27: Resume
Seperti halnya manusia tidak ada yang sempurna, begitu juga pada keluarga; tidak ada yang sempurna. Seperti halnya setiap manusia yang pasti diuji, begitu juga dengan keluarga; pasti diuji. Masing-masing dengan dinamika ujiannya sendiri, yang sudah Allah takar dan tidak akan tertukar. Menjadi istimewa, karena kita tidak bisa memilih mau lahir dari keluarga yang mana. Tidak bisa memilih mau dihadirkan dari keluarga yang seperti apa, dengan ujian yang bagaimana. Menjadi bagian dari rezeki yang sudah Allah takdirkan, yang selanjutnya respon kita lah yang menentukan; apakah mau menjadikannya sebagai kesempatan atau malah kesempitan.
Belum lama ini qadarullah berkesempatan untuk belajar kehidupan dari banyak hal. Ingin menulis butir-butir pelajarannya disini agar aku ingat dan mudah dibaca kembali di kala lupa;
Bersyukur Nasihat paling klise dan paling sering ditemui, tapi memang butuh. Bersyukur itu salah satu sumber ketenangan dan kebahagiaan. Merasa cukup sehingga tidak bersikap berlebihan, merasa cukup sehingga tidak perlu sedih karena merasa kurang. Karena Allah Maha Pemberi Rezeki sesungguhnya tau apa yang kita butuh, dan kita telah berada di tempat dan kondisi yang tepat sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Belajar mengapresiasi segala hal sekecil apapun, sehingga mudah bersyukur bahkan pada hal-hal sekecil apapun. Semoga terhindar dari sikap kufur nikmat, terhindar dari mata hati yang buta dari mensyukuri nikmat.
Belajar tahu diri Salah satu hal yang paling sulit dipahami dan dimengerti memang diri sendiri. Tapi sayangnya akan selalu ada saja momen-momen yang menguji kemampuan tahu diri satu ini. Saat dihadapkan dengan kesempatan-kesempatan yang nampaknya besar dan menggoda, akan semakin sulit menjadi objektif pada diri sendiri. Mungkin memang ada saatnya keberanian buta alias nekat itu diperlukan, tapi ada saatnya juga dimana rem dan kontrol diri harus menjadi lebih dominan. Terutama saat ada banyak hak-hak orang lain yang terlibat, alangkah bijak untuk menjadi tahu diri. Belajar mengerti bahwa diri ini terbatas. Belajar menerima bahwa diri ini tidak sempurna. Agar keputusan yang diambil sudah berdasarkan pertimbangan matang, sehingga betul lebih banyak manfaat yang dihasilkan alih-alih mudharatnya.
Investasi ilmu Betapa banyak orang yang menyesal dan ingin mengulang kembali waktu, demi bisa menuntut ilmu yang dahulu tidak dilakukan dengan maksimal. Menuntut ilmu sesungguhnya adalah salah satu investasi terbaik yang pernah ada. Semakin dini, semakin banyak yang dapat dituai. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Bersulit-sulit dalam menuntut ilmu lah terlebih dahulu, karena pasti akan ada manfaatnya di hari kemudian. Jika tidak terhadap banyak orang secara langsung, setidaknya pasti ada manfaat untuk diri sendiri. Jika menjadi pribadi yang tidak merugikan orang lain adalah salah satu seminimal-minimalnya manfaat yang ada, maka bayangkan seberapa besar manfaat yang dapat hadir pada semaksimal-maksimalnya manfaat dari sebuah ilmu.
Amanah Menjadi amanah; dapat dipercaya. Pernah kutemui sebuah cerita dari kekecewaan seseorang yang merasa dirugikan atas tidak kunjung terwujudnya amanah yang ia titipkan. "Wah, kalau begitu caranya, ngga akan berkah itu usahanya." Sebuah kalimat spontan yang di kemudian hari betul-betul kusaksikan; menjadi merugi dan tidak bertahan lama, hingga terlilit berbagai masalah yang tak kunjung usai. Menjadi reminder bagi diri sendiri; jika ada satu ganjalan masalah yang tidak selesai-selesai, jangan-jangan ada amanah dari orang lain yang tertelantarkan. Tidak tertunaikan, yang bersangkutan merasa terzhalimi, lalu Allah kabulkan doanya. Semoga Allah lindungi kita semua.
Alhamdulillah atas kesempatan belajar. Alhamdulillah atas karunia berkumpul bersama orang-orang yang dimampukan dalam menyarikan hikmah dari berbagai peristiwa, sehingga tidak berlalu begitu saja, tapi ada butir-butir pelajaran yang dapat diambil. Wallahu a'lam..
---
Pekalongan, 15.10







