Dari Hati di Bulan Syawal
Kalau kata Tere Liye, dikatakan atau tidak dikatakan, itu tetap cinta.
Apakah cinta seperti iman yang harus pula diucapkan dengan lisan? Perjalanan panjang bersama hingga titik ini adalah buktinya. Dan semakin jauh, semakin sulit untuk diucap. Lidah seperti kaku, karena teramat dalamnya tersimpan dalam hati. Tanpa diucap pun hati kita saling bertaut kan? Telepati kita memancarkan nyalanya.
Hati kita tidak berbohong akan suatu perasaan. Ia menuntut kebersihan jiwa agar tumbuh perasaan yang melapangkan. Dan biarkan Ilahi Rabbi sang penggenggam hati yang mentautkan kita satu sama lain, agar tumbuh jiwa yang kuat dan saling menguatkan, yang membuat harga kita lebih mahal dari dunia dan seisinya. Tidak mudah terkikis oleh nafsu pribadi, prasangka sesat sesaat, apa terkata, dan dinamika kehidupan.
Mereka bilang ini tentang bagaimana berbicara dari hati ke hati. Tapi sesungguhnya bagaimana berbicara dari hati kepada Yang Maha Membulak-balikkannya, ketika hati tidak sampai menembus ruang lagi. Lingkaran kita tidak jarang diisi dengan candaan, tidak jarang pula dengan kata-kata yang membuat diri menjadi orang tersudut di dunia yang tidak memiliki ujung. Hal itu bukan sesuatu yang harus diperdebatkan dan disimpan dalam relung yang lama, karena hati kita menyelaraskan dengan akal dan iman menuju pada fitrah.
Bukankah sering, kita merasa tidak nyaman satu sama lain? Merasa disembunyikan sesuatu dan saling menyembunyikan yang lain? Merasa selalu jadi orang yang bersalah? Kedekatan perasaan tidak selamanya menjadi asbab musabab kebersamaan. Tidak ada yang melebihi jaminan daripada afal Yang Kuasa.
Fitrah yang terjaga, Hati yang bersih, yang menuntun kita pada jalan yang diridhoi. Yang kemudian Allah mempertemukan para jiwa yang tenang tanpa mengenal asal muasal. Membuat kita adalah lingkaran terdalam kehidupan bagi yang lainnya. Apa yang kita bagi bukan hanya sekedar cerita, tawa, canda, sedih, dan tangis. Tapi semangat yang kaya akan makna.
Kini, bukan saatnya puas atas sejauh apa kita sudah melangkah. Karena jalan pendakian dengan tantangan dalam luar masih sangatlah panjang. Sembari mengharap pertolongan-Nya yang hanya akan datang saat kita patuh dan sabar, kita berusaha menjaga fitrah agar hati kita tetap dipertemukan di jalan ini, yang sudah dibeli melebihi dunia dan seisinya. Meminta Yang Maha Menjaga agar menjaga kami.
Dan kini bukan saatnya tentang kita lagi. Tapi tentang bagaimana kita mewarisi warisan kearifan para orang tua. Jika karena jumlah angka yang sudah ditempuh, maka bukan kita pribadinya. Tapi seberapa kuat dan bertahan menempuhnya, jiwa-jiwa kuat militan yang bermekaran atas dasar rindu bertemu. Sekali lagi, karena hati yang bersih yang telah DijagaNya.
Allaahumma aarina alhaqqa haqq warzuqnattibaa’ah. Wa aarina al baathila baathila warzuqnajtinaabah.
Hanya kepada Mu kami meminta agar hati dan jiwa kami tetap bersih menerima bimbingan kebenaran dan meniti jalannya, sehingga hati dan jiwa-jiwa kami memang lebih mahal dari dunia dan seisinya, layak untuk dibeli dengan surgaMu.