27
Puji Tuhan. Perjalanan hidup itu memang hanya Tuhan yang tahu, meskipun kita yang menjalani. Makanya, kuatir hingga bersungut itu benar-benar tidak ada artinya; tidak akan mengubah apapun. Melewati 26 tahun kehidupan dan mencapai angka 27 itu agak ‘aneh’, rasanya saya masih anak kecil yang manja, yang setiap hari melewati hari-harinya bersama kedua Orang Tua. Rasanya saya masih anak kecil yang ingin selalu bersama Papa Mama kemanapun, makan eskrim bersama hingga ke toko musik bersama. Rasanya baru kemarin dikenal sebagai drummer cilik, melayani kemana-mana, hanya membawa stick dan memukul-mukul drum dengan senang. Rasanya saya hanya ingin bermain drum, tidak bermimpi di-endorse merk tertentu, hanya melihat-lihat majalah drum dan berangan-angan memiliki setup yang sama seperti drummer-drummer terkenal yang ada disana. Rasanya saya masih anak kecil polos yang risih mendengar kata pacaran, apalagi melihat orang gandengan… Rasanya baru kemarin.
Adapun, pertambahan umur tidak akan terjadi kalau tugas kita di dunia sudah selesai. Artinya, saya sadar tugas saya di dunia ini masih banyak, sangat banyak, dan pastinya bertambah banyak dengan penundaan-penundaan yang seharusnya tidak saya lakukan di masa lalu. Jadi, saya bersemangat sekali menyambut dan menjalani usia baru ini bersama Yesus dan orang-orang yang Dia tempatkan disamping saya.
Dalam kesempatan inipun, saya ingin sekali lagi mengucapkan banyak terima kasih untuk semua yang sudah meluangkan waktunya untuk mengucapkan, mendoakan melalui twitter, instagram, snapchat, dan sosial media lainnya. Adakah yang mengucapkan di Facebook? Mohon maaf, saya sudah sangat jarang buka Facebook. Sejujurnya, saya sedih tidak bisa membalas 1 persatu, bukan masalah takut dianggap sombong, saya tidak peduli pendapat-pendapat dari mereka yang belum mengenal saya, namun ingin saja mengapresiasi jari-jari kalian yang sudah mengucapkan selamat itu. Tuhan yang balas kebaikannya ya, teman-teman. :)
Terima kasih juga untuk yang tersayang, kelak dunia akan tahu kebahagiaan yang Tuhan berikan melalui kamu dalam hidupku.
Anyway. Cukup sudah pembahasan mengenai hari ulang tahun saya. Somehow, digerakkan Tuhan untuk membahas mengenai hubungan. Hubungan macam apa? Tentunya hubungan dengan sesama, lawan jenis dan belum menikah. Saya tidak akan bahas yang sudah menikah, kan saya belum menikah, nanti jadinya sok tahu. LOL
Sebetulnya, sudah cukup sering saya mendengar kisah tentang dua sejoli yang membina tali kasih, merangkai asmara sedari dini atau dalam bahasa sederhananya, pacaran. Sejujurnya saya tidak tahu apakah ada pembahasan, perintah atau bahkan larangan untuk berpacaran di Kitab lain, namun di Alkitab ada beberapa kisah tentang berkenalan - menjalin kasih sebelum menikah, seperti yang Ishak dan Ribka alami di Kejadian. Sebagian menafsirkan ini sebagai pacaran, sebagian menganggap tidak ada istilah berpacaran dalam Alkitab, dan garis yang lebih keras melarang pacaran karena mereka menganggapnya tidak Alkitabiah. Well, saya disini bukan untuk memperdebatkan mengenai itu. Kalaupun ada yang bertanya sama saya, saya selalu memegang Kolose 3:23 dan 1 Korintus 10:31; apapun yang kita perbuat, lakukan untuk Tuhan dan kemulianNya > termasuk berpacaran.
Perdebatan mengenai pacaran, tidak akan ada habisnya. Selain boleh pacaran atau tidak, tentunya kita akan disibukkan dengan pertanyaan turun temurun semacam, ‘boleh gandengan pas pacaran? ‘boleh masuk kamar pacar ga?’ ‘ciuman sama pacar dosa ga?’
Dosa kalau pacar orang, nak. :))
Satu hal yang pasti, dosa itu urusan pribadi manusia dengan Tuhan, tidak ada yang layak menghakimi sesamanya. Jadi, kalau ada yang sedang menjalani masa pacaran, dan bingung apakah yang dilakukan salah atau tidak, tanya Tuhan, tanya pembimbing rohani yang bisa dipertanggungjawabkan kapasitasnya. Namun, jelas berhubungan sex sebelum menikah adalah dosa dimata Tuhan, karena sesuai kehendakNya, itu adalah hal yang dikuduskan ketika sudah dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Selingkuh ketika masih terikat dalam sebuah hubungan juga jelas salah, artinya tidak bisa berkomitmen dan bertanggung jawab atas janji yang sudah terucap ketika ‘menembak’ pasangannya. Pacaran kekinian tidak selalu identik dengan ‘penembakan’, though. Banyak yang langsung menjalani saja tanpa adanya ‘peresmian’. LOL
Mari mempersempit pembahasan mengenai pacaran ini kedalam situasi menyebalkan, menyedihkan, hingga bisa membuat depresi, dan tidak sedikit yang gila bahkan bunuh diri; situasi dimana sudah merasa tidak cocok, sudah sering menangis, bertengkar, putus-nyambung, situasi menggantung yang berujung pada sebuah kepasrahan, namun memiliki 1 kata kunci; bertahan.
