Kapalan? Kenapa engga?
Perempuan tercermin dengan keanggunannya, ke-lemah gemulaiannya, paras wajahnya dan bermacam sifat-sifat feminis lainnya. Perempuan diidentikan dengan harus bisa merawat diri, kulit putih bersih, halus, betis ramping, tangan mulus, halus. kira-kira itu yang banyak laki-laki idamkan bukan?
Menjadi seorang perempuan tentu dituntut untuk bisa multitasking, mampu mengerjakan banyak hal. Tentunya dituntut untuk mengeluarkan pemikiran yang cerdas untuk bisa efisien dalam penggunaan waktu dan materil, juga tenaga yang dibutuhkan untuk melakukan hal yang banyak tersebut.
Wanita identik dengan pekerjaan mengurus rumah tangga (mencuci piring, baju, memasak, menyapu, mengepel, menyiram tanaman dan lainnya) dalam status lajang atau menikah. Keterampilan yang (menurutku harus) dapat dilakukan oleh satu-satunya manusia tidak memandang gender, pernah mengerjakan setidaknya. Pekerjaan yang demikian tentu melibatkan alat-alat yang tentu kita akan memegangnya. Tiap sentuhan akan menghasilkan tekanan dan gesekan, makin lama makin banyak gesekan yang terjadi sehingga timbul-lah kulit yang menebal (baca: kapalan).
Kapalan bisa menjadi salah satu indikator seorang bekerja lebih banyak dari umumnya, sehingga tekanan dan gesekan berkumpul dan menghasilkan suatu masterpiece. Orang yang sering memegang gagang sapu atau pel, atau memindahkan barang ini itu, pada umumya dijumpai masterpiece tersebut. Semua orang berkesempatan kapalan, laki-laki, tua-muda, begitu juga perempuan. Kapalan tidaklah menandakan perempuan tidak bisa menjaga dirinya, sehingga dijumpainya kapalan pada tangan atau kakinya.
Kapalan, disitulah ditemukan arti memberi kenyamanan dengan sedemikian pekerjaan yang dilakukan, ditemukannya rumah sebagai tempat pulang paling baik selama di dunia. Salah satu masterpiece perempuan-perempuan tangguh :)
*tulisan ini sudah lama sekali berada di draft, ditulis ketika idul adha tahun 2015, setelah berbincang-bincang dengan teman tentang kebersihan.








