Teruntuk diriku di September 2022
Tidak terasa satu tahun berlalu. Hari yang tak pernah kubayangkan itu akhirnya tiba. Bukan hari yang diimpikan, tentu saja.
Terima kasih, ya, aku. Sudah berani mengambil keputusan menyakitkan itu. Tidak apa. Aku tidak marah, meski rasanya berdarah-darah. Air mata yang jatuh setiap saat, nafsu makan yang hilang, semangat hidup yang sempat redup, dan pikiran singkat yang sempat terlintas, kala itu. Aku tak marah. Aku tidak pernah menyesali pilihanmu.
Sebaliknya, aku banyak berterima kasih kepadamu. Untuk keberanianmu mengambil jalan itu. Saat sebelumnya selalu terombang-ambing dalam keraguan.
Tanpa keputusanmu dulu, tanpa keberanianmu dulu, tanpa semangatmu untuk kembali bangkit dulu, mungkin belum akan ada aku yang sekarang. Aku yang baru. Aku yang kini ringan melangkah mengupayakan impian-impianku, impian kita.
Ya, sesekali aku masih memikirkannya. Bukan karena ingin kembali, sungguh. Aku tak ingin lagi mengulang kesalahan yang sama dan membuatmu tersiksa kembali. Tidak.
Aku hanya teringat betapa lelah dan sakitnya kamu dulu. Yang keras kepala bertahan bersama luka.
Kini, aku lega. Berkatmu segalanya terasa lebih indah. Aku bahagia, terima kasih.
Semoga episode itu tak terulang kembali ya, dan mari nantikan surat dariku di tahun berikutnya.
Sekali lagi, terima kasih telah berani melangkah dan terus melangkah.