Banyak yang sudah tidak bahagia, tidak sedikit yang sudah tersiksa lahir dan batin, namun masih bertahan dengan pacarnya. Sebagian beralasan sudah terlalu cinta, sebagian berucap malas jika harus beradaptasi lagi dengan sosok dan suasana yang baru, ada pula yang menjadikan keluarga sebagai alasan, hingga mereka yang masih terus mencoba hanya karena penasaran – yang memiliki alasan terakhir ini, bisa mendengarkan lagu Maliq And The Essentials dengan judul yang sama. Lagu ini mengubah hidup saya. LOL
Berkorban. Kata yang paling sering digunakan sebagai alasan untuk bertahan. Namun, pengorbanan dalam sebuah hubungan tidak selamanya menyiksa diri sendiri. Terkadang Tuhan menyuruh kita untuk bertahan dan berdoa, sambil pelan-pelan situasinya berubah, namun terkadang Tuhan mau kita melangkah maju dan meninggalkan hubungan yang sudah tidak sehat.
Sudah puluhan, bahkan ratusan kisah - yang secara langsung maupun tidak langsung sampai ke telinga dan mata saya, mengenai seorang pasangan (biasanya pihak perempuan) yang bertahan untuk pacarnya – yang meskipun sebagian besar tidak saya kenal, saya tahu (sudah) tidak layak mendapat gelar pacar; mereka selingkuh, bahkan berulang kali, mereka berbicara dan memanggill pasangannya dengan kata-kata yang kasar, mereka memukuli pacarnya, mereka kekanakkan, tidak menghargai, lebih mementingkan teman-temannya, tidak bisa membagi waktu, dan tidak sedikit yang menggantung pasangannya bahkan ketika mereka sudah berpacaran. Memang, dalam sebuah hubungan, jika ada masalah, hampir dipastikan kedua belah pihak mempunyai andil dalam bersalah, namun itu bukan alasan untuk selingkuh dan bersikap tidak sopan kepada pacarnya.
Semoga para pembaca tulisan subuh ini tidak menganggap saya sok tahu mengenai pacaran, toh saya bukan expert :)) saya hanya menyampaikan apa yang Tuhan mau saya sampaikan, dan apa yang saya saksikan terjadi disekitar saya; seseorang yang rela bertahan dan berkorban untuk pacarnya yang sudah berkali-kali menyakiti hatinya, sudah berkali-kali diberikan kesempatan, namun tidak mau berubah. Sudah tidak ada rasa sayang, yang ada hanya rasa meremehkan dalam sebuah lingkaran yang disebut zona nyaman.
Sebuah hubungan butuh yang namanya saling menghargai, saling mengerti dan tentunya menyayangi. Namun, untuk mempersingkat, salah 1 alasan terbesar yang saya temui dari banyak hubungan yang rusak adalah kurangnya menghargai - menyayangi diri sendiri. Yesus berkata, “kasihilah sesamamu manusia, seperti dirimu sendiri.” Ya, banyak yang lupa mengasihi diri sendiri, padahal mengasihi diri sendiri adalah tanggung jawab kita kepada Tuhan. Namun, dalam label berpacaran, banyak yang ‘terlalu mengasihi’ pasangannya, terlalu mengasihi masa lalu, kenangan maupun kejadian-kejadian yang sudah mereka alami, sehingga mereka bertahan dan lupa bahwa diri sendiri butuh dikasihi, butuh dihargai, butuh bahagia.
Alasan lain dari banyaknya pacar yang ‘bertahan dalam kebodohan’ adalah karena mereka lupa melibatkan Tuhan sebagai pusat dalam hubungan berpacaran mereka. Entah apa alasannya, mungkin mereka pikir Tuhan tidak mau terlibat dalam hal sepele macam pacaran, atau mungkin pacarannya sudah sangat tidak kudus sehingga mereka segan mengundang Tuhan masuk untuk memimpin hubungan tersebut. Namun 1 hal yang pasti, tanpa melibatkan Tuhan, mustahil memiliki hubungan yang baik. Sesederhana itu.
Akhir kata, saya paham banyak yang bertahan dalam sebuah hubungan yang salah, hubungan yang tidak sehat. Sebagian belum menyadari, sebagian masih ragu, sebagian sudah yakin 100% itu hubungan yang salah. Lantas apa yang harus dilakukan? Begini, hubungan yang dimulai dengan dosa, hubungan yang salah sedari awal, hubungan yang sudah rusak, bukan berarti selamanya akan menjadi sampah, Tuhan bisa mengubah itu semua menjadi baik. Namun pertanyaannya, apa yang Tuhan mau agar kita lakukan? Apakah berdoa, bertahan dan memulai semuanya dari awal, atau melangkah keluar dan mempersiapkan diri untuk yang lebih baik? Jika yang Tuhan inginkan adalah opsi pertama, berdoa; Tuhan bisa memberikan hati yang baru, tidak ada yang mustahil. Tapi jika opsi kedua adalah jawabannya, just wanna say, jangan pernah takut untuk melangkah. Saya paham sudah banyak yang dilewati bersama, bukan hanya kenangan, tapi karya, bahkan dosa, namun Tuhan mau yang terbaik untuk anaknya. Kita harus menghormati Tuhan dengan mengasihi diri kita sendiri, terkadang dengan merelakan masa lalu, dan mempersiapkan diri untuk seseorang yang sudah Tuhan siapkan - yang terbaik. :)
#ES










