Ahlan! Jangan lupa awali dengan;
Bismillaahirrahmaanirrahiim.

shark vs the universe
Game of Thrones Daily

JBB: An Artblog!
he wasn't even looking at me and he found me
Sade Olutola

oozey mess
h
will byers stan first human second
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Cosimo Galluzzi
almost home
KIROKAZE

★

Origami Around

Andulka
dirt enthusiast
d e v o n
NASA

No title available
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
seen from France
seen from Türkiye
seen from Kuwait

seen from Kuwait

seen from Pakistan
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Colombia
seen from Gabon
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Vietnam
seen from United States

seen from United Kingdom
@naailahana
Ahlan! Jangan lupa awali dengan;
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Purna;
Tidak menyangka ternyata sudah hampir genap satu tahun semenjak mulai terjebak di Plara. Satu tahun yang tidak terasa tiba-tiba sudah satu tahun tapi sebetulnya tiap harinya sangat terasa huhu. Banyak sekali hal yang bikin capek, tapi sebetulnya setelah dipikir-pikir, semua yang sudah terjadi ternyata menjadi pengalaman yang sangat berharga.. Dimana lagi bisa dapet pengalaman se-variasi dan se-berharga ini?
Ngga tau kapan lagi akan bisa menginjakkan kaki di IGD sebagai dokter yang bertugas, karena sepertinya aku inginnya jauh-jauh aja dari IGD, maka kemarin malam menjadi jaga malam terakhir yang cukup emosional. Meskipun IGD Plara selalu penuh, selalu sumpek dan stressful, yang tiap masuk rasanya seperti masuk ke dunia lain karna se-berbeda itu.. tapi sesungguhnya banyak sekali pelajaran yang bisa diambil.
Menjadi momen belajar yang penting buatku, karena disinilah ternyata kesabaran yang sesungguhnya diuji. Ternyata aku ngga sesabar itu wkwk ngga bisa ngga ngomel dan sarkas sedikit setiap ada aja pasien dan kejadian yang 'aneh-aneh'.. ya Allah maaf :') bener-bener beyond words pokonya pengalaman di Plara wkwkwk bingung mau cerita yang mana karna rasanya masing-masing deserves satu cerita yang utuh dan penuh.
Dalam satu kali shift ada aja roller coaster emosi yang berbeda se-ekstrim itu. Shift terakhir apalagi benar-benar campur aduk, dari momen sedih harus merelakan satu pasien yang baru datang belum sampai 10 menit sudah harus dinyatakan meninggal dunia.. sampai momen mental breakdown lainnya karena kena emosi pasien dan keluarga pasien yang sebetulnya sangat bisa dipahami ya tapi aku bisa apa kalau memang diluar kuasaku ;') momen pasien kabur sambil dibawa pulang infusannya, sampai momen miris dan agak lucu karena antar-pasien dan keluarga pasien sampai sudah menjadi besti saking lamanya tertahan di IGD, mungkin merasa senasib sepenanggungan :') dan semuanya terjadi dalam kondisi se-crowded itu, baru pulang satu masuk lagi langsung lima.. siapa yang tidak pressure ya dengan kondisi itu :')
Ya Allah jangan sampe deh sakit dan harus dibawa ke IGD, semoga kita sehat-sehat selalu agar bisa beraktivitas dengan normal tanpa suatu kekurangan apapun, semoga kita diberi kesadaran untuk menjaga titipan tubuh ini agar terjaga kesehatannya :') aku jadi paham ternyata sehat itu mahal sekali.. berbagai penyakit yang ada ternyata bisa tiba-tiba aja terjadi tanpa pandang bulu, tanpa pandang usia, tanpa peringatan tanpa aba-aba. Semoga sehat-sehat kita semua dan keluarga.
Ya Allah terimakasih sudah mempertemukan aku dengan semua pasien-pasien yang sudah bertemu aku, yang menjadi wasilah aku belajar menerapkan ilmu, belajar empati, belajar komunikasi dengan baik, belajar yakin dengan pendirian diri sendiri yang beralasan, belajar memimpin dan bekerja sama, belajar mengambil keputusan dalam kegentingan, semua benar-benar pengalaman berharga yang ngga bisa didapatkan dari tempat lain. Semoga semuanya diberikan kesabaran yang lapang, diangkat rasa sakitnya, diberikan kesembuhan yang tidak menyisakan sakit dan penyakit.. mungkin tidak akan bisa semuanya aku ingat, tapi semoga aku ingat untuk bisa mendoakan semuanya.
Aku juga jadi menyadari; memang IGD tidak untuk semua orang :') terimakasih atas pengalamannya ya Allah, tapi sepertinya aku tidak bisa kalau harus terus-menerus menjalani IGD ini wkwk :') negative findings ini membuatku kembali membuka episode mempertanyakan keputusan hidup haha kembali mengidentifikasi mana yang cocok dan mana yang tidak cocok untukku, mana yang aku ingin dan aku tidak ingin, mana yang aku suka dan mana yang aku tidak suka.
