Apakah kau berbahagia apabila yang duduk di sisimu adalah bukan aku?
Apakah kau bisa merekahkan senyum kelegaan saat yang mengecup kening sembari berucap aku mencintaimu adalah bukan aku?
Apakah kau akan lelap dalam tidur jika jemari yang menyisir lembut rambutmu adalah bukan jemari milikku?
Apakah kau masih rutin melayangkan doa untuk aku yang terhuyung-huyung mencari dekapan yang serupa engkau?
Kala inilah segala tanya bisa jadi mengerikan, Sayang. Bak kail yang menggantung otakku di puncak gondola rapuh.
Mungkin akan jadi sepayah ini saat aku jauh dari pandangmu. Rasanya, selalu melelahkan melahap remah-remah waktu yang seketika lebur tergilas cawan anggur.
Ah!
Kau datang. Aku tahu kau pasti datang. Masih dengan langkah kaki yang sangat kukenali, membawa sebuket anyelir putih di genggaman tangan kiri.
Kemarilah, Sayang. Letakkan di atas tubuhku. Lalu tengok ke arah sudut yang lengang. Untukmu telah kusengajakan mengurung senyum di balik pigura. Di sana, di sudut sana.
Bawalah pulang senyumanku, lekatkan aku dalam dekap saat kau dirundung rindu yang menggunung. Sebab dekapanmu, mendekatkan aku pada hatimu.
Dariku, yang senantiasa merindukan hangatnya perapian matamu.
Anyelir