“Smart Village”, Kesempatan Desa Untuk Menjadi Pintar
Postingan lalu telah membahas alternatif pembiayaan untuk masyarakat pesisir yakni dengan gagasan branchless banking syariah, lalu untuk masyarakat kota pendanaan bisa didapat dengan ikut serta dalam sistem crowdfunding. Kali ini, akan membahas tentang adopsi konsep Smart City yang akan diterapkan di desa-desa seluruh Indonesia. Konsep baru yang saat ini masih tahap sosialisasi dan merupakan pilot project (proyek uji coba) adalah konsep Smart Village atau Smart Kampung. Program ini merupakan gagasan dari Pergerakan Indonesia Maju (PIM) dan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) yang disambut baik oleh Kementerian Desa.
Mengapa Smart Village ada? Mari kita lihat kondisi desa tertinggal di Indonesia dan data pengguna internet yang sangat ironis.
Sumber : Bapennas, 2014
Berdasarkan pemetaan gambar di atas, jumlah desa tertinggal selalu lebih tinggi dari jumlah desa mandiri di seluruh Indonesia. Data lain menyebutkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke – 4 pengguna internet terbesar di Asia, dari total 674 juta pengguna internet di Asia, 30.5% merupakan pengguna dari Indonesia (Internetworldstats.com, 2015). Mengapa negara dengan pengguna internet yang tinggi masih mengalami banyak kondisi desa yang tertinggal? Ketimpangan ini yang mendasari konsep Smart Village yang sebelumnya juga diterapkan di negara berkembang lain, India.
Konsep Smart Village bertujuan untuk mengoptimalkan kinerja desa dalam aspek-aspek sosial kemasyarakatan sekaligus mempermudah operasional warga. Aspek tersebut meliputi : Kesehatan, Pendidikan, Kependudukan, Peternakan & Pertanian, Keuangan Desa, Air, Pemerintahan, Energi, Transportasi, Penanganan Bencana, dan masih banyak lainnya.
Bagaimana mekanisme kerjanya? Smart Village dijalankan menggunakan instalasi yang terhubung dengan internet. Konsep ini berbasis IoT “Internet of Things”. Jadi tiap desa akan memiliki aplikasi khusus dengan memanfaatkan teknologi dan internet untuk memudahkan masyarakat dalam beberapa hal misalnya :
1. Kependudukan : pembuatan KTP, Kartu Keluarga, Akta Kelahiran secara online
2. Kesehatan : antri posyandu/puskesmas online
3. Pemerintahan : laporan arus keuangan desa yang dapat dimonitor oleh seluruh warga karena direkap secara online.
Dan banyak lainnya yang masih dalam tahap sosialisasi dan perencanaan.
Saat ini memasuki era generasi milenial. Dibuktikan dengan banyaknya pemuda Indonesia sangat aktif di dunia teknologi digital, data menunjukkan sekitar 42.8% pengguna internet di Indonesia berusia 10-34 tahun (APJII, 2016) . Adanya konsep Smart Village diharapkan tiap pemuda berperan dalam memajukan desanya masing-masing. Lalu desa mana saja yang sudah mulai menerapkan Smart Village atau Smart Kampung ini?
Smart Village pertama kali diterapkan di Kota Tangerang Selatan kelurahan Pondok Ranji. Lalu diikuti oleh Kota Banyuwangi, yang akan menjadi Kabupaten yang menerapkan program ini di semua desanya. Selain itu, di beberapa kota seperti Malang, Karawang dan Pekalongan juga mulai menerapkan gagasan ini.
Adanya gagasan Smart Village diharapkan mampu menjadi media akselerasi kinerja desa agar lebih baik pelayanannya dalam berbagai aspek sehingga mengurangi potensi-potensi negatif yang tidak diinginkan. Konsep ini pun menawarkan kemudahan sistem baik bagi pengelolanya di Balai desa maupun untuk pelayanan terhadap warganya. Sejak adanya kendali pemerintahan yang desentralisasi dengan diterapkannya otonomi daerah, seharusnya pelaksanaan Smart Village akan mendapat pengawasan baik sehingga dapat diterapkan secara optimal. Tidak heran, para calon kepala daerah mulai menawarkan program ini sebagai program unggulan dalam kampanyenya. Semoga tidak hanya untuk pemanis kampanye saja, tapi juga terwujud secara nyata. :D
15 Maret 2017 Banyuwangi










