FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Tokoh Nahdatul Ulama (NU) Habib Noval Assegaf alias Gus Noval, mendadak mengomentari pernyataan Peneliti BRIN Thomas

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Argentina

seen from United States
seen from United States

seen from Sweden

seen from China
seen from United States
seen from Russia
seen from United States

seen from Philippines
seen from Russia
seen from United States
seen from Italy

seen from United States

seen from Canada
seen from United States
seen from China
FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Tokoh Nahdatul Ulama (NU) Habib Noval Assegaf alias Gus Noval, mendadak mengomentari pernyataan Peneliti BRIN Thomas
Reuni Mini Kk Dr Sumadi, Susy, Nova & Yelly 09 Juli 2026
@shofwankarim @shofwankarim2 @shofwankarim3 @shofwankarim
Prof Dr. H Duski Samad; Ulama, Nisbat, Terlanjur dan Pergeseran Nilai
Berikut adalah ringkasan padat dari artikel mengenai Ulama, Nisbat Ulama, dan yang Terlanjur Disebut Ulama (sekitar 390 kata):
Perbincangan tentang ulama selalu menarik dalam masyarakat Muslim karena posisi mereka yang terhormat sebagai pewaris nabi, pembimbing umat, dan penjaga moral. Namun, dinamika kontemporer memunculkan tantangan internal dalam organisasi keagamaan akibat kaburnya batas antara hakikat ulama, nisbat ulama, dan mereka yang terlanjur disebut ulama.
**1. Hakikat Ulama Sejati**
Berdasarkan QS. Fathir ayat 28, ukuran utama seorang ulama bukanlah popularitas, jabatan, jumlah pengikut, atau gelar akademik, melainkan *khasy-yah* (rasa takut dan takzim kepada Allah) yang lahir dari kedalaman ilmu. Ulama sejati dicirikan oleh integritas tinggi: semakin luas ilmunya, semakin rendah hatinya, dan semakin besar kepeduliannya pada umat. Sebagai pewaris para nabi (*warasatul anbiya'*), mereka mengemban amanah berat yang memadukan tiga dimensi utama: kedalaman ilmu, kemuliaan akhlak, dan keteladanan amal.
**2. Kelompok Nisbat Ulama**
Kelompok ini mencakup individu yang memiliki hubungan dengan dunia keulamaan, tetapi bukan ulama dalam pengertian hakiki. Mereka adalah aktivis umat, penggerak organisasi, pengelola pendidikan, mubalig, dai, dan guru agama. Peran mereka sangat berjasa bagi umat meskipun tidak semua memenuhi kriteria ulama klasik. Termasuk di dalamnya adalah keturunan ulama atau trah keagamaan. Perlu dipahami bahwa kehormatan nasab dapat diwariskan, tetapi ilmu, akhlak, dan ketakwaan harus diperjuangkan sendiri.
**3. Fenomena "Terlanjur Disebut Ulama"**
Era digital mempercepat bias otoritas keagamaan, di mana popularitas media sosial sering kali mengalahkan kedalaman ilmu. Seseorang yang cakap berbicara di depan kamera atau memiliki banyak pengikut dengan cepat dilabeli ustaz, kiai, atau ulama. Padahal, tradisi Islam menetapkan proses panjang untuk menjadi ulama, seperti belajar kepada guru bersanad dan menguasai disiplin ilmu. Akibatnya, masyarakat kerap mencampuradukkan ulama sejati dengan dai, motivator, atau selebriti religi.
**4. Tantangan dan Pergeseran Nilai**
Krisis moral terjadi ketika simbol agama dijadikan instrumen untuk memperebutkan kekayaan, jabatan, dan fasilitas politik. Ketika mimbar dakwah berubah menjadi tangga kekuasaan, marwah ulama menjadi dipertaruhkan. Fenomena figur agama yang berselisih demi materi dapat mengikis kepercayaan masyarakat dan generasi muda, membuat mereka kehilangan sosok keteladanan. Dalam perspektif tasawuf, cinta dunia (*hubb al-dunya*) seperti gila jabatan adalah penyakit hati. Islam tidak melarang kekayaan, tetapi menuntut ulama meletakkan dunia di tangan, bukan di hati.
**Kesimpulan**
Agenda mendesak umat saat ini adalah mengembalikan marwah ulama kepada posisi semestinya. Kehormatan mereka tidak dibangun oleh kemewahan fasilitas atau jabatan, melainkan oleh kedalaman ilmu, keberanian moral, dan keikhlasan mengabdi. Di hadapan Allah, kesempurnaan seorang hamba tidak diukur dari gelar pemberian manusia, melainkan dari ilmu yang diamalkan dan ketakwaan yang nyata.
Gens de Lévis c’est votre tour de vous laisser parler d’amour ! Bonne fête nationale à toutes les Lévisiennes et à tous les Lévisiens !
Sejak Fajar eksistensi manusia menyingsing, telaga atau oasis di ceruk Gurun Sahara klasik selalu menjadi simbol yang sakral—sebuah mata ai
Sejak Fajar eksistensi manusia menyingsing, telaga atau oasis di ceruk Gurun Sahara klasik selalu menjadi simbol yang sakral—sebuah mata ai
EKOTEOLOGI DAN KRISIS PERADABAN: REFLEKSI FILOSOFIS ATAS FILM PESTA BABI
Oleh Shofwan Karim (Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Wk Ketua MLH PP Muhammadiyah) Film Pesta Babi bukan sekadar karya sinema yang mengangkat masalah sosial dan politik; di dalamnya tersirat gambaran mendalam mengenai hubungan manusia dengan alam semesta. Melalui pendekatan ekoteologi—suatu kerangka pemikiran yang memandang relasi antara Tuhan, manusia, dan alam sebagai satu kesatuan yang tak…
Pesantren Ramadan dalam Cinta dan Iman
Oleh Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.Pengamat, Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Ketua PWM Sumbar 2015–2022; 2000–2005. Smart Surau (SS) atau Surau Cerdas menjadi salah satu ikon penting pada Ramadan 1447 H di Kota Padang. Program ini merupakan wujud nyata Program Unggulan (Progul) ke-3 dari sembilan program unggulan pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Padang, Fadly Amran dan…