Aku baru saja menyelesaikan menonton drama Korea berjudul True Beauty, yang salah satu pemainnya adalah Cha Eun Woo, seorang idol dari boyband Astro. Seperti penonton KDrama pada umumnya, biasanya sembari atau setelah menonton drama tersebut, aku mencari berita atau video-video yang berseliweran di youtube. Sampailah aku pada satu video, variety show korea, yang saat itu mendatangi pasangan suami istri dan menceritakan dinamika berpasangan, espektasi dan realita didalam pernikahan. Cha Eun Woo, sebagai salah satu member di variety show tersebut, banyak mendengarkan dan mengobservasi.
Sebagai latar belakang, dia merupakan idol dengan visual yang luar biasa flawless, tampan, baik hati, hangat, menyenangkan. Saking sempurnanya, aku sampai pada kesimpulan “tidak bisa ngefans”, susah menjelaskannya, tapi itu yang bisa merangkum perasaanku saat itu. Seorang idol biasanya (tidak selalu) sudah mendapat 'pesanan' dari agensinya untuk tidak memiliki hubungan asmara, karena tentu hal tersebut akan berpengaruh pada fans ataupun pamor individu tersebut. Seorang idol juga menjalani masa trainee, yang biasanya dimulai bahkan saat mereka masih dibangku sekolah hingga akhirnya mereka debut sebagai idol.
Dari berbagai macam percakapan, masing-masing anggota saling mengomentari ataupun berpendapat mengenai hubungan romantis sebagai pasangan suami istri, kemudian sampai pada Eun Woo. Dia sempat ragu untuk berkata-kata, bahkan speechless. Namun, pada akhirnya dia bersuara. Kemudian,
Sekuat tenaga menahan tangis,
Namun akhirnya pecah juga.
Sebagai orang yang sulit untuk bercerita, aku cukup bisa memahami bagaimana campur aduknya perasaan itu. Sulit untuk mengungkapkannya, tetapi disatu sisi ingin mengungkapkannya. Dengan orang yang tepat. Teman, keluarga, sahabat, atau pasangan. Aku merasakan kesepian yang menyelinap dari perkataannya. Bukan kesepian per se, tetapi lebih kepada ingin memiliki hubungan berarti. Dimana, dengannya, kita bisa menjadi manusia seutuh-utuhnya yang juga punya sisi jeleknya, baik dari sifat, kelakuan, atau bahkan rupanya. Manusia yang juga memiliki titik lemah, dan ingin menunjukannya. Karena sesungguhnya berbagi kelemahan/vurnerability hanya bisa dilakukan kepada orang yang benar-benar kita percaya. Once we did it, it feels like we bond tightly to that person. Setidaknya itu pengalamanku,
Menjadi idol selalu dituntut untuk sempurna, tidak bercela, memenuhi standar ‘pasar’. Namun, idol juga manusia, yang memiliki spektrum emosi yang sama luasnya seperti manusia lain. Merasakan apa yang dirasakan pedagang dipasar sana, merasakan apa yang dirasakan seorang kasir supermarket, merasakan apa yang dirasakan presiden, merasakan apa yang dirasakan dirinya sendiri. Perasaan yang kesemuanya valid. Perasaan insecure, perasaan khawatir, takut, menginginkan ini, menginginkan itu. Pada akhirnya kita sama manusia,
Kereta Api, 7 Desember 2024
Perjalanan menuju Yogyakarta
Aku yang (juga) sedang merasa kosong.