Tapi sayangnya masih banyak juga yang aku belum tau jawabannya hahaha gapapa mari kita jalani pelan-pelan ya, mari kita cari tau satu-satu, lembaran apa yang akan kita ambil ke depannya. Kita ucapkan selamat dulu; selamat sudah selesai ishipnya, dan selamat officially menjalani fase dewasa untuk diriku :'D
Pelabuhanratu, 21/11/2024 08.45
Memasuki waktu bagian cemas ansietas. Tidak muluk-muluk ya Allah, semoga dapat dijalani dengan baik. Diluaskan sabarnya, dijaga semangatnya, dikuatkan pundaknya, dilapangkan hati dan pikirannya. Sehat, aman, tenang, dan semua selamat, aamiin.
Selamat datang, Juni.
29: Raya
Dan begitu saja. Bulan yang diberkahi berakhir begitu saja, seperti sekejap mata. Betapa beruntungnya kita masih diberi kesempatan untuk merasakan beribadah di bulan Ramadhan, sesuatu yang didamba-dambakan bahkan oleh jiwa-jiwa yang sudah kembali.
Meski usaha kita jauh dari kata sempurna, semoga Allah berkenan mengampuni kita semua. Semoga Allah menerima puasa dan semua amal yang sudah kita usahakan. Semoga Allah mengizinkan kita untuk meninggalkan bulan ini dengan iman yang lebih baik, dalam kondisi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Semoga Allah mampukan kita terus tetap beribadah sebagaimana semangat kita dalam bulan Ramadhan. Semoga Allah perkenankan kita untuk bertemu kembali dengan bulan Ramadhan berikutnya, aamiin Yaa Allaah Yaa Rabbal 'Aalamiin.
---
Terimakasih tumblr, rupanya masih lebih memungkinkan menulis rutin disini daripada di media lain. Meskipun lebih banyak tulisan tidak terarahnya, tapi aku tetap bersyukur ada tumblr yang menjadi tempatku mencoba tetap waras dan keep on the track.
Seperti Raya pada umumnya, ingin sekaligus ikut mengucapkan permintaan maaf pada warga tumblr nan baik hati dan rajin menabung sekalian. Baik yang kenal personal maupun tidak, baik yang kebetulan saja bertemu akun ini atau yang sengaja. Terutama lebih lagi pada yang pernah merasa tersakiti olehku, yang masih ada ganjalan/amanah yang belum tertunaikan yang melibatkan aku, atau ada janji yang luput kulaksanakan; aku akan sangat berterima kasih apabila berkenan diingatkan untuk diselesaikan sama-sama. Agar kita bisa saling legowo, dan memulai semuanya dari nol lagi. :)
Selamat merayakan Hari Raya semuanya. Semoga Raya-mu menyenangkan ✨
---
Pekalongan, 05.00
28: Napak Tilas
Salah satu hal yang tidak pernah luput dan selalu menarik untuk diikuti tiap pulang kampung libur lebaran adalah agenda napak tilasnya. Biasanya diawali dari agenda ziarah kubur para mbah, buyut, dan kerabat yang sudah lebih dulu wafat mendahului kita. Mendoakan, menjadikannya pelajaran dalam mengingat kematian. Dilanjut dengan silaturrahmi kerabat satu generasi hingga dari kalangan dua-tiga generasi di atasku yang masih ada, yang jumlahnya banyak itu, yang aku juga tidak hapal-hapal padahal hampir selalu diulang tiap tahun, sampai aku punya cita-cita baru semoga nanti bisa menyusun genogram sesuai pedigree keluarga.
Selalu menarik karena selalu ada saja hal baru yang bisa dipelajari. Dari kisah suka duka masa kecil orangtua yang entah kenapa stoknya tidak habis-habis, sampai kisah duka suka masa dewasa yang juga tidak selesai-selesai. Yang tidak semuanya menyenangkan, tapi pasti ada saja sesuatu yang disarikan untuk dijadikan pelajaran. Di sela-selanya selalu diiringi dengan doa-doa dari para mbah dan buyut yang masih ada, yang tampak tulus sekali doanya, yang membuatku mikir juga jangan-jangan selama ini doa tulus dari mereka-mereka inilah yang telah banyak membantu memudahkan jalanku sampai sejauh ini. Mengantarkan pada kesadaran bahwa; sejauh apapun kita pergi, ada keluarga yang selalu mendoakan yang terbaik untuk kita, dan siap menjadi tempat untuk kita kembali pulang.
Selalu kagum dengan semangat orangtuaku memperkenalkan anaknya pada para pendahulu. Semoga kami-kami semua nanti bisa menjaga dan mempertahankan tali silaturrahmi yang selama ini sudah dijaga dengan baik, aamiin.
