Squad 1 cloak #shunsuikyoraku #gotei13 #squad1 #squad8 #cosplay #fashion (at Oak Park, Illinois) https://www.instagram.com/p/CNx14ciBJ0o/?igshid=iynuocyp1ryx

#ryland grace#phm#rocky the eridian#project hail mary spoilers


seen from Germany
seen from Russia

seen from United States
seen from Türkiye
seen from Italy
seen from United States
seen from Germany
seen from Germany
seen from United States
seen from United States

seen from Philippines

seen from Malaysia

seen from Germany

seen from Singapore

seen from Malaysia

seen from Singapore
seen from Germany

seen from United States
seen from United States
seen from Ireland
Squad 1 cloak #shunsuikyoraku #gotei13 #squad1 #squad8 #cosplay #fashion (at Oak Park, Illinois) https://www.instagram.com/p/CNx14ciBJ0o/?igshid=iynuocyp1ryx
Melihat Keatas dan Kebawah
Pernahkah kita sesekali merenung tentang kehidupan? Kenapa kita hidup? Apa tujuan hidup kita? Apa saja yang telah kita lakukan selama ini? Baik atau buruk? Mungkin kita semua pasti pernah memikirkannya, meskipun hanya sekali kita pasti pernah. Manusia hidup memang diberikan berbagai macam ujian. Ada yang ditakdirkan kaya dari lahir, namun diuji dengan suatu penyakit. Ada juga yang diuji perekonomiannya namun diberi keluarga yang berharga, tak ternilai harganya.
Saat diberikan ujian, seringkali kita menyalahkan keadaan. Menyalahkan orang lain, atau menyalahkan Tuhan yang telah menciptakan kita. Menganggap semuanya tak adil. Lantas, pernahkah kita melihat ke bawah? Karena seringnya lebih terpaku pada apa yang diatas kita. Hingga tak menyadari, di luar sana ada orang-orang yang diberikan ujian lebih berat dibanding kita.
Coba sejenak kita lihat mereka yang hidup di jalanan. Mereka terus berusaha untuk tetap hidup. Meski terkepung kesulitan. Meski kulit terbakar karena panas matahari, mereka tetap rela, demi mencari sesuap nasi. Dinginnya malam menusuk tulang, tidur pun terpaksa nyenyak tanpa pakaian hangat. Meski tak mampu memiliki tempat tinggal yang nyaman, namun mereka tetap terus berusaha dan bersyukur atas apa yang mereka peroleh.
Jika kita merenungkan hal tersebut, kita bisa sedikit membatasi pikiran kita untuk terus merasa yang paling sengsara di dunia. Berhenti membandingkan diri dengan yang lain, dengan sesuatu yang tingkatannya di atas kita. Jika belum bisa mencapai apa yang kita inginkan, tak perlu iri dan menyalahkan keadaan. Masing-masing dari kita memiliki jalan yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Kita hanya mampu berencana dan berusaha. Selebihnya mari pasrahkan kepada Sang Pencipta.
Pesonamu dalam Sebuah Bait
Aku menemukan jajaran kata dalam kilas beranda Facebook milikku. Aku membacanya perlahan. Aku terhenyak, tapi ada sesuatu yang menguatkan untuk selalu tidak terlalu percaya diri.
Apa mungkin kalimat kalimat-kalimat itu ditujukan kepadaku, atau untuk wanita lainnya? Jujur saja, selepas kejadian aku mengetahui kamu memiliki janji yang lain dibelakangku membuat aku teramat kecewa.Â
Atau kalimat-kalimat itu kau tulis untuk keluarga seperjuangan dalam organisasi? Entahlah. Aku tak tahu dan aku tak mau jika harus kembali menerka lebih dalam.
Sayang, jika Allah mentakdirkan kita bersama. Terimalah aku sama seperti saat kita bertemu, tidakkah Allah mendekatkan kita dahulu dengan sangat indahnya? Mungkin kita sama sama-sama merasakannya, namun kita memilih untuk mangkir dan berpaling. Jika kehadiranmu ternyata adalah cobaan yang Allah berikan untukku, aku minta maaf karena terjebak dalam dosa perasaan.
