"Kau suka awan?" tanyamu suatu hari di bawah biru yang membentang indah tepat di atas kepala kita.
Aku tak langsung menjawab. Menolehkan kepala sebentar ke arahmu, lalu kembali menengadah menantang si biru yang bergerak tidak teratur. .
"tidak. Aku tidak pernah menyukai awan." jawabku
Kurasa kau menoleh, mungkin saja sambil menatapku aneh.
"kenapa? Terlalu sering bagiku memergokimu memandangnya berlama2" tanyamu penasaran.
"karena awan selalu mengingatkanku padamu. Ada, tapi tak pernah menetap. Selalu berubah bentuk. Selalu berubah warna. Kadang kau menyapaku lewat hujan rintik menyejukkan. Kadang kau tampar aku dengan petir menggelegar. Terlalu sering kau tak ada, kalah oleh terik yang menyiksa mata juga jiwaku. Awan itu kompleks, rumit. Persis seperti dirimu." jawabku pelan, namun kupastikan kau mendengar seluruhnya dengan jelas..
Dan kau hanya diam, membenarkan semuanya, tanpa sangkal. .