---
Pekalongan, 23.45
27: Resume
Seperti halnya manusia tidak ada yang sempurna, begitu juga pada keluarga; tidak ada yang sempurna. Seperti halnya setiap manusia yang pasti diuji, begitu juga dengan keluarga; pasti diuji. Masing-masing dengan dinamika ujiannya sendiri, yang sudah Allah takar dan tidak akan tertukar. Menjadi istimewa, karena kita tidak bisa memilih mau lahir dari keluarga yang mana. Tidak bisa memilih mau dihadirkan dari keluarga yang seperti apa, dengan ujian yang bagaimana. Menjadi bagian dari rezeki yang sudah Allah takdirkan, yang selanjutnya respon kita lah yang menentukan; apakah mau menjadikannya sebagai kesempatan atau malah kesempitan.
Belum lama ini qadarullah berkesempatan untuk belajar kehidupan dari banyak hal. Ingin menulis butir-butir pelajarannya disini agar aku ingat dan mudah dibaca kembali di kala lupa;
Bersyukur Nasihat paling klise dan paling sering ditemui, tapi memang butuh. Bersyukur itu salah satu sumber ketenangan dan kebahagiaan. Merasa cukup sehingga tidak bersikap berlebihan, merasa cukup sehingga tidak perlu sedih karena merasa kurang. Karena Allah Maha Pemberi Rezeki sesungguhnya tau apa yang kita butuh, dan kita telah berada di tempat dan kondisi yang tepat sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Belajar mengapresiasi segala hal sekecil apapun, sehingga mudah bersyukur bahkan pada hal-hal sekecil apapun. Semoga terhindar dari sikap kufur nikmat, terhindar dari mata hati yang buta dari mensyukuri nikmat.
Belajar tahu diri Salah satu hal yang paling sulit dipahami dan dimengerti memang diri sendiri. Tapi sayangnya akan selalu ada saja momen-momen yang menguji kemampuan tahu diri satu ini. Saat dihadapkan dengan kesempatan-kesempatan yang nampaknya besar dan menggoda, akan semakin sulit menjadi objektif pada diri sendiri. Mungkin memang ada saatnya keberanian buta alias nekat itu diperlukan, tapi ada saatnya juga dimana rem dan kontrol diri harus menjadi lebih dominan. Terutama saat ada banyak hak-hak orang lain yang terlibat, alangkah bijak untuk menjadi tahu diri. Belajar mengerti bahwa diri ini terbatas. Belajar menerima bahwa diri ini tidak sempurna. Agar keputusan yang diambil sudah berdasarkan pertimbangan matang, sehingga betul lebih banyak manfaat yang dihasilkan alih-alih mudharatnya.
Investasi ilmu Betapa banyak orang yang menyesal dan ingin mengulang kembali waktu, demi bisa menuntut ilmu yang dahulu tidak dilakukan dengan maksimal. Menuntut ilmu sesungguhnya adalah salah satu investasi terbaik yang pernah ada. Semakin dini, semakin banyak yang dapat dituai. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Bersulit-sulit dalam menuntut ilmu lah terlebih dahulu, karena pasti akan ada manfaatnya di hari kemudian. Jika tidak terhadap banyak orang secara langsung, setidaknya pasti ada manfaat untuk diri sendiri. Jika menjadi pribadi yang tidak merugikan orang lain adalah salah satu seminimal-minimalnya manfaat yang ada, maka bayangkan seberapa besar manfaat yang dapat hadir pada semaksimal-maksimalnya manfaat dari sebuah ilmu.
Amanah Menjadi amanah; dapat dipercaya. Pernah kutemui sebuah cerita dari kekecewaan seseorang yang merasa dirugikan atas tidak kunjung terwujudnya amanah yang ia titipkan. "Wah, kalau begitu caranya, ngga akan berkah itu usahanya." Sebuah kalimat spontan yang di kemudian hari betul-betul kusaksikan; menjadi merugi dan tidak bertahan lama, hingga terlilit berbagai masalah yang tak kunjung usai. Menjadi reminder bagi diri sendiri; jika ada satu ganjalan masalah yang tidak selesai-selesai, jangan-jangan ada amanah dari orang lain yang tertelantarkan. Tidak tertunaikan, yang bersangkutan merasa terzhalimi, lalu Allah kabulkan doanya. Semoga Allah lindungi kita semua.
Alhamdulillah atas kesempatan belajar. Alhamdulillah atas karunia berkumpul bersama orang-orang yang dimampukan dalam menyarikan hikmah dari berbagai peristiwa, sehingga tidak berlalu begitu saja, tapi ada butir-butir pelajaran yang dapat diambil. Wallahu a'lam..
