Aku sejenak tertegun saat mendapati sekotak paket yang diantar di depan rumahku. Isinya, sebotol besar minyak zaitun. . "Usapkan ke perut istrimu, atau minum sesendok tiap hari. Semoga keberkahannya memudahkan hajatmu." Tulismu pada secarik kertas di dalam wadah paket itu. . Alih-alih segera mematuhi isyarat pada secarik kertas darimu itu, aku malah diam tertegun. Senyumku mengembang mengingat dirimu, dan sepotong perjalanan hidup yang pernah kulalui bersamamu. . Aku masih ingat dengan jelas saat pertama mengenalmu di bangku SMA dulu. Kau datang ke kelas kami, mengingatkan untuk datang ke masjid sekolah selepas jam pelajaran terakhir. Kau menjadi kakak asisten mentor kelas kami untuk kajian pekanan yang kita sebut mentoring. Ya, kau setahun lebih senior dariku. . Sebagai lulusan SMP Islam, awalnya aku tak begitu bersemangat mengikuti mentoring. Mungkin aku merasa sudah cukup paham dengan agamaku. Apalagi kulihat dirimu, sebagai kakak asisten mentor kami, ternyata belum lancar juga membaca Al Qur'an. . Begitulah, bisa dibilang kesan pertamaku terhadapmu amatlah biasa saja. Tak ada yang istimewa. Bahkan aku cenderung meremehkanmu. Sebagai asisten mentor, seharusnya kau lebih pandai dalam urusan agama daripada kami para mentee, begitu hematku saat itu. Tapi ternyata, inilah nantinya yang membuat kita bersambung ukhuwah umpama saudara. . Suatu hari selepas jamaah dhuhur di jam istirahat sekolah, kau mendekatiku dari belakang. Aku sedikit terkejut pula, ada gerangan apa tiba-tiba. . "Dik, maukah bantu mas belajar baca Quran?" Tanyamu setelah kita saling berbasa-basi. . "Wah, Mas, kenapa harus saya? Saya kan juniornya Mas." Jawabku mencoba mengelak. . "Mas perhatikan saat mentoring, dirimu paling bagus bacaan Qurannya. Apalagi lulusan sekolah Islam. Makanya Mas ingin belajar darimu." Ujarmu menjelaskan. . Aku lama tak membalas karena bingung harus berkata apa. Sebenarnya aku tak berminat membantumu, tapi aku juga tak punya alasan untuk menolak permintaanmu. . "Sejenak saja selepas mentoring, ketika teman-temanmu sudah pulang. Mas lihat kau juga selalu pulang cukup larut. Bagaimana, mau ya?" Lanjutmu menawarkan, seakan mengetahui kegamangan di kepalaku. . "Baiklah mas, saya usahakan. Tapi jangan terlalu bergantung ya. Saya juga tak mahir benar baca Quran." Jawabku sedikit berbasa-basi. Mendengarnya, kulihat wajahmu mengembang. Lalu kau berpamitan selepas menjabat tanganku erat. . Aku sempat heran dan mengernyitkan dahi setelah kau agak jauh. Ada juga orang sepertimu, pikirku. Seakan tak punya 'self-esteem', meminta bantuan dari adik juniornya. Kalau saja aku di posisimu, aku pasti sudah dikepung gengsi untuk meminta bantuan dari orang yang lebih muda dariku, apalagi posisinya antara asisten mentor dengan mentee. Tapi nantinya aku akan menyadari, sifat inilah yang membuatku mengagumi dan menghormatimu. . Hampir setahun berlalu, kau sudah lebih lancar membaca Quran. Diantara teman sekelasku, mungkin aku yang paling akrab denganmu. Bagaimana tidak, hampir tiap pekan kau mencuri waktuku selepas mentoring untuk membantumu membaca Quran. Diantara waktu-waktu itu kita pun banyak berbincang, bercerita tentang diri kita masing-masing. . Tibalah saat pengelompokan mentoring lanjutan untuk siswa-siswa yang aktif dalam kegiatan Rohis. Aku sempat terkejut, di dalam kelompokku, ada namamu tertulis. Kau lalu datang menghampiri, duduk di sebelahku, melingkar bersama teman-teman lainnya. Di lingkaran itu, kulihat hanya kau yang berbeda tingkat dari lainnya. Entah kenapa aku mencemaskan keadaan itu. Aku khawatir kau merasa canggung atau malu berada dalam kelompok yang semuanya adik kelasmu. Kulihat ke arah wajahmu, tapi tak kutemukan apa-apa yang kucemaskan itu. Kau begitu tenang, luwes, bahkan lebih ceria dari kami semua. Sejak itu aku mulai menaruh kagum padamu. . Kau pernah bercerita, bahwa dulunya kau adalah anak yang cukup badung. Terlambat mengenal nikmat berislam secara semangat. Terlambat aktif dalam kegiatan Rohis daripada teman-teman setingkatmu. Terlambat mendapatkan pelajaran-pelajaran keislaman baik dari