latihan menulis #1
Kira-kira beginilah alur penerbitan berita di situs penerimaan.com.
Konsep berita dibuat terlebih dahulu oleh penulis, kemudian dimasukkan ke laman administrator situs. Tulisan tersebut tidak langsung diterbitkan, tetapi harus melalui proses moderasi dulu. Proses ini dilakukan dua kali. Yang pertama oleh moderator lokal, baru kemudian naik ke moderator pusat.
Umumnya proses moderasi lokal memakan waktu sehari atau hanya beberapa menit jika punya nomor ponsel si moderator. Yang melelahkan adalah menunggu moderasi dari pusat. Jika sedang beruntung hanya satu-dua hari. Jika sedang sial dalam dua minggu pun berita tersangkut di administrator.
Proses moderasi ini sangat tidak efektif, pikir S. Dari total sebelas berita yang ia buat, dua masih menyangkut di pusat, delapan lolos moderasi tetapi hanya mengendap di laman administrator karena keburu basi, dan hanya satu yang diterbitkan dan nongkrong di laman muka penerimaan.com.
Pekerjaan menulis ini memang hanya sampingan S sebagai penata usaha di PT Penerimaan, pun ia menjalaninya dengan setengah terpaksa karena merasa tak pernah bisa menulis berita, tetapi toh ia tetap melakukannya dan bangga dengan setiap tulisannya.
S tahu PT Penerimaan hanya kantor yang melayani penerimaan dan penulisan berita bukan fokus utama mereka, tetapi kehumasan penting bila ingin membangun citra. Tak ada orang yang membaca berita soal sesuatu yang terjadi dua minggu lalu, kecuali berita itu sangat menggemparkan.
S ingin tahu apa yang terjadi di kantor pusat (kantornya sekarang hanyalah kantor cabang), apa yang dilakukan orang-orang di sana hingga mereka begitu sibuk dan tak sempat membaca berita yang isinya hanya tiga-empat paragraf. Mungkin bagian kehumasan punya urusan selain mengurus situs. Mungkin ada banyak kantor cabang lain yang mengirim berita sehingga butuh waktu untuk memoderasi seluruhnya.
S ingin melanjutkan pemikirannya, tetapi ia hampir melanggar janjinya sendiri untuk tidak sarkastik. Ia menyimpan tulisannya, memuatnya di blog pribadi, menamainya corat-coret tidak penting. Tentu ia sudah menyensor banyak bagian.
Tulisan itu termuat di blognya. Ia membacanya baik-baik, mengangguk-angguk, lalu menyipitkan mata ketika membaca tulisan lain yang dimuat sembilan bulan lalu.
Ternyata ia sama saja.












