Fajar
Dedaunan kembali menyambut hangat fajar dengan senyum gembira. Seperti hari-hari kemarin, ia selalu menunggu dengan sabar. Setelah senja menyampaikan salam terakhirnya hari itu, malam hadir menyelimuti bumi dengan gelap yang dingin. Gerimis pun ikut merayakan malam dengan tetes-tetes rahmatNya sambil menyebarkan aroma tanah yang hangus oleh terik siang kemarin. Belum lagi do'a-do'a dimunajatkan, gerimis terhenti. Tak lagi terdengar suara merdu gemericik air di luar, meski aromanya masih tersisa di tepi-tepi malam. Saatnya terlelap. Gerimis pasti menyampaikan do'a-do'amu hari ini. Tak perlu khawatir, ia tak akan pernah ingkar janji.
Setelah berselimut udara lembab semalaman, fajar adalah impian. Aroma dingin malam membuatnya begitu dirindukan. Ia harus berterimakasih pada malam, dan pada gerimis yang melengkapinya. Juga pada embun yang membuat seisi bumi menghitung detik-detik kehadirannya. Konspirasi semesta menyulap fajar menjadi peri yang paling cantik, yang siap menjawab setiap do'a, menerjemahkan impian menjadi kenyataan yang begitu manis dan menuntaskan rindu-rindu yang mengisi ruang hati hingga sesak.
Maka fajar selalu identik dengan permulaan. Hanya saat fajar kau akan melihat setema kehidupan baru yang berulang: awan-awan baru tertata di dinding-dinding langit, tunas-tunas yang mewakili selaksa harapan-harapan baru, titik-titik embun yang bisa melayangkan senyum ke angkasa, suara-suara sepatu oleh langkah mungil peri-peri kecil serta konveti warna jingga fajar yang ditabur Tuhan merona di ufuk timur sana.
Fajar adalah rumah, tempat seluruh kehidupan dan harapan bermula, dan tempat kembalinya impian-impian yang masih harus diperjuangkan.
Dyah Oktavia | Senin, 24 Dzulhijjah 1437