---
Pekalongan, 15.10
26: Dua Hubungan Manusia
"Manusia itu punya dua hubungan; hablun minannas dan hablun minallah. Hablun minallah mungkin iya, bisa diselesaikan dengan memperbanyak amal, taubat, dan minta ampun sama Allah. Tapi kalau hablun minannas? Nggak sesederhana itu. Harus diselesaikan person to person, langsung kepada orang yang bersangkutan. Salah harus maaf-memaafkan, hutang harus diselesaikan, janji harus ditunaikan, amanah harus disampaikan. Jangan terbalik-balik. Merasa sudah zhalim sama orang, ya minta maaf dan selesaikan. Kalau sudah merasa cukup hanya dengan minta ampun sama Allah, gimana kalau ternyata orang yang kita zhalimi tidak terima dan tidak ridha atas perbuatan kita sampai kita wafat?
Hati-hati, karena nggak sesederhana itu."
---
Pekalongan, 12.50
25: di sekitar kita
Dalam suatu proses menjalani sebuah perjalanan yang panjang, akan ada banyak hal-hal tidak terduga yang kita temui. Kalau beruntung, akan kita temui kawan perjalanan yang menyenangkan. Namun bisa jadi ada kalanya juga kita akan sendirian, tanpa kawan tanpa teman. Akan kita temui cuaca yang bisa berubah-ubah secara ekstrim; dari panas hingga petir. Akan kita temui; orang-orang yang meski lelah dan berpuasa, tetap semangat bekerja banting tulang di bawah panas terik demi keluarga di rumah. Akan kita temui, orang baik ternyata ada dimana-mana. Yang menawarkan takjil meski yang ia punya juga seadanya, yang tiba-tiba datang membantu saat kita kesulitan, yang mengingatkan bahkan menyingkirkan bahaya yang ada di depan. Akan kita temui juga, pengingat-pengingat terbaik akan waktu dan kesempatan. Saat jalanan macet dan kita banyak mengeluh, rupanya di depan ada yang qadarullah dihadapkan dengan kecelakaan. Bagaimana kalau kita yang ditakdirkan untuk kecelakaan? Semuanya ada di sekitar kita, mengisi Ramadhan kita.
Semoga senantiasa Allah hadirkan kita dalam perjalanan-perjalanan yang berkah dan penuh hikmah.
---
Di perjalanan, 17.15
22: Mensyukuri Sehat
Di antara salah satu karunia besar dari Allah swt. yang mudah sekali kita lupakan adalah nikmat sehat. Raga yang sehat dan badan yang kuat, yang dengannya kita dapat beraktivitas dengan leluasa.
Apabila sedang diuji, maka bersabarlah; karena sesungguhnya sakit adalah sebuah ujian yang dengannya menjadi penggugur dosa. Apabila sedang diberi sehat, maka ini sesungguhnya juga sebuah ujian; apakah dengannya kita bersyukur?
Betapa indah Islam yang telah memberi kita tuntunan, bahwa syukur belum bisa dikatakan syukur apabila belum terkumpul di dalamnya tiga hal:
Bersyukur dengan hati; yakni mengakui nikmat Allah swt. di dalam batin, untuk semakin mengenal dan mencintai Allah swt. Sang Pemberi Nikmat,
Bersyukur dengan lisan; yakni membicarakannya secara lisan, untuk memuja dan menyebut nama Allah swt., dan
Bersyukur dengan anggota badan; yakni menjadikannya sebagai sarana untuk taat kepada Allah swt., dan menahan diri dari maksiat pada-Nya.
Maka perlu kita tengok kembali; sudahkah kita mensyukuri nikmat sehat dengan benar-benar menjadikannya sarana untuk taat kepada Allah?
Syukurnya mata adalah dengan melihat yang baik, dan mencegahnya dari melihat yang buruk. Syukurnya telinga adalah dengan memeliharanya untuk mendengar yang baik-baik, dan mencegahnya dari mendengar yang buruk. Syukurnya tangan adalah tidak mengambil yang bukan miliknya, dan tidak menyentuh apa-apa yang sudah Allah larang. Syukurnya kaki adalah dengan melangkahkan kaki untuk taat dan beramal shalih.
"Perumpamaan orang yang hanya bersyukur dengan lisan tanpa diikuti perbuatan/sikap, adalah ibarat orang yang punya pakaian tetapi pakaian itu tidak dipakai, hanya dipegang ujungnya saja. Sungguh betapa sia-sia pakaiannya itu..." - Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A., dalam Kuliah Akhlaq.
Betapa spesial nikmat sehat satu ini, yang apabila ia dicabut, maka terhalanglah kita dari banyak melakukan amalan-amalan yang sebelumnya dapat kita lakukan dengan leluasa saat masih sehat dan prima.
Maka perlu kita telisik kembali; sudahkah kita mensyukurinya dengan benar-benar menjaganya?
Memastikan tubuh untuk mendapat input energi dan ilmu dari yang hal-hal yang sudah pasti kehalalan dan ke-thayyib-annya, sebagai ikhtiar dalam menghargai dan mensyukuri nikmat sehat. Menjaga diri dari memasukkan sesuatu apapun yang sudah diharamkan serta menjauhkan diri dari yang makruh dan meragukan, agar terhindar dari potensi kelalaian dan ketidakberkahan.
