(Trigger warning: Cerita berikut mengandung konten sensitif, silakan diabaikan jika merasa tidak nyaman. Terima kasih)
Tito meringis kesakitan. Darah segar mengalir dari pelipis kanannya. Sembari meringis, ia tidak sanggup menatap Leia, yang sedang mengayunkan sebilah pisau kecil di hadapannya.
Darah yang mengucur itu, adalah hasil dari perbuatan Leia.
Leia tersenyum tipis diikuti dengan seringai dari bibirnya. Ia berjongkok, memandangi Tito yang tersungkur dengan tatapan kosong. Penampilannya sudah tidak karuan; garis wajahnya yang tegas dan biasanya penuh dengan pesona itu kini penuh debu, tubuhnya lusuh akibat bergerumul dengan Leia yang memukulinya dengan kasar. Tangannya terikat.
"Kau..." ucap Tito. "Apa yang kau inginkan sebenarnya?" lanjutnya. Suaranya parau. Tubuh Leia mungkin tidak lebih besar darinya karena ia perempuan, namun pukulannya barusan mampu membuat Tito tak sanggup hanya untuk sekedar membangunkan dirinya dengan benar.
Sebenarnya, mungkin yang membuat Tito tak sanggup untuk bangun adalah egonya yang merasa terluka oleh perbuatan Leia. Meski begitu, rasa takut lebih menguasainya setelah melihat Leia mengacungkan pisaunya.
"Huh," Leia mendengus. "Setelah apa yang telah kau perbuat, kau masih bertanya apa yang aku inginkan?" tanyanya.
"Jelas aku menginginkanmu untuk mati!" lanjut Leia.
Beberapa saat, suasana hening.
"Aku kan sudah minta maaf!" Tito mengumpulkan sisa tenaganya untuk menjawab Leia. Belum ada beberapa detik, tangan Leia sudah mendarat di pipi Tito dengan kasar.
"Minta maaf katamu," ucap Leia dingin. Ia mendekatkan wajahnya pada Tito yang ketakutan, menempelkan pisaunya pada pipi Tito yang barusan ditamparnya.
Kata maaf yang diucapkan Tito sungguh sudah tak berarti lagi bagi Leia. Rasa sakit yang dipendamnya selama setahun belakangan lebih besar daripada perbuatannya pada Tito saat ini.
Tito adalah rekan kerjanya di kantor. Mereka berbeda tim, namun letak duduk mereka tidak jauh. Jauh beberapa bulan sebelumnya, Tito yang terkenal sebagai don juan itu sudah lama mendekati Leia, namun tak kunjung berhasil.
Siapa yang tak kenal Tito? Reputasinya dalam pekerjaan sangat baik. Ia sering me-goal kan proyek-proyek yang selalu dipercayakan oleh bos mereka. Fisiknya yang terbilang sempurna, membuatnya hampir tak pernah ditolak oleh wanita manapun, tetapi tidak dengan Leia.
Leia tak pernah tertarik pada bualan Tito. Kehidupan hingar-bingar, seperti dunia malam... Dan tentu saja... Seks - yang menjadi makanan sehari-hari Tito, sangat tidak menarik untuk Leia.
Baginya, Tito sama saja seperti tipikal pria-pria brengsek yang sangat ia hindari. Maka dari itu, rayuan Tito tak pernah ia tanggapi.
Hingga suatu hari, mimpi buruk dalam hidup Leia terjadi.
Hari itu, Leia lembur karena pekerjaannya yang banyak sekali dan membuatnya terpaksa untuk pulang agak larut. Baginya, kesunyian kantor tidak lebih seram dibandingkan makian bosnya jika pekerjaannya tidak selesai.
Saat pekerjaannya hampir selesai, suara lift lantai 40 itu berbunyi. Ternyata Tito. Dengan langkah sedikit tergesa, ia menghampiri mejanya.
"Lho To," ucap Leia ketika melihat Tito. "Ada apa?" tanyanya.
"Eh Lei," jawab Tito. "Ini, ada beberapa barang ketinggalan di laci. Besok mau dibawa ke apartemen baru soalnya."
"Oh..." kata Leia sambil mengangguk. Ia kembali menatap layar komputernya. "Ku pikir ada apa, sudah malam gini kok balik ke kantor lagi."
Tito menghampiri meja Leia. Bau rokok menguar dari kemejanya yang sudah tak lagi rapi.
"Kau sendiri kenapa belum pulang?" tanya Tito.
"Yah, seperti biasa. Nih, beberapa kerjaan belum selesai." kata Leia ramah sambil tertawa kecil. "Lagipula aku tak mau weekend ku besok diisi dengan pekerjaan. Pusing." lanjutnya.
Tito hanya tersenyum, tak menjawab ucapan Leia yang masih fokus dengan pekerjaannya.
Tiba-tiba ia memegang tangan kanan Leia yang sedang sibuk memegang mouse. Leia terkejut.
"Soal permintaanku beberapa waktu lalu," kata Tito. "Apa kau sudah memikirkannya?"
Leia menatap Tito dengan tajam, ditepisnya tangan Tito. "To, sudah ku bilang nggak bisa. Berteman aja nggak ada salahnya kan?" kata Leia.