Aku wanita biasa, yang jatuh cinta dalam diam pada sahabatnya. Aku wanita biasa yang tak mampu menahan keinginannya. Aku wanita biasa yang kini telah berubah menjadi wanita dewasa yang paham kapan harus melangkah sesuai keinginan Tuhannya.
Yaa hayyu yaa qayyum, laa ilahaillaanta.Â
(Berikut adalah kata kata yang ia tuliskan)
Tunggu aku disana.
Cepat atau lambat aku pasti menghampirimu.
Entah itu dengan sepenuh hati.
Atau bisa juga dengan keraguan.
Tak ingin menyakiti hati.
Tak ingin berpaling dari mimpi yang pernah aku rangkai.
Namun jika terus berdiri ditempat aku takkan kemana2.
Sementara itu orang lain semakin jauh melangkah.
Mohon kemakluman untuk yang aku tinggalkan.
Ini bukan soal cinta atau tidak.
Namun tentang tempatku kembali tak lagi ada disitu.
Jika nanti kamu juga ingin bersamaku disini.
Dengan tangan terbuka kuraih lengan tangguhmu.
Kita mulai kembali sebuah jejak yang tak ada benci di dalamnya.
Dan aku harus menjadi seseorang yang siap dengan ketidak siapan.
Bangkit dari keterpurukan ditengah keterbatasan yang ku punya.
Lalu biarkan seleksi tuhan berlaku untuk setiap jalan kita.
#squad8 7. Kala Dandekar
Perasaan
Seperti embun di ujung pagi. Seperti hangatnya sinar mentari. Seperti merdunya nyanyian burung kenari. Seperti itulah perasaanku kala itu. Sejuk dan hangat diwaktu yang bersamaan. Perasaan yang terkadang menggelitik, membuat ujung-ujung bibirku tersungging. Perasaan yang membuatku tersipu malu hingga merona kedua belah pipiku.
Perasaan yang telah aku sebutkan ini sungguhlah hebat. Sesuatu yang tidak dapat diminta, apa lagi ditolak kehadirannya oleh siapapun. Ia datang dengan alami. Mengalir seperti air, membakar seperti api, dan menyejukkan bagai semilir angin yang meniup dedaunan.
Taukah kamu apa itu? Orang-orang menamakan ini cinta.
Pertama kali aku mengenal cinta begitu indah rasanya. Ibarat padang gersang yang terguyur hujan. Basah, segar, dan tumbuh bermekaranlah bunga-bunga. Menjadikan hari-hariku penuh warna, hari-hari penuh cerita dan hari-hari yang penuh harapan untuk terus bersamanya. Sungguh perasaan yang melenakan.
Hingga suatu ketika semuanya hancur berkeping-keping, ketika penghianatan itu datang, menorehkan luka. Perih…
Hati yang mekar mulai layu dan berguguran. Meninggalkan sesal yang tiada guna. Sedangkan aku hanya mampu memeluk luka. Kurawat ia hingga pulih seperti semula. Untuk menyambut kembali datangnya Cinta. Cinta sejati yang akan menemani tanpa pernah ada niat untuk pergi, lagi.
"Akan ku tulis nama mu di dalam sebuah buku suci, buku pernikahan kita berdua."
Devita Anggraini
Lelaki Perkasa
Siang itu peluh menetes di pelipisnya. Deras mengalir di punggungnya, hingga baju yang dikenakan terlihat basah. Ia sedang duduk di gubuk kecil sambil beristirahat. Tangannya meraih botol air minum dan meneguknya. Satu botol besar telah habis. Sepertinya ia sedang sangat kehausan. Sambil sesekali mengipas-ngipaskan tangan ke arah wajahnya, ia bersandar pada sebilah tiang bambu. Menunggu datangnya sepoi angin, membelai wajah yang panas dan berkeringat.
Setelah seharian menguras tenaga di sawah, ia merasa lelah. Panasnya matahari membakar kulit. Tenaga yang ia keluarkan untuk mencangkul menambah banyaknya guratan tua di wajah. Baginya sawah adalah ladang berkah. Dimana ia bisa menafkahi keluarga. Demi selembar rupiah, demi sesuap nasi, dan demi tetap mengepulnya asap di dapur rumah.
Wajahnya yang telah memerah karena sengatan matahari, tak menyurutkan niatnya untuk menyelesaikan pekerjaan. Semangatnya ikut berkobar serupa panasnya matahari. Sambil bekerja ia membayangkan wajah-wajah keluarga tercintanya. Wajah dari anak-anak dan istrinya. Wajah yang selalu memberi semangat bagi dirinya dalam mencari nafkah. Tidak peduli seberapa berat pekerjaannya, yang ia tahu wajah keluarganya akan bahagia ketika ia membawa lembaran rupiah.
