Ultimatum Orang Tua, SOSMAS dan Kebangkitan Thio Prasetya
Tahun 2013, ketika masih berstatus sebagai mahasiswa tingkat 2. Seseorang yang masih mencari jati diri, mencari arah kehidupan yang “ideal” dan masih sangat culun dalam berorganisasi. Pada masa itu, saya belum banyak mengikuti organisasi dan aktivitas mahasiswa kekinian lainnya. Kegiatan utama saya hanya kuliah dan setelah itu langsung kembali ke tempat kost. Maklum, selama SMA dulu, saya bukan anak yang banyak mengikuti organisasi ataupun kegiatan lainnya. Namun, semuanya berubah ketika saya tertarik untuk mengikuti suatu organisasi, yaitu BEM KM UGM.
Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya saya menjadi bagian dari BEM KM UGM. Saya memilih untuk masuk dalam Kementerian Sosial Masyarakat (Sosmas). Menurut saya, kementerian ini akan banyak menawarkan pembelajaran kehidupan sehingga akan menambah kualitas diri saya. Tak lama, saya disibukkan dengan berbagai macam kegiatan Sosmas, seperti mengunjungi berbagai desa, membuat program kerja untuk kewirausahaan di desa dan lain sebagainya. Hal tersebut cukup memakan waktu kuliah saya yang kemudian membuat kuliah saya pada semester itu menjadi tidak terurus dengan baik. Bagaimana tidak, semester itu (waktu itu semester 3) saya mendapatkan indeks prestasi (IP) sebesar 2,48. Sebuah angka yang sangat jauh dari harapan kedua orang tua dan tentunya jauh dari nilai-nilai yang diperoleh oleh teman kuliah saya. Pada waktu itu, rata-rata teman saya mendapatkan nilai IP diatas 3,5.
IP yang cukup rendah tersebut membuat saya mendapatkan ultimatum dari kedua orang tua. Ultimatum tersebut berisi anjuran mereka agar saya mengurangi kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan dunia perkuliahan, dalam hal ini kegiatan organisasi. Ditambah, dengan nilai IPK dibawah 3, saya tidak dapat melanjutkan beasiswa saya dan sulit untuk mendapatkan beasiswa kembali karena nilai saya tidak memadai. Sontak, hal tersebut menjadi gejolak bagi kehidupan saya. Saya yang seharusnya mendapatkan dukungan penuh dari kedua orang tua, malah mendapatkan tekanan untuk mengurangi segala kegiatan yang sudah menjadi passion saya semenjak masuk di Kementerian Sosmas BEM KM UGM. Saya merasa gagal bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan oleh kedua orang tua saya. Hal tersebut menjadi titik terendah dalam kehidupan saya.
Pada waktu itu, saya coba menyediakan waktu untuk merefleksikan diri dan bermusahabah agar mengetahui di titik mana kesalahan yang saya sudah lakukan. Setelah hal tersebut saya lakukan, saya mendapatkan banyak pencerahan untuk bangkit dari titik terendah dalam kehidupan saya, bahwasannya organisasi dan kegiatan kuliah dapat dilakukan secara bersamaan karena itu dapat menjadi satu kesatuan yang baik dalam mencari ilmu. Saya meyakini bahwa untuk mencari ilmu tidak hanya pada proses pembelajaran di kelas. Pembelajaran yang sesungguhnya ada pada masyarakat. Saya sadar bukan kegiatannya yang salah namun diri saya sendiri yang salah dalam hal ini managamen waktu saya masih buruk. Saya menyadari masih belum dapat membagi waktu antara akademik dan organisasi dengan baik sehingga nilai-nilai kuliah saya jeblok yang pada akhirnya kedua orang tua saya memberikan ultimatum. Pada titik terendah dalam kehidupan saya inilah, tidak mudah bagi saya untuk mendapatkan tantangan hidup yang begitu bertubi-tubi. Namun, selama hal yang saya lakukan adalah baik bagi diri dan orang lain, saya akan terus melanjutkan kegiatan tersebut. Dalam proses untuk menikmati segala tantangan hidup itu, banyak sekali jatuh bangun yang saya alami. Mulai dari sulit untuk dipercaya oleh kedua orang tua karena masih melanjutkan kegiatan di organisasi, hingga membagi waktu antara kegiatan akademik dan organisasi.