mentoring maupun kajian-kajian umum. Tapi suatu saat kau menemukan titik balik, lalu tak segan mengejar apa-apa yang telah tertinggal darimu. . "Aku membaca sebuah tulisan yang didalamnya terkutip sebuah hadits percakapan antara Rasulullah dan para shahabatnya." Ujarmu mengenang masa-masa titik balikmu itu. . "Saat itu Rasulullah berujar bahwa beliau merindukan saudara-saudaranya. Lalu para shahabat mengatakan bahwa mereka adalah saudara-saudara Rasulullah. Tetapi Rasulullah menjawab, 'Kalian adalah shahabat-shahabatku. Sedangkan saudara-saudaraku adalah mereka yang beriman kepadaku tetapi belum pernah melihatku.'" Lanjutmu menceritakan. . "Membaca itu tiba-tiba ada yang berdesir di dadaku. Apakah bisa aku menjadi saudara Rasulullah, sedangkan keadaanku seperti ini? Lalu melanjutkan tulisan itu, sampailah aku pada sebuah hadits yang membuatku meneteskan air mata. Rasulullah berujar sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Setiap Nabi mempunyai doa yang mustajab. Maka para Nabi bersegera memanfaatkan doa itu. Tapi aku menyimpan doa itu sebagai penolong untuk umatku di hari Kiamat." Ceritamu berhenti. Kulihat bibirmu tercekat menahan bermacam perasaan yang membuncah di dadamu. Aku menyaksikan saat itu betapa cintanya kau pada Rasulmu. Sesuatu yang selalu membuatku cemburu padamu. . Hari-hari kebersamaan dalam mentoring dan aktifitas Rohis telah kita lalui. Aku selalu ingat disaat mentor kita membahas tentang sisi hidup dan kepribadian Rasulullah, kau yang paling bersemangat menyimaknya. Kau tegakkan posisi dudukmu. Kau catat semua hal berkaitan Rasulullah yang disampaikan oleh mentor kita. . Suatu hari saat mentoring membahas cara makan dan makanan kesukaan Rasulullah, adalah salah satu momen mentoring yang paling berkesan bagiku. Kulihat kau begitu serius menyimak dan mencatat semua karakteristik makan Rasulullah. Mulai ketika Rasulullah memulai makan dengan basmalah. Lalu mengakhirinya dengan doa -alhamdulillahilladzi ath'amana wasaqana waj'alana minal muslimin. Lalu kau bertanya, apakah boleh membaca doa tambahan sebelum basmalah saat memulai makan? Mentor kita menjawab boleh. Setiap doa yang baik boleh diucapkan. Bahkan semoga saja menjadi tambahan pahala. . Mentor kita juga menjelaskan bahwa Rasulullah makan menggunakan tiga jari, yaitu jari tengah, jari tasyahud, dan ibu jari. Lalu pernah di pertemuan selanjutnya di rumah mentor kita, kau mencoba memakan nasi soto yang berkuah panas dengan tiga jari. Tentu saja kau kepayahan dan menggerak-gerakkan jarimu yang hampir melepuh itu. Kami semua terpingkal melihat tingkahmu itu. Mentor kita lalu menjelaskan bahwa diantara maksud dari makan menggunakan tiga jari yaitu makan sesuai dengan kadarnya. Sehingga baik dilihat orang, dan baik pula untuk pencernaan kita. Jadi meskipun amat baik meniru secara literal, tapi tidak melulu diterapkan dalam berbagai kesempatan. Apalagi yang malah menyusahkan diri sendiri. . Dijelaskannya juga bahwa Rasulullah tak pernah makan diatas meja dan menjilat ketiga jarinya setelah makan. Maka kusaksikan dirimu setelah pertemuan mentoring itu sangat jarang makan di warung atau restoran kecuali jika sedang diundang. Kau lebih memilih membungkus makanan yang kau beli, dan memakannya di rumahmu sambil duduk di atas lantai. . Saat mentor kita menjelaskan makanan-makanan kesukaan Rasulullah, disana kejadian lucu tapi berkesan terjadi. Rasulullah menyukai kurma, labu, makanan-makanan manis, madu, dan cuka sebagai kuah lauk. Bagian daging yang beliau suka adalah dzir'an, yaitu bagian dengkul sampai kaki. Beliau suka meminum air manis dan dingin, juga air rendaman kurma. . Mendengar penjelasan mentor itu, kau sedikit terhenyak. Karena kau tidak suka dengan labu. Lalu pernah suatu kali kita berjalan, kau mengajakku mampir ke sebuah warung yang menjual kolak. Aku agak terheran karena biasanya pada kolak terdapat labu, dan kau tidak suka itu. . "Aku tak mau membenci apa-apa yang disukai Rasulullah. Jadi aku harus menghilangkan ketidaksukaanku pada labu." Ujarmu bersemangat. . Kau ambil sepotong labu pada kolak