"Melukiskanmu saat senja. Memanggil namamu ke ujung dunia. Tiada yang lebih pilu. Tiada yang menjawabku. Selain hatiku dan ombak berderu."
~ Dee Lestari, Rectoverso
seen from United States
seen from China
seen from China
seen from China
seen from China

seen from Argentina

seen from United States
seen from United States

seen from Canada
seen from United States

seen from Mexico
seen from Mexico

seen from Canada

seen from Germany
seen from United States
seen from United States

seen from Hong Kong SAR China
seen from China

seen from India

seen from United States
"Melukiskanmu saat senja. Memanggil namamu ke ujung dunia. Tiada yang lebih pilu. Tiada yang menjawabku. Selain hatiku dan ombak berderu."
~ Dee Lestari, Rectoverso
Memori
Memori-Memory- [ C or U ] the ability to remember information, experiences and people a good/bad memory
Memori, merupakan kemampuan untuk mengingat informasi, pengalaman, dan orang-orang (baik memori baik atau memori buruk)
Merupakan sebuah kemampuan, lalu bagaimana jika tidak mampu? maka ada foto dan tulisan dan berbagai hal lainnya yang bisa merekam semua itu. Maka menjadi fotografi dan menulis menjadi aktivitas magis untukku, karenanya aku dapat menyimpan apa yang tidak mampu aku simpan, mengingat kembali ingatan-ingatan kala itu. Momen apa yang terjadi, maka abadikanlah, lewat foto misalnya, agar aku bisa mengingat warna dunia kala itu, agar aku bisa merasakan desir aliran darah yang mengalir membuka memori-memori lama, seperti aku melihat foto kita. Iya kita, kita tidak melulu aku dan kamu bukan? kita bersama teman-teman yang lain, yang terbingkai dalam sebuah frame yang sama, bersama.
Atau
Tulisan yang entah apa isinya, bagaimana katanya, yang bisa menyimpan cerita kala itu. Mungkin hanya momen kecil yang terjadi, namun itu sangat memorable untukku yang ditulis dengan seribu majas yang dikeluarkan untuk membungkus sebuah rahasia dalam cerita. entah personifikasi, hiperbola, alegori, simile, sinekdok atau apapun itu. Seperti yang aku tuliskan berkali-kali, yang mungkin salah satunya adalah tentangmu, agar semua menjadi rahasia yang tidak perlu kamu ketahui.
Tapi media storage favoritku adalah alam, yang kepadanya aku titipkan memori-memoriku. Seperti pada hujan, senja, langit malam, angin, gesekan dedaunan, atau aroma tanah yang meguap kala gerimis turun aku titipkan memori-memori kesukaanku, supaya menjadi lebih special, yang aku akan bisa mengingatnya ketika hujan turun atau mendengar gesekan dedaunan, yang aku pun tidak tahu kapan itu akan terjadi. sama seperti memori yang aku titipkan, yang sebelumnya aku tidak pernah tahu akan terjadi hal tersebut
Hujan Sore-Sore
Serakan hujan mengepul di antara parasmu yang pias. Di antara rekata yang bersemu di kedalaman matamu, abu-abu yang mengalirkan rindu. Sayangku, sudah berpuluh kali kutambang jemu dan tak bertemu-temu sore yang katamu ngarai mempercakapkan rinai. Tulisanku tiba-tiba berair ketika sapamu tak lagi kembara menenangkan resah yang pecah-pecah; di hariku, di hatiku, di mimpiku. Kau adalah sendu yang tak henti-hentinya aku candu.
Akhirnya semerbak senja melingkupi sore kita, kehangatan yang lama kita benamkan. Bukankah hujan seakan bersorak melumpuhkan segala gamang yang lama dirawat awan? Tetapi waktumu banyak yang menyemut mengutuki basah jalanan. Sedang selaput enggan acap terbaca dalam keheningan yang mengudara. Kemudian aku gemetar dalam kelakar yang dilontarkan angin pukul lima. Kau adalah peramu yang tak semestinya kubiarkan bertamu.
Buru-buru menjadi cirimu. Padahal malam belum tandang dan aku belum sempat bercerita tentang kehilangan, tentang hujan. Di ruas-ruas perjalanan pulang, aku ingin singgah sebentar menulis sepi yang selalu basah, yang tak sempat kaurasa apalagi kauseka, yang nantinya akan kujadikan buah tangan, lalu kupintal dan kusembunyikan di bawah bantal. Kau adalah ilalang yang akan kuajak menangkap kunang-kunang, atau ketika hari ulang tahunmu datang, akan kuhadiahi kau setangkai hujan.
Ditulis waktu sore, 21 November 2015. Pukul Lima Lebih Dua Puluh Lima.
@rintikkecil