Lulus dari dunia perkuliahan mungkin menjadi mimpi sebagian besar mahasiswa tingkat akhir. Ya, sama seperti mahasiswa tingkat akhir pada umumnya, saya pun merasa ingin cepat lulus supaya bisa bebas dari semua tugas perkuliahan dan yang paling penting bisa merasakan penghasilan sendiri. Sampai pada fase dinyatakan lulus, terasa euforia yang tersamarkan. Mengapa tersamarkan? Kabut yang berisi ikatan kimia kekhawatiran muncul. Khawatir tidak bisa mendapat pekerjaan, khawatir tidak bisa membanggakan orang tua dengan pekerjaan yang bergengsi dan menyenangkan orang tua dengan penghasilan yang besar.
Bulan Juli hari ke-31 menjadi saksi dimana kampus secara terhormat membuat saya “drop” dan “out”. Hehe, berlebihan mungkin. Tapi rasanya memang drop ketika saya tahu, KTM saya tidak adak berlaku lagi dan tabungan Tapma (Taplus Mahasiswa) saya juga mungkin akan di blokir oleh kampus. Beruntung, keluarga besar memberikan kesempatan untuk menikmati liburan atau masa istirahat sampai tahun 2013 habis, setidaknya itu persepsi mereka. Selang beberapa hari berlalu, rasanya masa istirahat ini melelahkan. Setiap hari membuat rundown acara sendiri dari bangun pagi sampai tidur. Semuanya menjadi rutinitas yang “membosankan”.
Selidik punya selidik, saya merasa telah “menidurkan” otak saya. Saya bukan pribadi pekerja, tapi pembelajar. Saya haus akan informasi baru, sampai informasi mengenai pekerjaan pun saya cari kemana-mana padahal ini masa istirahat kan? Hehe. Sepertinya setiap waktu saya haus akan informasi, informasi apa saja. Kemudian masa istirahat ini membuat otak saya harus berhenti mencari informasi, karena apa yang saya lakukan dirumah adalah rutinitas yang saya sudah tahu seluk beluknya. Perenungan ini membawa saya pada suatu titik, titik yang berpikir akan masa depan saya nanti.
Disaat teman-teman lain sibuk melamar sana-sini, saya justru sibuk berpikiran sana-sini. Lebih lelah berpikir dari pada bertindak, memang benar. Pikiran saya menjelajah dari pekerjaan yang sesuai jurusan saya, yang “nyerempet” jurusan saya dan yang jauh “melancong” dari jurusan saya. Idealis atau realistis? Materialistis atau sosialis? Lamaaa saya berpikir. Tapi masih juga belum menemukan jawaban yang tepat. Haruskah saya berpindah-pindah tempat kerja dengan alasan cari pengalaman? Apa tidak terlalu egois dan menyusahkan tempat saya bekerja? Tapi sepertinya hanya itu satu-satunya cara agar saya tau dimana passion saya. Toh, kalau hanya mendengar pendapat oranglain mengenai pekerjaan yang saya incar untuk “dicicipi” akan berbeda dengan sensasi pribadi saya kan?
Saya teringat slogan produk rokok di televisi yaitu “Hidup ini pilihan”, tapi slogan produk lain “Life is adventure”. Perlukah saya pada kesimpulan untuk menjalani hidup dengan berpetualang dalam setiap pilihan? Seperti hakikat ilmu yang terus berkembang, kesimpulan inipun akan terus menerus memperbaharui dirinya, sesuai dengan waktu yang dilalui dan peristiwa yang dijalani.
Petualangan pertama adalah mencoba bekerja sesuai dengan jurusan saya, menikmati bagaimana rasanya menerapkan ilmu di perkuliahan ke dunia kerja. Kemudian mencari sesuatu yang realistis, menikmati penghasilan saya dari upaya maksimal yang saya lakukan. Setelah bertambahnya usia, di masa paruhbaya adalah masa yang tepat untuk memilih pekerjaan yang sesuai dengan passion saya, karena saya sudah mempunyai kisah dan materi untuk menjalani sisa waktu yang dimiliki. Semoga petualangan ini akan berakhir bahagia seperti cerita dalam dongeng sebelum tidur *kedip2 manis ke arah Si Penulis*
Kabupaten Bandung, 20 September 2013
Evanita Siahaan - Alumni PTN di Jatinangor :)