Merawat Silaturrahim dg Bp Irman Gusman dan Mu Sumbar, ortom dan AUM, @ UM Sumbar, Selasa 1/2/2022.
📷

#dc comics#dc#batman#tim drake#dick grayson#batfam#bruce wayne#batfamily#dc fanart



seen from Germany
seen from Malaysia
seen from China
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from Thailand
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from Brazil

seen from Argentina
seen from Germany
Merawat Silaturrahim dg Bp Irman Gusman dan Mu Sumbar, ortom dan AUM, @ UM Sumbar, Selasa 1/2/2022.
📷
Ikon Dunia, Pariaman Raya dan Harmoni Sosial Oleh Shofwan Karim Kabupaten Padang Pariaman menurut Sensus Online 29 Mei 2020, berpendud
Perkembangan Ilmu Pengetahuan pada Masa Bani Umayyah
Senin, 24 Mei 2021 | 16:11 WIB
Masjid Agung Damaskus atau Masjid Umayyah yang berdiri di Kota Tua Damaskus, Suriah.
KOMPAS.com - Bani Umayyah adalah kekhalifahan kedua yang didirikan setelah wafatnya Nabi Muhammad, menggantikan Khulafaur Rasyidin.
Daulah Umayyah resmi berdiri pada 661 M, setelah wafatnya pemimpin terakhir Khulafaur Rasyidin, Khalifah Ali bin Abi Thalib.
Pendiri dan khalifah pertama Bani Umayyah adalah Muawiyah bin Abu Sufyan atau Muawiyah I.
4+
KOMPAS.com: Baca Berita Update, Akurat, Terpercaya
Baca Berita Terbaru Tanpa Terganggu Banyak Iklan
Dapatkan Aplikasi
Pemerintahan kekhalifahan ini sebenarnya berlangsung cukup lama, yaitu selama 365 tahun.
Namun, pemerintahannya terbagi atas dua periode, yaitu pemerintahan di Damaskus selama 90 tahun (661-750 M) dan pemerintahan di Cordoba (Spanyol) selama 275 tahun (setelah kekuasaannya di Damaskus digulingkan Kekhalifahan Abbasiyah).
Daulah Umayyah mencapai masa kejayaan pada periode pemerintahan Khalifah al-Walid I atau al-Walid bin Abdul Malik, yang memerintah antara 705-715 M.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email
Pada masanya, pembangunan tidak hanya difokuskan pada perluasan wilayah, tetapi juga membangun jalan raya, pabrik, gedung, masjid, dan panti asuhan untuk orang cacat.
Selain itu, ilmu pengetahuan juga berkembang pesat dan umat Islam hidup dengan aman, makmur, dan tenteram.
Baca juga: Kekhalifahan Bani Umayyah: Masa Keemasan dan Akhir Kekuasaan
Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Bani Umayyah
Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Bani Umayyah tidak terlepas dari Al-Farabi.
Al-Farabi adalah salah seorang ilmuwan muslim pada masa Bani Umayyah yang berhasil menuliskan karya-karyanya yang hingga saat ini masih digunakan rujukan oleh ilmuwan-ilmuwan dari zaman modern.
Selain memelajari ilmu agama, para ilmuwan muslim dari masa Bani Umayyah juga belajar banyak bidang keilmuan lainnya.
Faktor perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Bani Umayyah adalah perluasan wilayah kekuasaan.
Berikut ini beberapa ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa Kekhalifahan Bani Umayyah.
1. Ilmu Agama
Salah satu ilmu agama yang berkembang adalah ilmu hadis, yang ditandai dengan kodifikasi dan pembukuan hadis.
Kodifikasi hadis secara resmi dimulai pada masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz.
Baca juga: 10 Tokoh Ilmuwan Muslim dan Keahliannya
2. Ilmu Bahasa
Pemerintah Bani Umayyah menjadikan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi dalam administrasi pemerintahan di berbagai wilayah.
Hal ini kemudian mendorong lahirnya ahli bahasa, yaitu Sibawaihi, yang menghasilkan karya berjudul Al-Kitab yang menjadi pedoman ilmu tata Bahasa Arab hingga saat ini.
Pada masa pemerintahan Abdul Malik, juga dilakukan pembaruan ragam tulisan Arab.
Hajaj Ibn Yusuf memperkenalkan tanda vokal dan tanda titik untuk membedakan beberapa huruf yang sama bentuknya.