Pernah kutemui seorang ibu dari keluarga sederhana yang senantiasa betul-betul menjaga dengan hati-hati apa-apa yang menjadi sumber makanan bagi keluarganya, sampai-sampai selalu ia sertai kegiatan masak-memasaknya dengan kalimat Allah dan dzikir-dzikir. Makanan dengan bumbu dzikir, masya Allah, pantas saja selalu Allah jaga.
Menjadi pengingat terutama untuk diriku pribadi, agar melaksanakan apa yang hampir setiap hari aku ulang-ulang kepada banyak pasien; 'Makan makanan yang baik-baik saja ya Pak/Bu, yang sehat-sehat saja. Pelan-pelan dirutinkan olahraga. Tidak usah merokok, karena tidak ada manfaatnya. Tubuh ini dikasih Allah untuk kita jaga dengan baik, bukan untuk dirusak. Semoga sakitnya menjadi penggugur dosa, dan nanti Allah angkat penyakitnya...'
Semoga Allah swt. mampukan kita untuk mensyukuri nikmat sehat secara benar dan baik. Semoga Allah swt. lembutkan hati kita semua untuk senantiasa bersyukur dengan segala nikmat-Nya, aamiin.
"Dan ingatlah, tatkala Tuhanmu memaklumkan: 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. 14:7)
---
Pelabuhanratu, 06.26
24: To Ponder
Setelah menulis ini, dua hari berturut-turut dipertemukan Allah dengan inspirasi dalam dunia kesehatan dari jajaran shahabiyah. Ialah Asy-Syifaa' binti Abdillah ra.
Pertama kali dengar namanya dari Series Perempuan Peradaban-nya Ust. Salim (lagi), di episode ke-9. Beliau menceritakan tentang bagaimana Asy-Syifaa' ra. ini menjadi salah satu pelopor dalam dunia kesehatan pada saat itu di zaman Nabi Muhammad saw. Asy-Syifaa' ra. masih merupakan kerabat (sepupu) dari Umar bin Khattab ra.
Beliau merupakan sosok dokter muslimah yang kuat dan gigih dalam mencari ilmu, meski tidak banyak pada saat itu yang berkecimpung dalam dunia kesehatan. Beliau bahkan termasuk yang belajar secara langsung dari tabib-tabib yang dikirim dari Barat, dan menjadi yang pertama dalam menggabungkan ilmu kedokteran Timur dan Barat pada saat itu. Selain di kediamannya, beliau juga secara aktif berkontribusi untuk ummat dengan mendedikasikan dirinya sebagai dokter langsung di lapangan ketika terjadi peperangan. Masya Allah what an inspiration.
Setelah kagum dengan cerita Ust. Salim, ternyata sesi AAplus kemarin juga sama-sama membahas tentang Asy-Syifaa' binti Abdillah! Masya Allah.
Sesi Champs: Cottage Book Club dari Kak Aida & team ini disarikan dari buku Stars in the Prophet's Orbit, by Asma Tabaa. Sebelum menceritakan tentang perannya sebagai dokter, buku ini ternyata lebih dulu menjabarkan beliau sebagai seorang guru.
Dari karakternya yang selalu gigih dalam belajar dan haus akan ilmu, Asy-Syifaa' ra. rupanya juga memiliki semangat berbagi yang tinggi, yang mendorongnya untuk aktif mengajar dan menyebarkan banyaknya ilmu yang sudah ia pelajari. Dan sebagai seorang dokter, beliau tidak hanya menerapkan pengobatan secara keilmuan fisik (obat-obatan), namun juga menekankan usaha melalui meminta kesembuhan dari Allah swt. Dijabarkan beliau juga menerapkan dzikir-dzikir dan ruqyah sebagai ikhtiar dalam metode penyembuhannya.
Masya Allah, semoga kita bisa mengambil pelajaran dan lebih semangat lagi dalam menjaga nikmat sehat dari Allah. Ya Allah alhamdulillah selalu suka belajar sirah :') Allahumma shalli 'alaa Muhammad. May Allah bless all the shahabahs and shahabiyahs around the Prophet saw.
---
Pelabuhanratu, 06.34
23: Efforts
Dulu, aku memandang dunia sebagai sarana kompetisi. Sebagaimana peserta dalam sebuah kompetisi, aku merasa segala sesuatu itu harus diselesaikan secara sempurna. Dan melakukan sesuatu sesuai dengan 'jalur' aturan yang seharusnya, adalah salah satu cara untuk menggapai hasil yang sempurna.
Result-oriented.
Dalam berbagai kesempatan, konsep ini berjalan sesuai perkiraan. Dengan modal melakukan segala sesuatunya sebagaimana yang 'seharusnya' terjadi di mataku, aku memang mendapat apa yang saat itu menjadi ekspektasi.