Meskipun ia juga sadar, ladang dan pekerjaannya tak menghasilkan lembaran rupiah yang banyak, namun setidaknya bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Selama pekerjaannya halal, ia yakin hasilnya akan selalu berkah. Tak mengapa tak bisa beli barang mewah. Selalu merasakan kebersamaan dengan keluarga itu sudah membuatnya bahagia.
Wajahnya tak pernah bersedih. Ia tak pernah mengutuk keadaan. Hatinya selalu bersyukur atas nikmat dan karunia yang telah Allah berikan. Ia dan keluarganya tahu, bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya bukan terletak pada banyaknya materi. Melainkan dari kelapangan hati.
Terkadang kita merindukan sesuatu yang sebenarnya belum pernah kita miliki, hanya karena kita merasa sangat membutuhkannya. Padahal Tuhan selalu tahu kapan waktu yang tepat untuk memberikan sesuatu sesuai dengan apa yang kita butuhkan dan memang itulah yang terbaik. Termasuk Sadam, aku merindukan dia, tapi takdirNya mengatakan bukan Sadam yang aku butuhkan.
Lanjutan...
Aku memutuskan untuk menggenap dengan orang yang mencintaiku, aku berusaha menghapus bayang-bayang semu orang yang aku cintai, Sadam. Tepat hari ini, aku sama sekali tidak ingin sendu itu hadir. Dia yang kini duduk disampingku adalah orang yang akan menua bersamaku. Ketika suara riuh karena banyaknya kerabat yang datang, aku yang terduduk didepan tiba-tiba merasa mematung ketika mendengar dari kejauhan suara orang yang amat aku hafal, suara Sadam. Tawanya yang renyah terdengar, sepertinya ia sedang bergurau bersama teman-temannya yang datang bersamaan. Aku melihatnya, ia datang dan sekarang ia berada tepat didepan pintu masuk. "Kenapa ia datang?" Tanyaku kesal dalam hati. Aku menahan diri untuk tetal tenang, namun aku kalah tubuhku bergemetar termasuk jari-jari tanganku, bahkan jika tak ada make up yang aku kenakan mungkin wajahku pasti sudah pucat pasi. Sebelum ia sampai ditempatku dan Raffa yang duduk bersanding, aku langsung menghadapkan muka kesebelah kananku yang tepat ada Raffa disana. Aku pandangi wajahnya, sembari tersenyum secara terpaksa karena harus menahan rasa grogiku. Raffa yang tengah melihat ke arah depan, perlahan menenok kearah kiri, dengan wajah keheranan ia melontarkan pertanyaan.
"Kamu kenapa?"
Aku masih mencoba tenang dengan melempar senyum yang lebih lebar lagi kepadanya, entah seberapa aneh wajahku, dalam hatiku banyak melantunkan istigfar dan berkata didepanku adalah suamiku yang seharunya aku cinta. Kulihat Raffa mengeriyitkan dahinya yang melihatku tersenyum aneh, ia pun langung melempar pandangan kedepan dan menyapu semua sisi dengan pengelihatannya. Dia diam pada satu sisi, kemudian aku melihatnya menghela nafas panjang sambil melempar senyum dan menggelengkan kepala. Apa yang sedang dipikirkannya, aku kini yang malah dibuat bertanya-tanya. Dia menengokku yang masih menahan senyum berusaha untuk tidak merubah mimik muka.
"Kenapa sa, nanti malam saja kali. Sekarang masih siang dan banyak tamu juga." Godanya dengan senyum yang tak kalah renyahnya.
Mataku terbelalak mendengarnya, aku pun tertawa kecil renyah, " Astaghfirullah, apaan sih." sambil kucubit perutnya.