Pembaruan ini menjadikan Bahasa Arab lebih sempurna sekaligus menghilangkan kesulitan bagi pembaca, khususnya orang-orang non-Arab.
Beberapa ilmuwan dalam bidang bahasa dan sastra beserta karyanya antara lain.
Ali al-Qali, karyanya berjudul al-Amali dan al-Nawadir
Abu Bakar Muhammad Ibn Umar, karyanya berjudul al-Af'al dan Fa'alta wa Af'alat
Abu Amr Ahmad ibn Muhammad ibn Abd Rabbih, karyanya dalam bentuk prosa berjudul al-Aqd al-Farid
3. Ilmu filsafat
Filsafat Islam pertama kali muncul pada masa Daulah Umayyah, dimulai dengan penerjemahan filsafat Yunani ke dalam Bahasa Arab.
Scroll untuk lanjut baca
Salah satu ilmuwan muslim dalam bidang filsafat yang sangat terkenal adalah Al-Farabi, yang menyetujui dan mengembangkan logika Aristoteles.
Al-Farabi menciptakan titik balik sejarah pemikiran filsafat Islam, dan salah satu karyanya adalah Ihsab al-Ulum (Perhitungan Ilmu).
Baca juga: Kekhalifahan Abbasiyah: Sejarah, Masa Keemasan, dan Akhir Kekuasaan
4. Ilmu Kedokteran
Ilmuwan dalam bidang kedokteran yang terkenal adalah Abu Al-Qasim Az-Zahrawi.
Az-Zahrawi adalah dokter bedah terkemuka di Cordoba yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan ilmu kedokteran, khususnya ilmu bedah.
Ia dikenal sebagai peletak dasar-dasar teknik ilmu bedah modern dan juga mampu menciptakan alat bedahnya sendiri.
Beberapa alat bedah yang diciptakannya juga masih digunakan hingga sekarang.
Semua pemikirannya dituangkan dalam Kitab at-Tasrif Liman 'Ajiza'an at-Ta'lif, tentang metode pengobatan yang digunakan sebagai rujukan para dokter di Barat.
Selain Az-Zahrawi, ilmuwan lain dalam bidang kedokteran adalah Abu al-Abbas an-Nabati, yang mengelompokkan tumbuh-tumbuhan berdasarkan nama, spesies, dan tempat tumbuhnya.
An-Nabati juga menulis Al-Jami fi Adwiyyah al-Mufradah dan membuat daftar obat-obatan sederhana dalam Bahasa Persia, Latin, dan Berber menurut susunan abjad.
5. Ilmu Kimia
Perkembangan ilmu kimia ditandai dengan munculnya beberapa ahli kimia seperti Abu al-Qasim Abbas ibn Farnas dan As-Sibai.
Baca juga: Khulafaur Rasyidin: Tugas dan Kebijakannya
6. Ilmu Fisika
Salah satu ahli fisika dari Bani Umayyah adalah Ibnu Bajjah, yang mengatakan bahwa selalu ada reaksi pada setiap aksi.
Teori ini sangat berpengaruh pada fisikawan setelahnya, termasuk Newton dan Galileo.
Selain itu, Ibnu Bajjah juga sangat berjasa dalam mengembangkan psikologi Islam.
7. Ilmu Astronomi
Para ilmuwan muslim sangat memerhatikan ilmu astronomi karena ilmu ini berhubungan dengan pelaksanaan beberapa ibadah, seperti waktu salat, penentuan arah kiblat, penetapan hisab, serta penentuan awal dan akhir Ramadan.
Salah seorang ilmuwan dalam bidang astronomi adalah Abu Ishaq az-Zarqali dari Toledo, Spanyol.
Kontribusinya yang terkenal adalah menciptakan peralatan astronomi dan Tabel Toledo.
8. Ilmu Sejarah
Pada masa Daulah Umayyah, banyak sejarawan muslim menulis kitab sejarah.
Beberapa ahli sejarah dan karyanya pada periode ini antara lain.
Ali Ibnu Hazm, yang menulis 400 judul buku
Abu Bakar Muhammad bin Umar, dengan karyanya yang berjudul Tarikh Ifititah al-Andalus
Hayyan bin Khallaf dengan karyanya yang berjudul al-Muqtabis fi Tarikh Rija al Andalus dan Al-Matin
Abu Marwan Abdul Malik bin Habib dengan karyanya at Tarikh
Referensi:
Barudin, Topaji Pandu. (2019). Perkembangan Ilmu Pengetahuan pada Masa Umayyah. Klaten: Cempaka Putih.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
https://www.kompas.com/stori/read/2021/05/24/161144079/perkembangan-ilmu-pengetahuan-pada-masa-bani-umayyah
Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Bani Umayyah.