Tapi lama-lama, pengalaman demi pengalaman mengajarkan bahwa hidup tidak se-'sederhana' itu. Tidak semua yang kita usahakan mati-matian akan mendapat hasil sesuai dengan keinginan. Aku mulai menyadari bahwa tidak semuanya berjalan secara linear. Ada banyak hal-hal di luar kontrol diri yang turut berkontribusi. Ada banyak hal-hal yang lebih layak kita pegang erat-erat selain hanya hasil semata.
Pernah kujalani ujian yang pada saat itu aku merasa sangat tidak maksimal. Persiapanku tidak seberapa, jauh dari kata siap. Tapi ternyata Allah berikan penguji yang sangat murah hati dalam memberi nilai, terlepas dari ketidaksiapanku. Entah doa siapa yang akhirnya Allah kabulkan.
Atau saat sudah merasa siap, sudah merasa berusaha dengan baik. Ternyata apa yang diujikan sama sekali berbeda dengan apa yang dipersiapkan. Tapi lagi-lagi, ada saja hal-hal diluar perkiraan yang pada akhirnya terjadi, dan membuat hari itu dapat diakhiri dengan baik.
Aku mulai menyadari, bahwa apa yang kita terima itu wujud dari pemberian dan kasih dari Allah swt. Bukan semata-mata akibat dari apa yang kita usahakan.
But Allah loves to see our efforts.
Masih dari Series Perempuan Peradaban (lagi), dan lagi-lagi kisah dari ibunda Maryam. Ustadz menceritakan bagaimana ketika Maryam dalam kondisi lemah hendak melahirkan di tempat asing, Allah memerintahkan Maryam untuk menggoyangkan pangkal pohon kurma, yang sesungguhnya seorang laki-laki kuat pun akan berat melakukannya.
Namun hal itu mampu ia lakukan atas kehendak Allah, untuk menurunkan rezekinya kepada Maryam; agar manusia memahami pentingnya mengusahakan sesuatu. Masya Allah.
"and ˹Allah˺ reward them for their perseverance with a Garden ˹in Paradise˺ and ˹garments of˺ silk." (QS. 76:12)
Semoga Allah swt. mampukan kita untuk senantiasa berusaha memberikan effort terbaik untuk segala impian dan segala hal baik yang kita inginkan itu. Semoga Allah swt. juga berikan kita hati yang lapang untuk menerima apapun hasil yang Allah beri, aamiin.
---
Pelabuhanratu, 06.36
22: Mensyukuri Sehat
Di antara salah satu karunia besar dari Allah swt. yang mudah sekali kita lupakan adalah nikmat sehat. Raga yang sehat dan badan yang kuat, yang dengannya kita dapat beraktivitas dengan leluasa.
Apabila sedang diuji, maka bersabarlah; karena sesungguhnya sakit adalah sebuah ujian yang dengannya menjadi penggugur dosa. Apabila sedang diberi sehat, maka ini sesungguhnya juga sebuah ujian; apakah dengannya kita bersyukur?
Betapa indah Islam yang telah memberi kita tuntunan, bahwa syukur belum bisa dikatakan syukur apabila belum terkumpul di dalamnya tiga hal:
Bersyukur dengan hati; yakni mengakui nikmat Allah swt. di dalam batin, untuk semakin mengenal dan mencintai Allah swt. Sang Pemberi Nikmat,
Bersyukur dengan lisan; yakni membicarakannya secara lisan, untuk memuja dan menyebut nama Allah swt., dan
Bersyukur dengan anggota badan; yakni menjadikannya sebagai sarana untuk taat kepada Allah swt., dan menahan diri dari maksiat pada-Nya.
Maka perlu kita tengok kembali; sudahkah kita mensyukuri nikmat sehat dengan benar-benar menjadikannya sarana untuk taat kepada Allah?
Syukurnya mata adalah dengan melihat yang baik, dan mencegahnya dari melihat yang buruk. Syukurnya telinga adalah dengan memeliharanya untuk mendengar yang baik-baik, dan mencegahnya dari mendengar yang buruk. Syukurnya tangan adalah tidak mengambil yang bukan miliknya, dan tidak menyentuh apa-apa yang sudah Allah larang. Syukurnya kaki adalah dengan melangkahkan kaki untuk taat dan beramal shalih.
"Perumpamaan orang yang hanya bersyukur dengan lisan tanpa diikuti perbuatan/sikap, adalah ibarat orang yang punya pakaian tetapi pakaian itu tidak dipakai, hanya dipegang ujungnya saja. Sungguh betapa sia-sia pakaiannya itu..." - Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A., dalam Kuliah Akhlaq.
Betapa spesial nikmat sehat satu ini, yang apabila ia dicabut, maka terhalanglah kita dari banyak melakukan amalan-amalan yang sebelumnya dapat kita lakukan dengan leluasa saat masih sehat dan prima.
