kalau aku bisa menjadi benda, aku tak ingin menjadi rumah. aku ingin menjadi payung. aku ingin membiarkan siapapun yang berada di bawahku tetap merasakan terik sinar matahari, tetap bisa menggapai tampias air hujan. tetap basah dan kedinginan. tetap kepanasan. itulah kesenangan bermain di jalan. ini adalah cerita tentang sekolompok manusia yang bermain di jalan dan aku yang menjadi payung. nama kami ids. kalau kau membacanya dengan ejaan bahasa inggris, it would sound like 'ideas'. kami adalah sebuah startup kecil di belantara kota bogor yang punya cita-cita menjadikan teknologi sahabat bagi pembangunan pendidikan yang berkarakter. kebanyakan dari kami adalah anak-anak (yes, we are so young, too young disebut muda-mudi sekalian) lulusan SMK yang idealis dengan ilmu yang diperoleh selama sekolah, dan berusaha mendedikasikannya untuk sesuatu, sambil kuliah. kami tergabung dalam ids sejak 2011. kami membuat macam-macam produk pendidikan. Sistem Informasi Manajemen dan Administrasi Pendidikan (SIMAP), semacam SIAK NG yang dipakai oleh sekolah-sekolah. Paperless Exam, aplikasi ujian berbasis online. Persiapan UN, kalau yang ini khusus menyiapkan siswa kelas 3 mempersiapkan diri untuk ujian. Modul Interaktif, semacam e-book yang tidak hanya dibaca, tetapi juga bisa interaktif dengan penggunanya. sampai Sistem Informasi Rapor Kurikulum 2013 (SIPOR 13), aplikasi yang memudahkan penyusunan rapor dengan basis kurikulum 2013. semua berjalan lancar. kami punya mimpi-mimpi besar, teguh dengan mimpi-mimpi kami, dan benar-benar menjadikannya nyata satu per satu. produk-produk kami terus mengalami perbaikan dan setiap tahunnua digunakan di ratusan sekolah di Indonesia. mulai dari Banda Aceh sampai Sentani. tahun ini, SIPOR 13 adalah produk andalan. kami melakukan riset habis-habisan, melakukan development habis-habisan, melakukan pemasaran habis-habisan. it turns out kami cukup berhasil. we nailed it! bahkan karena aplikasi ini, kami bisa punya lini usaha baru: instalasi server dan jaringan di sekolah. kami membantu sekolah-sekolah menata sistem jaringan, demi komunikasi dan administrasi yang lebih baik. tapi, kemarin sebuah berita datang. pemerintah rupanya sedang menyusun sebuah aplikasi seperti SIPOR, untuk dipergunakan di semua sekolah Desember mendatang, secara gratis. kami tak tau sistemnya seperti apa, tapi semoga saja pemerintah ingat kalau infrastruktur sekolah di daerah-daerah masih sangat minim. kau tau. aku adalah pertentangan tentang segala hal. berita ini membuatku--dari segi aku yang sik idealis--senang dan bahagia. di lain sisi, ini membuat kami kecewa. kami belum sempat melihat produk kami sukses di Indonesia, juga belum sempat menikmati manis dari jerih payah kami. hal yang sama mungkin terulang, kalau-kalau UN dihapuskan atau digantikan. tapi kubilang kepada anak-anak yang ikut bermain di jalan. iya dek, kita akan kepanasan. iya dek, nanti ada hujan. iya dek, kita jatuh bangkit jatuh lagi bangkit lagi. nggak ada kok pekerjaan yang sia-sia. paling tidak kita belajar. ini tak mudah, menanamkan kepada diri sendiri. bahwa yang menyelamatkan kita di dunia ini adalah mental keberlimpahan. mental percaya bahwa setiap makhluk sudah ada rezekinya. dalam takaran. aku ingin menjadi payung. kenyataannya, tak juga. aku ingin bisa menjadi rumah. aku ingin bisa memberikan gaji yang cukup--apalagi karena subsidi bbm dicabut dan inflasi pasti naik. aku ingin tak pusing kalau tanggal 1 datang. tapi di atas itu semua, aku ingin kami tetap pada cita-cita kami. dan aku tetaplah hanya sebuah payung. tapi toh, akhirnya kukatakan pada diri sendiri berkali-kali. menjadilah sesuatu. tak penting apa sesuatunya. yang penting adalah menjadinya. hari ini hanya payung. besok halte. besok beranda rumah. besok rumah. besok lebih dari rumah. sama seperti berkarya. yang penting adalah terus berkarya-nya. semoga kita istiqomah ya. :)