
seen from United States

seen from Germany

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Yemen

seen from United States
seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from Germany

seen from Romania

seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States
seen from New Zealand
seen from Israel
seen from United States

seen from United States
In this video, I'm checking out a homebrew ColecoVision port of this SG-1000 title, with a few tweaks. They've changed up the scoring system, added an extra map (so there's 3 instead of the original 2), and included this turbo gauge that drains super quickly, making this version quite a bit tougher than the original. The game does crash at some point, but fortunately I'd already completed the loop twice by then, so you still get to see everything it has to offer
Below is the original description for the Sega SG-1000 version…
------------------------------------------------------------------------------
Pacar is an SG-1000 game released by Sega in 1983, blending elements from Namco's Pac-Man and Rally X. Players control a mischievous green car named Pacar through a maze of roads, with the objective of clearing all the small red dots scattered throughout the playfield. Similar to Pac-Man, Pacar moves continuously unless hitting a wall, though unlike Pac-Man, performing a 180-degree turn requires a slower reversing maneuver, encouraging players to plan routes that avoid backtracking. Two types of enemy vehicles pursue Pacar. Blue cars spawn from the central garage and wander around, only following Pacar when nearby. Red cars are more aggressive, appearing randomly behind Pacar and matching its speed increases. Contact with either enemy car costs the player a life.
The game's equivalent of Pac-Man's power pellets occasionally appear after collecting regular dots. These grant temporary invincibility, turning Pacar purple and allowing it to crash into enemy cars for points. This scoring system starts at 200 points and doubles with each successive hit (200, 400, 800, 1600, 3200, etc.). While fewer enemies appear on screen compared to Pac-Man, the fact that blue cars instantly respawn from the garage after being hit creates opportunities for substantial point combos.
Pacar features only two maps that cycle endlessly, with the game claiming a "three-dimensional" aspect because some roads in the first map act as bridges over others. After completing both maps, players advance to the next round, which increases difficulty by adding more blue cars. Round 4 introduces a twist by replacing the three standard blue cars with one faster vehicle, with subsequent rounds adding additional fast cars.
Despite its borrowed elements, Pacar creates its own identity through its vehicular theme and unique scoring mechanics, representing a typical early example of Sega's game design on their first home console.
Sedihnya. Ketika melihat matamu, aku bisa melihat masa depan di situ. Sedangkan ketika melihat mataku, kamu melihat aku bagian dari masa lalumu.
- Sastrasa
Di zaman ketika semua orang berlomba-lomba ngejar cinta, orang-orang yang gak punya pacar itu langka. Iya, kamu itu langka.
Maka semoga suatu saat nanti, kamu akan bertemu dengan sosok yang juga menjaga dirinya, baik, lagi penyayang.
Tetap bertahan dan bersabar yaaa... Semoga prinsip agama yang berusaha kamu pegang teguh, memudahkanmu menuju surga-Nya.
Hei Kamu,
Hei Kamu, terima kasih sudah hadir di dalam hidupku dan menemaniku selama ini. Lucu ya, awalnya kita tidak saling kenal namun waktu begitu hebatnya membuat kamu dan aku menjadi kita. Banyak tantangan yang kita lalui hingga kita bisa sampai di titik ini. Terima kasih kamu sudah menerima kekuranganku dan mencintaiku apa adanya, aku bersyukur Tuhan menghadirkan sosok yang begitu hebatnya ke dalam hidupku. Let’s grow together...
I love you
Kau hanya perlu bersabar untuk tahu...
Apakah sesuatu yang kau pilih baik atau tidak, apakah sesuatu yang kau miliki baik atau tidak, apakah sesuatu yang kau kejar baik atau tidak dan apakah sesuatu yang kau cinta baik atau tidak.
Serahkan pada-Nya, baik atau tidaknya mintalah Allah agar sesegera mungkin menuntunmu pada yang terbaik.
Suka mikir, emang kita ini apa?
Kok bisa-bisanya Tuhan dan alam semesta mempertemukan kita yang takdirnya bukan untuk bersatu tapi jadi sedekat nadi?
Kamu mikirin gak? Enggak kan?!
Oh iya lupa, kamu kan cuma anggap aku T E M A N, hehe.
— @welcometomywords
Berakhir
Semuanya sudah berakhir.
Sejak kau mulai mengucapkan kebohonganmu, Sejak saat-saat kau hancurkan kepercayaanku, Sejak kau menyadari dirimu salah, Sejak itu semuanya sudah berakhir.
Tidak seharusnya kamu terus berjuang, Tidak seharusnya kamu mengatas namakan pertemanan, Berpura-pura rasa itu sudah kamu lenyapkan, Diantara kita, hanya kamu yang berjuang.
Sudah cukup sabar aku menahan amarah agar tak berujung dendam, Sudah lah cukup sabar aku menjadikanmu teman tanpa mengungkit kesalahan yang kau lakukan, Sudah cukup sabar aku meng- iya kan apa yang kau paksakan, Sudah cukup, aku memendam lalu menghancurkan rasa yang tiba-tiba hadir, Cukup. Aku tak mau kau hancurkan.
Semuanya selalu berulang, kembali ketitik awal, Aku yang salah saat memulai menjalin pertemanan, Atau kamu yang salah waktu mengambil kesempatan, Mungkin Aku yang salah dalam memperlakukan teman, Atau bisa jadi, kamu yang salah dalam menilai perhatian.
Kesalahan berada di titik dimana kita mulai, Dibalik ketidak jujuranmu padaku di awal dan kamu menganggap hubungan pertemanan sebagai kedok persembunyian rasamu itu baik-baik saja, Aku yang terlalu bodoh untuk tidak bertanya di awal dan tetap menganggapmu sebagai teman, Dan Dia yang tidak terima dengan adanya keberadaanku dari awal terbongkarnya kebohonganmu, bahkan sebagai sebatas teman.
Aku menghargai perasaan wanita lain, Yang pernah merasa bahwa aku telah merebutmu, Yang pernah merasa bahwa aku penyebab hancurnya hubungan kalian, Yang sampai membuat kau berstatus teman dengannya, kau pun tak bisa lepas darinya atau kecemburu-cemburu-annya.
Jangan libat kan aku lagi dengan apapun status hubungan kalian, Jangan meminta bantuanku hanya karena kau tak ingin melihatnya mencakarku, Jangan membuatnya marah karena ulahmu, Jadi, jangan lagi kita berteman.
-narizka, 3 juni 2020.