Maka perlu kita telisik kembali; sudahkah kita mensyukurinya dengan benar-benar menjaganya?
Memastikan tubuh untuk mendapat input energi dan ilmu dari yang hal-hal yang sudah pasti kehalalan dan ke-thayyib-annya, sebagai ikhtiar dalam menghargai dan mensyukuri nikmat sehat. Menjaga diri dari memasukkan sesuatu apapun yang sudah diharamkan serta menjauhkan diri dari yang makruh dan meragukan, agar terhindar dari potensi kelalaian dan ketidakberkahan.
Pernah kutemui seorang ibu dari keluarga sederhana yang senantiasa betul-betul menjaga dengan hati-hati apa-apa yang menjadi sumber makanan bagi keluarganya, sampai-sampai selalu ia sertai kegiatan masak-memasaknya dengan kalimat Allah dan dzikir-dzikir. Makanan dengan bumbu dzikir, masya Allah, pantas saja selalu Allah jaga.
Menjadi pengingat terutama untuk diriku pribadi, agar melaksanakan apa yang hampir setiap hari aku ulang-ulang kepada banyak pasien; 'Makan makanan yang baik-baik saja ya Pak/Bu, yang sehat-sehat saja. Pelan-pelan dirutinkan olahraga. Tidak usah merokok, karena tidak ada manfaatnya. Tubuh ini dikasih Allah untuk kita jaga dengan baik, bukan untuk dirusak. Semoga sakitnya menjadi penggugur dosa, dan nanti Allah angkat penyakitnya...'
Semoga Allah swt. mampukan kita untuk mensyukuri nikmat sehat secara benar dan baik. Semoga Allah swt. lembutkan hati kita semua untuk senantiasa bersyukur dengan segala nikmat-Nya, aamiin.
"Dan ingatlah, tatkala Tuhanmu memaklumkan: 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. 14:7)
---
Pelabuhanratu, 06.26
21: a Test
"Do people think that they will be left alone because they say: "We believe," and will not be tested?" (QS. 29: 2)
This Ramadhan journey has become one of the toughest for me. Struggling with a new role and responsibilities, juggling between here and there. I couldn't imagine I had to go through this right now, in Ramadhan. I know this is a test, but I don't know how to cope.
Sebuah refleksi dari salah satu sister di AA Plus tadi malam. I was stunned. Aku tidak bisa tidak kagum pada bagaimana di tengah semua kesulitan yang sedang ia hadapi, masih ada percikan iman yang mengantarkannya pada kemauan untuk hadir, untuk menyimak, untuk men-tadabbur salah satu ayat-Nya, even sharing tentang perjalanannya.
Everything is a test. Indeed, we will definitely always be tested.
Abu Huraira reported: The Messenger of Allah, peace and blessings be upon him, said, “The believing men and women continue to be under trial in their lives, their children, and their wealth, until they meet Allah without any sin.” (At-Tirmidhi)
Welcoming the beginning of the last ten days of Ramadhan. May Allah swt. guide us to be able to undergo this Ramadhan test well and end it beautifully.
---
Pelabuhanratu, 06.58
20: Menular
Kebaikan itu menular. Salah satu hal yang membuat hati adem selama bulan Ramadhan adalah banyaknya orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan. Mungkin memang sudah ada sejak bulan-bulan yang lain, tapi di Ramadhan ini rasanya semua semakin tampak nyata, terang-terangan.
Suatu malam tidak sengaja menangkap seorang teteh yang mengakhirkan keluar dari masjid pasca tarawih, hanya untuk menyisipkan sebagian hartanya untuk kotak infaq masjid. Membuatku tertegun, ya Allah semoga besok aku ingat untuk infaq.
Lain waktu di suatu sore yang panas dipertemukan dengan ibu kos secara tidak sengaja, dan diajaknya aku ikut pengajian di masjid. Membuatku tertegun (lagi), ya Allah iya ya aku belum dengar kajian dari kemarin.
Lalu tadi. Baru selesai menyelesaikan berbagai pekerjaan di sore hari menjelang maghrib. Agak panik sedikit, karena belum beli/menyiapkan apa-apa untuk berbuka. Lalu teteh warung depan mengetuk pintu, rupanya berbagi takjil bubur candil dan makanan untuk berbuka. Ya Allah, kenapa orang-orang baik sekali??
Alhamdulillaah terimakasih Allah sudah menghadirkan nikmat dan pengingat lewat orang-orang dan lingkungan sekitar. Semoga tetap Engkau izinkan aku bertemu dan bersama orang-orang yang senantiasa membuatku ingat kepada-Mu, aamiin.
