbatas kami hanya sempat mengunjungi 2 pantai yang katanya paling cantik. Pantai Bukit Liman dan Pantai Otan.
Jalanan di sini sebagian besar masih jalan tanah yang berdebu. Beberapa ruas jalan sudah diaspal. Beberapa masih bagus, beberapa sudah banyak yang rusak sehingga tidak ada bedanya dengan jalan yang belum diaspal. Pemandangan di sepanjang jalan begitu kering. Masyarakat berkumpul dan membangun rumah-rumah di daerah yang ada sumber airnya. Kami melewati sebuah puskesmas yang tampak ramai dengan pasien, tapi ternyata tidak ada dokternya. Jadi membayangkan kalau ditugaskan di Semau kayanya bakal makin kurus hehehe. Kedua pantai yang kami kunjungi berada di sisi yang berkebalikan dari pelabuhan tempat kami turun dari kapal. Kalau istilah kedokterannya sih kontralateral hehe.
Memasuki wilayah pantai kami disuguhi pemandangan cantik. Kami menyusuri tepi pantai untuk menuju Pantai Bukit Liman. Tidak ada penduduk di sepanjang jalan. Hanya beberapa rumah yang digunakan untuk menjemur rumput laut. Makin lama jalan makin hilang dan hanya tersisa jalan setapak. Tidak ada petunjuk jalan sama sekali. Jadi kalau mau ke sini sebaiknya ajaklah penduduk setempat,
Akhirnya kami tiba di Pantai Bukit Liman. Disebut begitu karena memang ada bukitnya. Dan naik ke atas bukit tidak jalan kaki melainkan naik motor. Offroad! Tapi tenang saja, Eman dan ayahnya sudah lihai membawa kendaraannya sampai atas bukit. Dan pemandangan di atas sini memang cantik. Lebih bagus dari pada yang kami lihat di foto.
Puas berjemur di atas bukit, kami lalu turun dan menikmati pantainya. Pasirnya terlihat coklat agak kemerahan. Kami bilang ini pink beachnya Semau. Sangat bersih dan sangat menyenangkan untuk camping.
Masih menyusuri pantai, kami menuju ke Pantai Otan sambil singgah di beberapa tempat untuk foto-foto.
Pantai Otan juga cantik, namun lebih dekat dengan perkampungan. Pantai Otan juga digunakan untuk budidaya rumput laut dan mutiara.
Puas sekali rasanya bisa mengunjungi Pulau Semau. Bisa dilihat sendiri keindahannya melalui foto-foto di atas. Dan bisa dilihat sendiri secara langsung dengan mengunjungi Semau. Pantai-pantainya masih sangat alami.
Dengan tulisan ini, semoga lebih banyak orang yang mau berkunjung ke Semau tapi dengan harapan yang besar juga bahwa mereka yang berkunjung ke sana bisa membantu tetap menjaga kelestariannya. Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi Semau Community Center (http://www.semauisland.com)
Thanks to Ayu, Golden, Manto, Eman and Tina