Day 14 Augustrope : Truth or Dare [ID]
Luke Springgleam x Olive [ OC from Novel Lilac's Memory]
Non-Fantasy AU!
No warning, but you know, la ....
"The next chosen one must kiss one of us. Got it?"
-----
Botol bening berhenti berputar. Mengarahkan moncongnya kepada gadis berambut pendek kecoklatan. Sontak semua orang mengalihkan pandang ke arahnya yang sedikit tertegun.
Salah satu dari mereka berucap, dengan seringai dan antusiasme akan pertunjukan gratis yang segera datang. "Ayo, Shika. Ingat! Peraturannya siapa pun yang kena nggak boleh mundur, kamu setuju juga kan di awal?"
Shika menghela napas, lantas mulai mengabsen makhluk-makhluk yang ada di dalam rooftop kecil semi terbuka beralaskan tikar. tak butuh waktu lama, sebelum manik lilanya berhenti. Melalui ekor mata, ia melirik salah seorang pemuda yang duduk berselang dua orang dari kanannya.
Seakan mengerti maksud dari kerlingan yang terlempar, dua orang tersebut menyingkir, membuka lebar-lebar jalan antara sang gadis dengan pemuda yang balik menatap dengan raut bingung.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun, Shika merangkak mendekat. Pelan dan penuh kehati-hatian seakan ia takut mangsa yang hendak ia terkam akan melarikan diri. Namun, kehati-hatian itu justru membuat jantung lelaki itu berdegup lebih kencang. Dan, dia seperti benar-benar menjadi mangsa dari hewan buas yang haus akan tubuhnya. Kegugupan itu membuatnya tak sanggup bergerak, hingga perempuan tersebut berhasil duduk hanya berjarak satu jengkal darinya.
Dengan badan condong ke depan dan satu tangan pada pipi si lelaki, gadis itu bertanya--sedikit berbisik. Menghantarkan hembusan napas yang hangat pada kulit hingga membuatnya bergidik.
"Where do you want me to kiss, you, XX?"
"Wh-wh-what--"
"Fine. Where do you guys want me to kiss him?" Kini, suaranya meninggi. Tak mendapat jawaban memuaskan dari targetnya--tanpa melepas kuncian mata antar keduanya--Shika balik bertanya kepada orang-orang yang memberikan tantang gila di Dare or Dare ini.
Tanpa ragu, semua berteriak. "LIPS! KISS HIM ON LIPS!"
"H--hah--?!" Segala protes tak sempat lolos dari kedua bibirnya, karena sedetik kedua mulutnya telah disumpal lebih dulu oleh bibir gadis di depannya. Memaksa ia untuk menelan bulat-bulat semua rangkaian kalimat kembali ke tenggorokan.
Sorak-sorai hisetria lantas terdengar riuh di di gendang telinga. Namun, semua itu tak dapat diproses XX dengan dorongan paksa yang terus diberikan dari makhluk lawan jenis ini. Tangan yang semula bertengger di pipi, kini bergerak lembut menuju tengkuk. Sekali lagi, menghantarkan sengatan yang membuat seluruh buku kuduk XX berdiri.
Pemua itu tak sanggup berontak, tak sanggup pula bersuara. Sebab, gadis yang menguasai dirinya, lebih dulu menyusupkan lidah saat XX hendak mengisi ulang paru-parunya yang terasa kosong dan sesak. Shika benar-benar tidak memberinya kesempatan untuk mencerna dan bereaksi terhadap semua yang terjadi.
Pertunjukan menjadi sedikit lebih panas dari yang direncanakan, baik oleh teman-temannya, maupun oleh Shika sendiri. Gadis berambut coklat itu hanya tak bisa menahan dirinya. Sosok tak berdaya dalam rengkuhan membuatnya gila. Reaksi kejut yang diberikan XX setiap kali ia melumat kedua bibirnya, atau saat lidahnya mengabsen giginya di dalam sana, membuatnya ingin terus dan terus menikmati momen ini.
Shika membiarkan dirinya tenggelam dalam kenikmatan--menggiring XX untuk turut serta dengannya. Membiarkan tubuh dan suasana mengendalikan semuanya, hingga dia rasa cukup, lantas melepaskan diri dari sang pemuda.
Saliva panjang masih meninggalkan jejak dari aksi gila tersebut. Shika memperhatikan wajah semerah tomat dan napas terengah-engah XX. Ia juga bisa mendengar rintihan pelan dan suara yang sedikit bergetar, sebelum kemudian tubuh itu jatuh lemas ke atas pahanya.
Shika refleks mengusap pelan rambut sang lelaki. Membisikkan sesuatu yang terdengar seperti, "You did a good job." Namun, XX tak tahu. Dia tidak bisa mendengar jelas dengan kepalanya yang masih seperti diselimuti oleh kabut.
Gadis yang masih menenangkan pemuda di pangkuannya mengangkat kepala. Sekali lagi mengedarkan pandangan pada orang-orang yang semula begitu antusias, tapi kini justru tertegun tanpa suara.
Senyum lebar dia lemparkan, lantas berucap, "Jadi, tantangan apalagi yang akan kita lakukan sekarang?"
--End--