Ketika saya sudah yakin dengan hal yang saya jalani, saya merasa sanggup untuk melakukan dan melewati segala prosesnya. Saya memulainya kembali, merancang dan menata kehidupan sebagai mahasiswa dengan mencoba membuat target, baik untuk akademik maupun organisasi. Target tersebut tidak harus besar, namun harus meningkat di setiap waktunya. Setelah menentukan target, saya coba untuk membuat timeline yang saya sanggup untuk jalani dalam memenuhi target-terget di setiap waktunya. Adanya target dan timeline yang jelas membuat kehidupan saya lebih terarah dengan baik.
Setelah dua hal tersebut saya lakukan, saya mulai untuk meyakinkan kedua orang tua saya kembali terkait tujuan hidup yang sudah saya buat dalam bentuk timeline dan target. Pada akhirnya, mereka mau mempercayai saya kembali dan meridhoi segala kegiatan yang dilakukan oleh anaknya sepanjang kegiatan tersebut berdampak baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. Bagi saya, ridho kedua orang tua saya adalah tiket keberhasilan disetiap kegiatan yang akan saya lakukan apapun jenis dan macamnya, karena ridho orang tua insya Allah ridho dari Allah SWT. Tantangan selanjutnya adalah untuk membuktikan bahwa semua target yang sudah saya tulis bukanlah isapan jempol, melainkan tekad seorang anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya.
Dalam proses pembuktian ini, saya banyak mengalami jatuh bangun kehidupan sebagai mahasiswa. Mulai dari bagaimana saya bisa membagi waktu diantara 2 kegiatan utama, yaitu menaikkan prestasi nilai agar saya dapat memperoleh kesempatan untuk mendapatkan beasiswa kembali dan membuktikan bahwa kegiatan di Sosmas adalah kegiatan yang berdampak baik bagi kehidupan saya. Semester demi semeseter saya jalani, nilai saya mulai meningkat tiap semesternya, yang tentu meningkatkan nilai IPK. Di kesempatan yang sama, saya mendapatkan kepercayaan untuk menjadi wakil menteri di Kementerian Sosmas BEM KM UGM pada tahun 2015 dan setahun kemudian (2016) mendapatkan beasiswa Aktivis Sosial Rumah Peneleh. Pada akhirnya, saya membuktikan bahwa saya dapat kembali pada jalur yang diinginkan oleh kedua orang tua tanpa harus meninggalkan passion saya, yaitu belajar di masyarakat bersama Kementerian Sosmas BEM KM UGM.
Saya berhasil lulus dengan masa studi 4,2 bulan dengan nilai IPK 3,50 (nyaris cumlaude haha hanya beda 0,1) pada bulan November 2016. Jatuh bangun saya “mengerek” nilai IPK saya dari 2,98 sampai pada titik 3,50 di akhir masa studi saya. Sungguh pengalaman akademik yang “menyenangkan” hehe.
Saya benar-benar dapat menjawab tantangan kehidupan yang sudah saya lalui kurang lebih 3 tahun lamanya. Saya berhasil melalui tantangan untuk dapat menjalankan kehidupan sebagai seseorang mahasiswa dengan tetap menjalani kegiatan perkuliahan dengan baik serta belajar di masyarakat bersama Sosmas BEM KM UGM. Saya memiliki keyakinan bahwa apabila kita yakin bahwa apa yang sedang kita lakukan adalah hal yang baik, maka hal baik tersebut akan berdampak pada diri kita dan orang lain.
Dan tahun ini sampai tahun-tahun berikutnya, Saya siap untuk melewati tantangan kehidupan saya selanjutnya bersama kamu. Iya kamu :)














