Umar ibn Abdil Aziz: Simbol Keadilan dan Kezuhudan
Umar ibn Abdil Aziz ibn Marwan ibn Al Hakam. Siapa yang tak kenal sosok satu ini? Dia adalah salah satu khalifah terbaik yang pernah memimpin umat Islam. Usia kepemimpinannya hanya sebentar, dua tahun setengah, hingga ia wafat akibat diracun pada tahun 720. Akan tetapi kontribusi dan warisannya terus dikenang dan harum di mata umat hingga hari ini.
Sufyan Ats Tsauri berkata, "Khalifah Rasyidah ada lima: Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, dan Umar ibn Abdil Aziz". Anas ibn Malik berkata, "Saya belum pernah melihat seorang pun yang shalatnya mendekati shalatnya Rasulullah ketimbang anak ini (re: Umar)".
Ia adalah keturunan Umar ibn Al Khattab dari jalur ibu. Umar ibn Al Khattab sendiri pernah berkata, "Kelak akan ada keturunanku, yang di wajahnya ada bekas luka, ia akan memenuhi dunia dengan keadilan".
Umar adalah sosok alim yang juga seorang pemimpin. Ia memadukan banyak sekali kebaikan selama masa kepemimpinannya. Di antara hal bagus yang bisa dicontoh oleh pemimpin saat ini adalah, ia membentuk dewan penasihat yang beranggotakan sepuluh orang ulama. Dan bersama mereka, ia berdiskusi dan mencari solusi permasalahan umat.
Di masa Al Walid, ia sempat dicopot dari jabatannya sebagai gubernur di Madinah, akibat hasutan Al Hajjaj. Namun, ketika Sulaiman berkuasa, Umar kembali diangkat sebagai pejabat, kali ini sebagai sekretaris.
Di antara jasanya yang besar pada umat Islam adalah, ia menerapkan syariat secara utuh dan menyeluruh, dengan bantuan para ulama. Di masanya juga hadits-hadits mulai dibukukan.
Ia juga memiliki perhatian yang baik terhadap ilmu pengetahuan. Ia memindahkan sekolah kedokteran dari Alexandria (Iskandariyah) ke Antakia, Turki. Ia juga bersikap lunak terhadap lawan politiknya. Ia melarang kaum muslimin mengecam Ali ibn Abi Thalib.
Umar sejak kecil sudah tumbuh dalam naungan ilmu, hanya saja ia hidup mewah. Dan ketika jabatan khalifah menghampiri, semua kemewahan yang ia dahulu rasakan, ia lepas.
Umar---seperti sang kakek yang memiliki nama yang sama dengannya---adalah simbol keadilan di Bani Umayyah dan umat Islam. Ia mengirim sejumlah orang untuk mengawasi kinerja para gubernur. Ia tak segan memecat mereka yang menyalahgunakan wewenang dan kuasa mereka, seperti yang terjadi pada Yazid ibn Abi Muslim di Afrika Utara dan Shalih ibn Abdirrahman di Irak. Ia juga mengembalikan harta dan tanah yang diambil secara zalim.
Tidak seperti di masa pendahulunya yang penuh dengan peperangan, masa Umar adalah masa yang damai dan penuh ketenangan, sehingga Umar tidak terlalu menaruh perhatian untuk membangun angkatan militer. Ia bahkan menarik pasukan Maslamah ibn Abdil Malik dari Konstantinopel.
Di bidang ekonomi, Umar menerapkan Islam secara sempurna. Orang-orang yang memiliki kelebihan harta membayar zakat mereka sehingga tak ada lagi kemiskinan. Konon, saat itu amil zakat sampai kesulitan mencari mustahik zakat karena semua orang hidup makmur dan sejahtera.
Ia selalu menjadi pionir dalam menjalankan hukum Allah. Ia tak pernah menetapkan suatu kebijakan, kecuali dialah yang pertama kali melaksanakannya. Buktinya adalah bagaimana ia sangat mudah meninggalkan kemewahan yang ia rasakan sebelum menjadi khalifah, ketika jabatan khalifah ia sandang. Bahkan, hartanya pun ia masukkan ke Baitul Mal.
Ia juga pernah kedatangan seorang sanak saudaranya. Ketika diketahui bahwa yang dibicarakan adalah tentang keluarga, maka Umar mematikan lampu rumahnya. Ia yakin bahwa lampu adalah fasilitas negara, sedangkan yang ia bicarakan tak ada sangkut-pautnya dengan negara.
Ia wafat di tahun 720 akibat diracun oleh seseorang yang dijanjikan seribu dinar dan pembebasan dari perbudakan. Dengan wafatnya Umar, umat Islam kehilangan sosok pemimpin yang keadilannya nyaris tidak ada gantinya hingga hari ini.
(Sumber: Artikel Republika: Umar ibn Abdil Aziz; Siyar A'lam An Nubala'; Tarikh Al Khulafa'; Tarikh Dimasyq; Wikipedia: Umar II)