"Loh, memang apaan. Kamu mikir apa hayo saat aku bilang itu?" Sambil melempar senyum meledek. Mukaku pun berubah seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan ice cream. Cemberut dengan sok imut. Gurauan receh itu sedikit membuatku lupa apa yang membuatku tadi terpaksa tersenyum. Sampai akhirnya rombongan teman-teman Raffa sampai didepan kami, salah satunya Sadam. Aku kembali bergetar. Ketika bersalaman dengan Sadam tatapanku hanya menunduk ke bawah dan itu berlangsung cepat, sedangkan ke Raffa ia berpelukan layaknya teman dekat pada umumnya.
Aku beristigfar semakin banyak dalam hatiku, mengatur nafas agar bisa lebih tenang. Merekapun berlalu menuju tepat hidangan yang telah disiapkan. Akupun terduduk dengan helaan nafas panjang.
"Sudahlah, tidak perlu setegang itu, sudah ada aku disini." Tegur Raffa sembari mengikutiku yang telah pertama kali duduk dikursi pelaminan. Aku heran dan terdiam perlahan aku memandang wajahnya yang ternyata sudah memandangiku terlebih dahulu.
"Mungkin berat ya, melepaskan dia yang sudah lama menetap dihatimu. Tapi izinkan aku untuk berusaha menggantikan posisi itu. Meskipun lama, tapi tolong izinkanlah supaya aku tak terlalu bingung untu memulainya."
Aku terdiam dan perlahan mataku mulai menggenang butiran-butiran air, "Aku minta maaf karena belum berkata jujur kepadamu. Ini sulit, aku tidak ingin kamu tahu, tapi hari ini kamu malah melihatnya. Aku minta maaf."
"Tanpa kamu bercerita aku sudah tahu, bahkan pertemuanmu dengannya beberapa minggu lalu aku tahu"
Deg, rasanya seperti ada yang menghujam jantungku. Dia tau dari mana? Aku tidak pernah cerita ke dia sebelumnya.
"Maafkan aku yang tidak jujur. Maafkan aku." Aku menunduk dalam-dalam.
"Sudah sa, it's our time. Ini hari bahagia kita, tidak perlu diisi dengan air mata kesedihan. Aku sudah tau hal itu dan aku menerimanya. Maksudku ya kalaupun aku merasa tersakiti karena kamu masih menyimpan rasa untuk Sadam aku sudah berhenti dari beberapa minggu yang lalu, tapi tidak kan? aku tetap melanjutkan meminangmu dan menjalankan semuanya."
"Kenapa?" Tanyaku yang heran mendengar penjelasan nya.
"Aku merasa simpatik kepadamu, aku sayang sama kamu. Aku tidak akan membiarkanmu menderita perasaan selama hidupmu. Lagi pula kamu pantas diperjuangkan. Aku memperjuangkanmu untuk keluar dari rasamu, untuk dia dan beralih kepadaku."
"Maafkan aku, aku akan berusaha membangun cinta untukmu. Maaf jika senaif ini."
Air mataku mulai menetes. Raffa menggenggam kedua tanganku dan menghadapkan tubuhnya kedepanku. Jarinya memegang daguku dan diangkatnya supaya sejajar dengan wajahnya.
"Kita berusaha bersama ya sayang, sekarang kamu adalah miliku. Separuhku adalah kamu. Jika kamu rapuh akupun begitu, jika kamu bahagia aku juga akan merasakan hal yang sama. Sekarang sudah tidak perlu menangis lagi."
Perlahan aku tersenyum dan merasa ada kebahagian yang memuncak karena orang yang berada dihadapanku telah dengan berlapang dada menerima segala hal yang terlihat mustahil. Aku memanggut dan melihat matanya dalam-dalam, ada harapan besar disana. Semoga aku bisa menjadi istri yang baik untukmu Raffa. Aku terdiam ketika ia mencium dahiku dengan waktu yang cukup lama dan kemudian memelukku untuk yang pertama kalinya. Rasanya nyaman dan menenangkan.
Haruku terpecah saat semakin banyak tamu berdatangan dan perlahan memang benar rasaku untuk Sadam saat itu memudar, mungkin aku sudah bisa melepas yang lama dan membiarkan yang baru masuk. Kini separuhku adalah orang yang berusaha untuk memperjuangkanku. Bukan karena ia butuh, tapi karena ia merasa tahu kemana hatinya nyaman untuk berlabuh. Dihatinya dan dimasa depannya ada harapan yang banyak untuk hidupku meskipun rintangan juga akan datang dengan caranya. Aku berdoa semoga rintangan-rintangan itu semakin menguatkan ikatan kami di dunia dan mampu mengantarkan kami ke surga.
Selesai.