- Filosofi Ketek -
Semingguan yg lalu tepat ketika takbir berkumandang diberbagai penjuru, orang-orang sibuk menyiapkan hidangan terbaik untuk menjamu tamu hari raya & kesibukan lain yang menandakan lebaran fitri. Ada rencana yg cukup dadakan untuk merasakan suasana lebaran yang berbeda. Tujuannya waktu itu adalah Dusun Sri Pengantin, salah satu dusun yang menjadi penempatan Pengajar Muda di Kabupaten Musi Rawas. Tepat malam sebelum keberangkatan, saya memastikan untuk berlebaran di dusun itu. Satu-satunya akses transportasi menuju dusun tersebut adalah dengan menggunakan Ketek (Re : sebutan bagi perahu kecil bermesin). Bayangkan, hanya dengan ketek, orang-orang di Sri Pengantin berobat, bersekolah, membeli & menjual barang-barang dan kegiatan lainnya. Tidak hanya beban berat seseorang yang ditimpa oleh ketek tersebut, namun lebih dari itu ada asa-asa banyak orang Sri Pengantin yang terus ia jaga dalam mengisi kehidupan. Bagi saya sendiri, ini menjadi pengalaman yang sangat langka menaiki ketek. Saya teringat, ketika 19 tahunan yang lalu, saya diajak almarhum Kakek saya untuk menyusuri hutan manggrove yang ada di pelosok Indramayu. Nostalgia yang indah mengingat waktu itu saya benar-benar baru pertama kalinya menaiki jukung (sebutan ketek untuk orang-orang Indramayu). Semingguan yang lalu, saya kembali pada nostalgia itu. Menyusuri aliran sungai Sri Pengantin yang airnya cukup dingin & bersih. Hal itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya. Saking bersihnya, saya mudah untuk melihat dasar sungai & melihat ikan-ikan lari kemana kemari melihat ketek melintas diatasnya. Dalam kebahagiaan nostalgia ketika menaiki sebuah ketek, saya mendapatkan inspirasi dari ketek yg sedang saya naiki itu. 1. Nahkoda Sebuah ketek akan dipimpin seseorang yang saya sebut sebagai Nahkoda. Seorang Nahkoda akan menjadi orang yg bertanggung jawab atas keadaan ketek tersebut. Dengan memainkan arah baling-baling yg tertancap pada mesin, yg bertujuan menggerakkan ketek menuju arah tertentu. Dengan sebelum berlayarnya ketek, Nahkoda sama-sama merembukan tujuan bersama para penumpang. Selanjutnya, Nahkoda beserta para penumpang akan sama-sama menuju pada titik tujuan bersama. Ibarat sebuah tim yang saya analogikan sebagai ketek, perlu sosok pemimpin yang dapat menggerakkan orang. Pemimpin tersebut berusaha untuk membawa cita-cita bersama pada tujuan dibentuknya tim tersebut. Pemimpin akan menjadi pemegang tanggung jawab terbesar pada timnya. Kuncinya adalah komunikasi untuk mengetahui tujuan bersama apa yang ingin dicapai pada tim tersebut. Sehingga, Pemimpin & para anggota bahu membahu untuk mencapai tujuan bersamanya. 2. Fokus & Konsentrasi Ketek akan selalu mengalami 2 arus, ia bisa saja mengikuti arus sungai, yg pastinya ketek akan lebih sulit untuk dikendalikan karena ketek tidak memiliki rem untuk berhenti apalagi jika arus tersebut lagi deras. Situasi yg lainnya adalah ketek yang melawan arus sungai. Pada situasi seperti ini, ketek cukup mudah untuk dikendalikan namun tantanganya pada hal lainnya, yaitu pada jeram-jeram terdapat di segala penjuru aliran sungai. Karena jika nahkoda tidak konsentrasi "Daaaaaam!!" (re : sudaaah, dapat berarti kepasrahan dalam bahasa Musi) ketek akan terbalik & penumpang nyemplung di sungai. Dinamika kehidupan itu sangat dinamis, kita tidak bisa memastikan besok hidup kita akan jauh lebih "nyaman" dari hari ini begitu sebaliknya. Namun, yang terpenting dari itu adalah kita sama-sama fokus & konsentrasi pada tujuan bersama yang sudah kita tentukan sejak awal. Walau banyak lika- liku seperti jeram pada aliran sungai, Si Nahkoda & para penumpang bekerjasama untuk tetap menyeimbangkan keteknya menuju pada tujuannya. Mungkin bisa jadi, di tengah perjalanan ketek akan menemukan jeram yg sulit ditaklukan & ditembus oleh ketek dan bisa jadi ketek tersebut akan terbalik ketika melewatinya. Kemungkinan-kemungkinan lainnya menjadi sebuah keniscayaan untuk terjadi. 3. Seni Menikmati Si Nahkoda akan memberikan perintah bagi penumpang untuk posisi duduk & memberikan informasi tentang arus yang akan dihadapi. Ketika akan melewati suatu jeram, Nahkoda akan mengingatkan para penumpang untuk memegang erat sisi ketek agar tidak terjatuh pada pusaran jeram. Namun, tidak sering juga semua orang yang naik ketek merasakan air dari terjangan ombak-ombak yang pada akhirnya membasahkan seluruh tubuh. "Disitulah asiknya!" ujar seseorang yg duduk dibelakang saya. Ketika ketek mulai oleng, penumpang beserta si Nahkoda akan bekerjasama untuk menyeimbangkan posisi ketek agar tidak terbalik. Dan ketika ketek sudah mulai kemasukan air, maka para mereka akan bahu membahu membuang airnya. Seperti halnya dengan suatu tim, seseorang pemimpin harus mengetahui "Medan" yang akan dilalui oleh rombongannya. Apakah melalui rawa, sungai, hutan yang lebat atau bahkan pegunungan dengan tingkat oksigen yang tipis. Seorang pemimpin harus peka pada apa yang akan dilewatinya. Dinamika pada sebuah tim adalah hal yang lumrah terjadi, dan perbedaanya ada pada cara penyelesaian. Bahu membahu menambal kekurangan & kebocoran, dan bertahan pada goncangan arus sungai itu adalah seni dari sebuah menaiki ketek. Begitu juga pada setiap cara menyelesaikan masalah pada sebuah tim, itu akan menjadi sebuah seni dari setiap dinamika kelompok tersebut. Persamaannya adalah bagaimana seseorang dapat menikmatinya & bertahan untuk mencapai tujuan bersama. Nostalgia yang produktif sampai-sampai saya mendapatkan inspirasi dari mode kendaraan semacam ketek. Kendaraan satu-satunya yang membawa banyak asa orang-orang Sri Pengantin. Mungkin saja angkutan umum disekitarmu juga memiliki filosofi?