dengan sendokmu. Kau pandangi sebentar. Lalu kau makan dengan sedikit memejamkan mata. Kau kunyah dan menelannya dengan agak berat. . "Ternyata tak begitu buruk. Bahkan cukup enak sebagai pasangan pisang." Ujarmu sedikit menyeringai sambil menghabiskan kolakmu dengan bersemangat. Aku hanya tersenyum melihat tingkahmu. . Sering juga ketika kita sedang makan bersama dengan teman-teman sekelompok mentoring, di tengah makan kau mengingatkan kami. "Sudah baca doa dan basmalah semua kan? Kalau belum, baca bismillahi awwalahu wa akhirahu." Serumu yang terkadang mengagetkan kami yang sedang makan. . Beberapa teman terkadang mencibirmu, menyebutmu sok karena sikapmu yang seperti ini. Tapi aku yang mengenalmu lebih baik dari mereka tak pernah mengindahkannya. Aku tahu benar betapa kau melakukannya semata karena kecintaanmu pada Rasulullah. Sehingga kau bersemangat melakukan apa-apa yang dilakukan Rasulullah semampumu. Jika bisa aku umpamakan, mungkin kau seperti Ibnu Umar yang selalu mengikuti semua tingkah laku Rasulullah. Atau setidaknya kau lebih baik dariku dalam urusan ini. . Aku bahkan sering sengaja mengundangmu ke rumahku, atau mengunjungi rumahmu hanya untuk memandangi caramu makan. Entahlah, aku semacam bisa merasakan sunnah yang hidup hanya dari melihatmu makan. Sesuatu yang membuatku nyaman. Sesuatu yang membuatku tenang. . Seperti tiga hari lalu saat aku mengunjungimu. Kau berbisnis herbal dan membuka klinik bekam disamping mengajar ngaji di TPA masjid samping rumahmu. Selain ingin melihat 'sunnah yang hidup' darimu, aku sebenarnya ingin menumpahkan perasaan tentang biduk keluargaku yang belum dikaruniai anak dalam sepuluh tahun ini. Aku tak menemukan siapapun yang lebih tepat bagiku untuk bercerita selain dirimu. Tapi sesampainya disana, aku tak mampu mengangkat pembicaraan atas apa niatku sebenarnya menemuimu. Aku tiba-tiba diingatkan oleh pesanmu di hari pernikahanku dulu. . "Jangan melancangi Penguasa Kehidupan ini atas semua masalah yang kita hadapi dengan mengadu kepada selainNya. Mengadulah selalu kepada Allah, karena hanya Dia yang kuasa mengobati semua lukamu, memudahkan semua urusanmu dan melancarkan semua keinginanmu. Keluargamu, keluarga istrimu, bahkan istrimu pun tak akan mampu melakukannya jika tanpa kehendak dari Allah." Ucapmu dengan mata tajam saat itu. . Aku akhirnya pulang setelah puas berbincang hal-hal lain denganmu, dan tentu saja, makan bersamamu. Lalu hari ini, tiga hari berselang, paket ini sampai ke rumahku. Kubaca lagi kalimat yang tertulis di secarik kertas di dalamnya. "Usapkan ke perut istrimu, atau minum sesendok tiap hari. Semoga keberkahannya memudahkan hajatmu." . Ah, kau bahkan bisa membaca maksud asliku tanpa harus kuutarakan. Aku teringat suatu malam saat kita berjalan di antara deretan toko di kampung Arab setelah menunaikan shalat Tarawih dulu. Kau berhenti di sebuah toko yang menjual berbagai bahan penganan Arab. Kau ambil sebotol minyak zaitun yang terpajang di sana. . "Aku pernah mendengar hadits, bahwa Rasulullah pernah menitahkan untuk memakan buah zaitun dan berminyak dengannya, karena ia berasal dari pohon yang diberkahi." Ujarmu sambil mengamati botol minyak zaitun yang kau pegang itu. . "Berapa harganya?" Tanyaku sambil mencondongkan kepala untuk melihat harga di botol tersebut. "Wah, ini mahal sekali." Ucapku menyeringai saat mengetahui harganya. . "Tapi bagaimanapun juga, suatu saat kita akan butuh terhadap titah-titah Rasulullah. Kita akan butuh kembali kepada Dzat yang kepadaNya segala sesuatu bergantung, melalui sunnah-sunnah Rasulullah. Saat semua usaha kita tak lagi berhasil, saat semua bantuan manusia tak lagi berguna. Saat itu kita akan butuh kembali kepada Allah dan RasulNya. Berpasrah pada apa yang diajarkan Rasulullah, apapun hasilnya." Ucapmu sambil tersenyum ke arahku. . Saat itu aku tak terlalu paham maksud ucapanmu. Tapi saat mendapati paket kiriman darimu ini, aku jadi menyadari maksud dari ucapanmu dulu itu. Kau benar, Mas, kita akan selalu butuh kembali kepada Allah dan RasulNya. . #serisyamail #maulid #rasulullah










