MASIH BERANI BERMIMPI?
Terkadang memang kalau hanya melihat dari luar secara dunia semua orang banyak menunda pernikahan hanya karena masih banyak tugas yang harus diselesaikan, ada pengabdian yang belum selesai.
Bukankan menikah itu penyempurna ibadah?
bukankan dicintai lebih enak daripada mecintai? mungkin hanya saja manusia terlalu egois dan gengsi untuk mengakui bahwa harta dan kebebasan individu masih menjadi tujuan utama namun semua itu dibalut dengan bahasa satir yang anti interupsi karna dibalut agama, dan pengabdian.
Baik, mungkin awalnya hasrat untuk berumah tangga sangat tinggi namun seiring berjalanya waktu semua mulai terbuka lebar bahwa semuanya itu fana dan tidak pasti.
ketika nominal masih menjadi tolok ukur dan gendut kurusnya rekening masih menjadi pertimbangan, akan selalu menjadi pertanyaan di benak ku apakah pernikahan masih se-sakral itu?
Ini bukanlah pembelaan si miskin, melainkan pertanyaan yang akan selalu menjadi pertanyaan abadi. Jika pernikahan nantinya dinilai dengan nominal apakah "si tidak pasti" tidak diperkenankan bermimpi?
Cukup berbicara tentang cinta, mari bercinta hingga lemas, karena kaum sepertiku lebih pantas menjadi mesin cinta.