---
Pelabuhanratu, 21.52
19: Di Taman
Terlihat bulan masih nampak, dan langit belum biru sepenuhnya. Burung-burung bersautan, dan udara masih terasa segarnya. Ku anggukkan kepala; menyapa seorang kakek yang bersantai di teras rumah, melantunkan Al Qur'an dengan merdu. Yang lain sudah sibuk dengan sapu lidi; menyapu halaman rumah hingga tepi jalan. Saat tiba, sepasang suami istri tampak sedang bersemangat lari pagi mengelilingi lapangan sambil sesekali menyapa. Yang lain tampak serius bersepeda, diikuti anak-anak kecil yang juga menyusul di belakang; berlomba-lomba siapa yang tiba di ujung lebih dulu. Anak-anak perempuan di ujung yang lain, asyik mencari dedaunan dan entah bermain apa. Seekor kucing tiga warna memutuskan untuk duduk di dekatku, dan memandangku untuk waktu yang lama. Ia tetap bertahan di tempat yang sama, sampai langit benar-benar biru dan matahari telah naik sepenggalah. Hangat.
Dan aku duduk dengan tenang; sibuk dengan buku dan jurnal di tangan, sambil mengobservasi kucing yang berpindah posisi sesekali. Sampai semuanya pulang, tinggal aku dengan si kucing tiga warna yang sudah pindah ke sisi seberang; mengikuti arah hangat sinar matahari.
Sebuah potret miniatur kehidupan manusia dalam waktu singkat;
Bahwa kehidupan sudah berjalan sebelum kita hadir. Akan kita temui orang yang sudah lebih lama tinggal, atau yang datang lebih akhir. Semua dengan peran dan porsinya masing-masing; menjadi tokoh utama dalam garis hidupnya masing-masing. Sebagian hanya sekedar berpapasan, sebagian yang lain akan memiliki pengaruh yang besar dalam hidup kita. Sebagian akan tinggal, dan sebagian lainnya mungkin hanya hadir sementara untuk memberi pelajaran hidup yang berharga. Sebagian akan pulang lebih dulu dan meninggalkan kita, atau kita yang justru dipanggil pulang lebih dulu. Tidak bersama sesiapa, melainkan hanya amal saja.
Yang jelas, tidak ada yang hadir hanya kebetulan semata. Semua pertemuan telah diatur sedemikian rupa oleh Yang Maha Pengatur, sesuai dengan apa yang kita butuhkan.
We are exactly where we need to be.
Untuk semua peran dan porsi yang sedang dijalani dan diusahakan; semoga kita dimampukan untuk melaksanakan semuanya dengan sebaik-baiknya, aamiin.
---
Pelabuhanratu, 14.09
18: Encounter
"Every encounter is a test. Both for you, and the other person you meet. And so does every separation. Both for us, and to the others that we long for. May Allah always bless us with countless syukr for every encounter, and give us endless shabr for every separation we have."
a beautiful waning gibbous moon, on the night of 18.
---
Pelabuhanratu, 20.40
17: a Quarter
Memasuki akhir pekan ke-tiga belas; artinya hampir genap satu kuartal di tahun 2024 ini terlewati. Rasanya sampai saat ini ada banyak sekali hal baik yang bisa disyukuri; badan yang sehat dan masih bisa bangun untuk berkegiatan, rezeki yang cukup sehingga masih bisa tidur tanpa merasa lapar, keluarga yang hangat dan utuh serta orang-orang sekitar yang peka dan peduli, hingga waktu yang masih ada.
Rasanya tidak ada alasan bagi dirimu untuk tidak bersyukur, tapi mengapa masih ada saja episode-episode tidak merasa tenang? Mengapa masih mencari ketenangan dari selain Yang Maha Memberikan Ketenangan pada Hati? Tidakkah dirimu rindu merasa cukup? Tidakkah dirimu rindu ketenangan itu?
"Hatiku tenang karena mengetahui apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan melewatkanku." -Umar ibn Khattab ra.
---
Pelabuhanratu, 22.49
16: Memaafkan
Adalah salah satu perjuangan berat bagi manusia sepanjang masa. Saat sekeping hati sudah tersakiti, urusannya sungguh bisa pelik sekali. Sakit yang tercipta otomatis akan terbawa kemana pun melangkahkan kaki. Ikut kemana saja jasad pergi, membuat ganjalan yang tak kunjung beranjak pergi. Apalagi saat yang membuat sakit bahkan tak sadar jika dirinya menimbulkan luka di hati. Sakit, ya?
Yang kena dampaknya ternyata bukan hanya hatimu. Tapi juga fisikmu, pikiranmu, performamu. Semuanya.
Jadi, daripada menyimpan luka lama-lama, lebih baik sembuhkan saja luka itu. Pelan-pelan, maafkan. Maafkan. Maafkan.
Accept that nobody’s perfect. Barangkali kita juga sempat menorehkan luka tapi hati terlalu tinggi untuk menyadari.
Yuk diri, mari maafkan, agar hati lapang.
---
Pelabuhanratu, 00.00