Apa yang pertama kali terlintas dalam benak ketika kau mendengar orang memperkenalkan diri dengan nama Bara? Mungkin kau akan menerka dia adalah jelmaan batu panas yang bisa menyala-nyala. Hahaha! Dan ya, betul sekali. Menurutku orang tua Bara tak pernah salah memberikan nama. Cocok sekali dengan kepribadian Bara yang selalu menggebu-gebu dalam berkarya. Belum rampung satu novelku, dia bahkan sudah menyelesaikan dua novel. Itulah satu hal yang aku salutkan darinya. Dia selalu konsisten dalam mendalami suatu bidang yang menjadi kesukaannya dan juga pandai menularkan energi pada sekitar. Seringkali dia menyemangatiku untuk terus menulis dan tak pernah pelit untuk memberikan ilmunya. “Banyak penulis yang lebih handal dari aku, namun jarang ada yang mau membagikan ilmunya kepada penulis lain, Zenna.” Begitulah dia menjawab ketika aku bertanya mengapa sering kultwit tentang cara menulis yang baik. :p
Bara sangatlah peka dengan sekitar. Apapun yang ia dengar dapat menjadi inspirasinya. Ketika dia mendengar curahan hati seorang teman, selalu saja tiba-tiba ada ide cemerlang yang muncul dalam kepalanya. Terlebih dia akan stres jika terlalu lama memendam banyak ide dalam pikiran. Itulah darimana Cinta. berasal. Ya, novel Cinta. terinspirasi dari curahan hati seorang teman yang pernah menjadi orang ketiga. Namun, umn… sebaiknya tak kusebutkan siapa dia atau Bara akan menggantungku di pohon cabai usai ku-posting tulisan ini. Hahahaa!
Saat proses menulis Cinta., aku dan Bara sempat berbincang mengenai novel ber-cover hitam ini. Aku sudah mendapat persetujuan empunya untuk mem-posting beberapa percakapan kami di sini.
Zenna : “Kenapa kamu memilih tentang perselingkuhan? Bukankah akan mirip jadinya dengan Kata Hati yang berujung pada sebuah pilihan?”
Bara : “Karena semua orang pernah dikhianati dan dikecewakan, Zenna. Topik yang dibahas berbeda. Dan di Cinta. aku memasukkan puisi dan haiku yang tidak kulakukan di Kata Hati. Itu akan menjadikannya menarik. Semoga. Hehehe."
Zenna : “Wait, dikecewakan dan dikhianati? Maksudnya termasuk kamu? Hahahaha! Lalu bagaimana? Masih percaya cinta?”
Bara : “Apa tadi kubilang? Semua orang, termasuk aku. Hahaha! Tetapi aku tentu saja masih percaya cinta.”
Zenna : “Baguslah… Hm, coba ibaratkan cinta dengan dua benda, Bara.”
Bara : “Cinta adalah buku dan perempuan. Karena aku mencintai mereka dan mereka dengan begitu mudahnya membuat aku mencintai mereka. Apalagi perempuan yang tahu cara membawa diri dengan berdandan tidak berlebihan. Ah, menggemaskan sekali. Tapi anehnya, mereka itu makhluk yang sulit kutebak isi kepalanya. Kau tahu, itulah yang menjadi kendala terbesarku saat menuliskan cinta. Aku harus berpikir seperti seorang perempuan. Sebab, tokoh utama novel ini adalah perempuan. Aku harus cemburu layaknya cemburunya seorang perempuan. Berpikir dan bicara seperti seorang perempuan. Bereaksi dan merasa seperti seorang perempuan.
Zenna : “Hah, Boys! Selalu tidak bisa santai lihat cewek lucu.”
Bara : “Kamu juga tidak kalah lucu, Zenna.”
Zenna : “Diam! Jangan menggombaliku.”
Bara : “Hahahaha… Dasar galak! Anyway, aku akan memasukkan puisi Sapardi Djoko Damono dalam novel Cinta..”
Zenna : “Ide bagus! Kalau Sapardi Djoko Damono baca novel Cinta., kira-kira apa komentarnya?”
Bara : “Kurasa dia hanya akan berhenti dan membaca di halaman-halaman yang ada puisinya. Sisanya, ia akan langsung menutup buku itu. Hahaha!”
Zenna : “Hahahaa! Atau mungkin dia hanya akan memastikan kamu menuliskan puisinya tanpa typo."
Bara : "Hahaha! Bisa jadi."
Zenna : "Lalu, untuk design covernya?”
Bara: “Mungkin akan pakai warna hitam.”
Bara : “Karena aku ingin menggambarkan bahwa Cinta. tak selamanya terang. Ada sisi gelap Cinta. yang juga harus dipahami setiap orang, demi menemukan cahaya itu sendiri.”
Zenna : “Okay, I got it. Umn, aku penasaran wajah Nessa dan tokoh lainnya. Coba beritau aku artis atau tokoh yang wajahnya atau stylenya mirip mereka dan zodiak mereka apa? Kamu kan manusia zodiak, jadi aku yakin saat membuat karakter untuk tokoh-tokoh di novel Cinta. kamu mempertimbangkan zodiak mereka. Hahahaa!”
Bara : “Hmm... Nessa itu seperti Avril Lavigne versi nerd; berbintang Scorpio. Demas seperti Nicholas Saputra versi mata besar dan kulit gelap; berbintang Libra. Ivon itu seperti Sandra Dewi dengan poni depan a la Cleopatra; berbintang Aries. Endru itu seperti Brad Pitt usia 25-an; berbintang Cancer.
(Baiklah, itulah sedikit percakapan kami yang diperkenankan Bara untuk di-publish. Di mana kalian biasa bertemu Bara? Timeline. Dia ada di sana pagi, siang hingga malam seperti operator Twitter.)