Iseng dalam beramal
Beberapa pekan yang lalu, ada teman satu circle saya yang ngasih rekomendasi buku bagus, katanya #1 New York Times Best Seller, temen saya bilang ini bukunya cukup life-changing, judul bukunya "Atomic Habit". Buku ini bercerita tentang bagaimana cara paling efektif dalam membangun good habit dan menghentikan bad habit. Karena penasaran, akhirnya saya coba mendalami isi buku tersebut. Setelah saya baca, akhirnya saya belajar bahwa sebuah habit itu bisa terbentuk atas pola sequential berikut:
Cue (pemicu) -> Craving (keinginan) -> Response (respon) -> Reward (penghargaan)
Contoh sederhana adalah ketika si A punya masalah kelebihan berat badan. Penyebab utamanya adalah si A ini punya kebiasaan ngemil tiap kali ke dapur. Ternyata, setiap kali ke dapur, si A ini selalu iseng buka kulkas, dan karena lihat cemilan di kulkas, si A jadi pengen ngemil dan akhirnya ngemil. Dari situlah si A jadi kelebihan berat badan. Maka kalau di-breakdown:
Buka kulkas dan lihat makanan (Cue) -> pengen ngemil (Craving) -> keluarin cemilan dari kulkas dan makan (Response) -> cemilannya enak dan jadi senang (Reward)
Akhirnya, setiap kali si A ke dapur, dia pasti ngemil dan akhirnya menjadi kebiasaan yang berulang, maka terbentuknya sebuah habit. Nah, bisa kita lihat, bahwa suatu kebiasaan selalu dimulai dengan Cue, yang berperan sebagai trigger dimulainya suatu kebiasaan.
Yang menarik adalah, dari contoh di atas kita bisa lihat bahwa hanya dari iseng buka kulkas, si A jadi punya kebiasaan ngemil dan jadi kelebihan berat badan. Bayangkan apa yang terjadi jika kebiasaan ini dilakukan terus menerus? si A jadi punya pola hidup yang tidak sehat dan berisiko memiliki penyakit-penyakit serius seperti diabetes, penyakit jantung, asam urat, kolesterol tinggi, dsb.
Kebayang gak? betapa sebuah hal se-mematikan penyakit jantung dan diabetes bisa hanya dimulai dari sebuah cue yang amat sepele: iseng buka kulkas.
Banyak lagi contoh-contoh lain, seperti atlet-atlet basket yang jadi pemain basket professional karena iseng nyobain ngelempar bola masukin ke keranjang pas masih kecil; atau berapa banyak pengusaha di luar sana yang jadi pengusaha karena dulu pernah iseng ikut seminar bisnis; dan masih banyak contoh lainnya.
Kalau kita refleksikan ke diri kita, bukankah banyak dari diri kita hari ini yang juga merupakan buah dari keisengan-keisengan kita di masa lalu? Misalnya hobi? atau bahkan mungkin banyak dari kita yang hari ini menggantungkan hidup kita dari hasil keisengan kita di masa lalu?
Dari sisi yang negatif juga banyak, pemakai narkoba juga mengawali kebiasaan kelamnya dari iseng nyobain; pecandu film porno juga berawal dari iseng nyobain nonton; pemabuk juga berawal dari iseng nyobain sesesap dua sesap, hingga jadi berteguk-teguk dan akhirnya jadi berbotol-botol. Iya kan?
Apa pelajaran yang bisa kita ambil? Bahwa Iseng (yang identik dengan hal-hal sepele), BISA membawa kita kepada hal-hal yang besar. Small things lead us to bigger things. Maka? Small things MATTER.
Nah kalau semua hal di atas kita coba kontekstualisasikan ke dalam aspek spiritual diri kita, bukankah kita seharusnya juga bisa jadi manusia yang lebih baik, hanya dengan iseng memulai dari hal-hal yang kecil?
Kalau kita tidak pernah shalat karena hati kita tidak pernah tergerak, bukankah kita bisa memulai dengan iseng mem-follow akun-akun islami di social media? Kalau kita tidak pernah mengaji, bukankah kita bisa mulai dengan iseng buka Alquran yang sudah lama tidak kita buka? Kalau kita belum fasih membaca arabnya, bukankah kita bisa iseng dengan membaca artinya dulu saja? Kalau kita merasa jauh dari agama, bukankah kita bisa mulai dengan iseng googling "Gimana caranya tobat" atau "Gimana caranya masuk surga"? atau bisa mulai dengan iseng buka youtube nya Ustadz Abdul Somad atau Podcast nya Ustadz Hanan Attaki? Kalau kita merasa circle terdekat kita udah terlalu hedon dan nerakawi banget, bukankah kita bisa memulai circle pertemanan baru dengan iseng unfollow teman-teman yang sekarang dan follow teman-teman kita yang lain yang lebih sholeh/sholehah?
Seperti yang beberapa hari lalu ditulis oleh @yasirmukhtar, bahwa di zaman ini, masalahnya bukan pada kelangkaan hidayah, masalahnya adalah apakah hidayah itu bisa menembus ke hati kita atau tidak.
Bener banget, betapa hidayah tuh sebenarnya sedekat scroll jari di hp kita. Eh tau gak, se-scroll jari di hp kita tuh bahkan udah bukan sejengkal lagi. Udah jauh lebih ringkas dan effortless. Gila.
Kalau firman Allah swt di sepenggal Surat Ar-ra'd ayat 11: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. ...."
Maka bukankah untuk mengubah keadaan diri kita menjadi lebih dekat kepada Allah, kita bisa mulai dengan memperbanyak keisengan-keisengan (cue) baik yang sepele? isenglah follow akun dakwah, siapa tahu kita liat postingan ayat yang bikin penasaran, siapa tahu kita jadi kepo ngebanding-bandingin sama science, dari situ siapa tahu kita jadi iseng buka youtube ustadz-ustadz, siapa tahu kita jadi iseng buka quran, siapa tahu jadi iseng mulai ngaji lagi, siapa tahu jadi iseng shalat, siapa tahu ternyata kita jadi ngerasa "Ih ya Allah, adem ya, nyaman". Eh ternyata lama-lama kita jadi punya habit orang soleh, temen-temen kita udah berubah tuh dari yang tadinya nerakawi sekarang berubah jadi yang sering mengingatkan dalam kebaikan. Small things lead us to bigger things kan? Allah PASTI notice. Sekecil apapun langkah kita, Allah pasti akan mudahkan. "Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari." (Tafsir Al-A'masy hadits jami' At-tirmidzi no.3527)
Belum lagi kalau ada temen kita yang iseng ngajakin kita ngaji, iseng ngajakin kita shalat. Ya kita ISENG aja dulu bilang "Yuk". Siapa tahu keterusan dan beneran jadi orang soleh.
Semoga, dari keisengan kita dalam beramal, Allah perkenankan kita untuk beneran jadi orang soleh, yang setelah matinya Allah perkenankan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dipenuhi oleh istana-istana yang indah, diberkahi buah-buahan yang manis dan baik, serta dipenuhi para bidadari yang sejuk dipandang mata, yang penghuninya tidak pernah lapar dan haus, dan keringatnya seharum wangi kasturi.
Jadi? siapa yang tadinya iseng baca tulisan yang panjang ini dan ternyata keterusan baca sampai habis? Iseng reblog dulu aja bisa kali. Yuk bisa yuk :)