Tito balik membalas tatapan Leia dengan tajam pula. 'Sial sekali cewek ini,' pikirnya. Seumur-umur, seorang Tito Adikara, idaman para wanita, tak pernah mendapat penolakan dari semua wanita yang pernah ia incar. Baru Leia yang berbuat 'kurang ajar' seperti ini padanya.
Emosinya tiba-tiba memuncak. Ditariknya kasar tubuh Leia dari meja kerja seraya segera membekap mulutnya dengan dasi yang dipakainya agar Leia tidak berteriak.
"Kurang ajar sekali kau berani begini padaku," kata Tito. Ia menarik Leia menuju ruang meeting yang berjarak hanya beberapa meter dari meja kerja Leia. Tubuh Leia yang lebih kecil dari Tito tidak berdaya, hanya mampu meronta. Ia menghempaskan Leia ke meja ruang meeting yang cukup besar.
Dilucutinya sebagian pakaian Leia. Leia berusaha berteriak dengan kencang, namun teriakannya teredam oleh dasi yang membekap mulutnya.
"Akan ku beri kau pelajaran, brengsek." kata Tito. "Tidak pernah ada satupun wanita di dunia ini yang menolak ku, tahu? Lihatlah apa yang akan kau terima dari perbuatanmu, Leia. Hahahaha..." Tito tertawa, tawanya terdengar bagai tawa penjahat terkeji di muka bumi.
Malam itu, pandangan Leia gelap sejadi-jadinya. Satu-satunya yang ia pikirkan malam itu hanya satu: Ingin mati saja.
Leia menggoreskan pisau itu kembali pada Tito, kali ini pada pelipis kirinya. Tito berteriak kesakitan. Kini kedua pelipisnya sama-sama mengeluarkan darah segar. Ia meninju wajah dan perutnya, hingga Tito berulang kali meminta ampun pada Leia.
"Orang sepertimu lebih pantas mati," kata Leia. Manusia bejat di depannya kini sudah membuat dirinya menjadi wanita yang tak lagi ada harganya. Amarah kini semakin menguasai Leia, namun tidak dengan Tito. Air mata mulai mengalir dari kedua matanya.
"Maafkan aku Leia, ku mohon. Aku akan bertanggung jawab untuk hal-hal yang sudah ku lakukan padamu," kata Tito sambil menangis. Seketika rasa panik menjalar ke seluruh tubuhnya, karena menyadari bahwa Leia tidak main-main dan siap untuk membunuhnya kapan saja. Nyawanya kini berada di ujung tanduk.
Leia mendekatkan pisaunya ke perut Tito sambil tersenyum. Memulai ancang-ancang untuk menusukan pisau tersebut. Tito sudah pasrah, takdirnya jelas; sebentar lagi ia akan mati.
"Lebih baik meminta ampun lah pada Tuhan di neraka!" kata Leia. Dihunuskannya pisau tersebut berkali-kali, Tito meraung kesakitan. Raungannya terdengar pilu, tetapi kepiluan tersebut tak memengaruhi Leia yang sudah dikuasai oleh amarah.
Terlihat darah di mana-mana, apalagi di lengan Leia. Pada tusukan ke delapan, raungan Tito berhenti. Leia pun menghentikan tusukannya. Ia bangun menatap Tito yang sudah mati di depannya. Setengah terhuyung, ia bangun dan tersenyum.
'Akhirnya, si brengsek ini telah mati'. kata Leia bersamaan dengan suara-suara tawa dalam pikirannya. Hatinya lega dan puas sekali, sudah membunuh Tito dengan tangannya sendiri.
"Leia... Hei, Leia!" sebuah suara membangunkan Leia dari lamunannya. Suara ketik keyboard komputer saling bersahutan. Kantor terlihat sibuk hari ini.
Ia melihat ke sekeliling. Tak jauh dari matanya, terlihat Tito yang tampak serius dan sedang sibuk mengetik.
"Hei Leia, mau makan siang bareng nggak?" tanya Yuke, teman sebelahnya. Tenyata, suara Yuke yang membuat Leia tersadar dari lamunan gilanya.
"Ah, ya..." kata Leia mengiyakan. Yuke langsung bersemangat dan segera beranjak dari mejanya, seraya menunggu Leia bangun dari mejanya.
"Kau tunggu di lift ya Yuk, sebentar." kata Leia. "Aku mau mencari dompetku dulu," lanjutnya.
"Oke Lei. Ku tunggu di lift ya!" kata Yuke menyetujui, kemudian meninggalkan Leia duluan. Dengan sigap, Leia merogoh tasnya yang penuh dengan barang pribadi serta beberapa berkas kantor, untuk mengambil dompetnya yang terbenam di antara barang-barang tersebut.
Serta meraih sebuah benda kecil yang juga ikut terbenam di dalamnya. Benda yang sengaja ia taruh di bagian paling dasar tasnya sebelum ia berangkat kerja tadi pagi.
Sebuah pisau kecil, yang segera dikantonginya untuk ia gunakan kelak.
Tangerang Selatan, 28 Januari 2024.