Dr (HC) dan Syaratnya
Ramai-rami persoalan gelar Doktor Honoris Causa (HC) Amin Ma'ruf dan Erick Thohir. Apa gelar Doktor Honoris Causa dan bagaimana peraturannya
Polemik Gelar HC Ma'ruf Amin dan Erick Thohir, Apa itu Doktor Honoris Causa?
📷© Copyright (c) 2016 TEMPO.CO fotoTEMPO.CO, Jakarta - Presidium Aliansi Dosen Universitas Negeri Jakarta menolak rencana pemberian gelar Doktor Honoris Causa (HC) kepada Wakil Presiden Ma’ruf Amin dan Menteri BUMN Erick Thohir oleh senat universitas. Anggota aliansi dosen UNJ, Ubedilah Badrun, mengatakan upaya pemberian gelar doktor honoris causa pada pejabat sudah ditolak pada September 2020.Apa sebenarnya gelar Doktor Honoris Causa iyu?
Dilansir dari laman arsip.ugm.ac.id, gelar Doktor Honoris Causa (H.C) atau Doktor Kehormatan adalah gelar kesarjanaan yang diberikan oleh suatu perguruan tinggi atau universitas yang memenuhi syarat kepada seseorang, tanpa orang tersebut perlu untuk mengikuti dan lulus dari pendidikan yang sesuai untuk mendapatkan gelar kesarjanaannya tersebut.
Tidak semua Universitas atau Perguruan Tinggi dapat memberikan gelar Doktor Honoris Causa. Terdapat beberapa peraturan yang menjelaskan tentang pemberian Gelar Doktor Honoris Causa (H.C) atau Gelar Kehormatan, baik peraturan nasional maupun peraturan di lingkup Universitas atau Perguruan Tinggi.
Peraturan nasional misalnya pernah dikeluarkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1980 tentang Pemberian Gelar Doktor Kehormatan.
Peraturan ini dikeluarkan sebagai bentuk regulasi penyeragaman pemberian Gelar Doktor Kehormatan oleh Perguruan Tinggi berdasarkan syarat-syarat serta tata cara yang seragam dan sesuai dengan makna dan tujuannya.Isi dari peraturan ini secara umum menjelaskan bahwa gelar kehormatan diberikan oleh suatu Perguruan Tinggi kepada seseorang yang dianggap berjasa dan atau berkarya luar biasa bagi ilmu pengetahuan dan umat manusia.Secara lebih detail, dalam pasal 2 ayat (1) dijelaskan bahwa gelar kehormatan ini dapat diberikan kepada Warga Negara Indonesia (WNI) atau Warga Negara Asing (WNA).
Sedangkan di pasal 2 ayat (2) dijelaskan secara rinci pemberian gelar ini bagi seseorang yang berjasa atau berkarya, yaitu:Yang luar biasa di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan, dan pengajaran, Yang sangat berarti bagi pengembangan pendidikan dan pengajaran dalam satu atau sekelompok bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan sosial budaya, Yang sangat bermanfaat bagi kemajuan atau kemakmuran dan kesejahteraan bangsa dan negara Indonesia pada khususnya serta umat manusia pada umumnya Yang secara luar biasa mengembangkan hubungan baik dan bermanfaat antara bangsa dan negara Indonesia dengan bangsa dan negara lain di bidang politik, ekonomi, dan sosial budaya Yang secara luar biasa menyumbangkan tenaga dan pikiran bagi perkembangan perguruan tinggi.
Sedangkan bagi Perguruan Tinggi yang dapat memberikan gelar Doktor Honoris Causa, ada beberapa persyaratan yang perlu dipenuhi, yaitu:Pernah menghasilkan sarjana dengan gelar doktor ilmiah, Memiliki fakultas atau jurusan yang membina dan mengembangkan bidang ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan bidang ilmu pengetahuan yang menjadi ruang lingkup jasa dan atau karya bagi pemberian gelar,
Memiliki Guru Besar Tetap sekurang-kurangnya tiga orang dalam bidang yang dimaksud dalam poin nomor 2. NAUFAL RIDHWAN ALYBaca: Pejabat-pejabat yang Berhasil dapat Gelar Doktor Honoris Causa?