Sepenggal Kisah Masa Remaja dan Kanker Stadium Empat: Petaka atau Anugrah?
Ingin sekaliku kisahkan secara rinci pertarunganku yang belum usai selama 6 tahun terakhir dalam membantai setiap sel kanker yang masih bersemayam di tubuh ini. Sel kanker yang menghalangiku untuk kembali mencicipi kesehatan yang sudah lama kudambakan nikmatnya. Apalagi sel kanker tersebut sempat mengganas hingga dua kali. Kali pertama tahun 2013, kanker membuatku tak mampu bernapas tanpa alat bantu. Kali kedua tahun 2016, kanker membuat separuh badanku sempat mengalami kelumpuhan. Jangankan berdiri, dudukpun saat itu aku tak mampu. Mengerikan rasanya, terlebih bagi diriku yang sangat mencintai berbagai aktivitas fisik, mulai dari berjalan kaki, menari, bersepeda, hingga lari. Namun bila kuceritakan semuanya dengan rinci, yang ada aku seperti menuliskan buku autobiografi kehidupanku saja. Hah, itu tidak mungkin kulakukan sekarang. Rasanya belum pantas dan tepat. Belum saatnya kutuliskan itu semua, sebab pertarungan ku melawan kanker belumlah usai. Jadi, biarlah kutuliskan garis besarnya saja, dengan harapan ada pelajaran yang dapat diambil dari setiap peristiwa yang terjadi.
Saat itu umurku baru saja memasuki angka 17 pada tanggal 25 Desember 2012. Aku masih duduk di bangku kelas 2 SMA ketika pertama kali menemukan benjolan sebesar kelereng di leher kanan ku setelah aku sembuh dari demam tinggi beberapa hari sebelumnya. Aku kemudian dibawa ke RS Awal Bros Pekanbaru oleh kedua orangtuaku dan menemui dokter penyakit dalam disana, beliau bernama dr. Yani. Cek lab pun dilakukan, bahkan hingga 2x dengan dua dokter lab yang berbeda, dan mereka semua terutama dr. Yani itu masih saja bersikeras bahwa aku telah terkena TBC. Sebuah diagnosa yang kemudian ku ketahui 100% SALAH. Diagnosa yang mengantarkanku pada keganasan kanker Limfoma Hodgkin, istilah medis untuk kanker kelenjar getah bening, dan beruntungnya, saat itu aku sudah memasuki stadium-4.
Bagaimana akhirnya aku tahu penyakitku sesungguhnya adalah kanker kelenjar getah bening dan bukan TBC? Jawabannya adalah, setelah aku kemudian dirujuk ke RSUP Persahabatan di Jakarta Timur 8 bulan kemudian. Dokter disanalah yang memberitahukan kondisiku yang sebenarnya, memberikan diagnosa yang tepat setelah mereka memeriksa ulang hasil biopsi ku. Singkat cerita, sebelum aku dirujuk ke RSUP Persahabatan dan masih berobat di RS Awal Bros, setelah 8 bulan aku rutin mengonsumsi obat yang salah yaitu obat TBC, berbagai keluhan mulai kurasakan. Benjolan di leherku semakin besar, yang awalnya hanya di sisi kanan, sudah merambat ke sisi kiri. Napasku sesak. Batukku hampir sebulan tak kunjung sembuh. Tubuhku terasa lemah dan lemas setiap harinya. Setiap malam pakaianku basah dibanjiri keringat, sekalipun aku tidur di ruangan ber-AC. Akhirnya aku kembali ke RS Awal Bros Pekanbaru untuk kemudian dibiopsi di ruang operasi dengan bius total. Saat terbangun, ternyata aku sudah terbaring di ruang ICU dengan berbagai alat yang terpasang di tubuhku, termasuk ventilator yang membuatku masih bisa bernapas dan bertahan hidup. Baru kemudian aku tahu bahwa aku sempat koma beberapa jam dan sama sekali tak bernapas akibat paru-paruku yang sudah penuh terisi cairan akibat kanker yang telah menyebar. Baru kemudian juga aku tahu bahwa pada saat itu banyak orang yang mengira aku akan segera menemui ajalku. Namun jika memang belum saatnya, maka keajaiban dari Allah akan selalu datang menghampiri.
“Benar-benar sebuah mukjizat”, itu lah kalimat yang sering kali kudengar dari banyak orang ketika mereka melihat aku yang masih hidup dan dapat kembali beraktivitas seperti biasa setelah beratnya perjuangan yang kulalui pada saat itu. Terbaring selama 10 hari di ICU dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, hidup hanya karena dibantu oleh alat-alat medis, siapa yang menyangka orang itu (aku) akan kembali pulih? Namun itulah yang terjadi, berkah tiada tara dari Yang Maha Kuasa.
Perlahan kondisiku mulai membaik, akupun kembali pada rutinitasku sebagai pelajar SMA di SMAN 8 Pekanbaru, Riau. Aku harus belajar dengan giat demi mengejar berbagai ketertinggalan pelajar maupun ujian susulan akibat sebulan lebih diopname di RSUP Persahabatan, dan 4 bulan selanjutnya harus bolak-balik Jakarta-Pekanbaru untuk menyelesaikan kewajiban kemo dan sekolah. Ya, aku harus berjuang keras untuk sembuh dari kanker Limfoma Hodgkin stadium 4 sekaligus berjuang demi masa depanku untuk lulus SMA dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi impian. Kampus UI dengan jurusan Ilmu Komunikasi adalah impianku. Impian yang terlalu tinggi untuk diwujudkan jika melihat kondisiku pada saat itu. Namun siapa sangka, setelah perjuangan dan rasa sakit yang kucoba abaikan sebaik mungkin, akhirnya aku dinyatakan lulus UN dengan nilai yang sangat memuaskan serta lulus sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Indonesia. Sungguh, hadiah terindah yang diberikan Allah setelah perjuangan berat yang kulalui sepanjang tahun tersebut. Bergumam aku di dalam hati, “Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan, wahai Intan Khasanah?”.
Jika di dunia pendidikan aku berhasil meraih salah satu impianku, lantas bagaimana dengan di dunia medis? Bagaimana kondisi kesehatanku setelah berbagai terapi yang kulalui? Apakah aku telah dinyatakan sembuh dari kanker? Ternyata setelah dilakukan ct-scan sebanyak 2 kali di tahun 2013 dan 2014, tubuhku masih belum bersih dari kanker, tinggal sedikit lagi memang. Aku pun dianjurkan untuk kembali kemo dengan dosis yang lebih tinggi. Namun karena aku sudah begitu lelah menanggung derita kemo, akhirnya aku memilih untuk kabur dari medis dan mencoba pengobatan lain.
Kabur dari medis adalah sebuah keputusan teramat bodoh yang pernah kulakukan. Betapa bodohnya aku yang sempat mempercayai janji-janji palsu dari pengobatan alternatif yang kupilih saat itu. Keputusan yang kini sangat kusesali, karena hal itulah yang membuat kanker di tubuhku kembali menggila dua tahun kemudian. Disini aku tidak bermaksud untuk menjelekkan semua pengobatan alternatif, tentu alternatif yang benar akan memiliki andil terhadap kesehatan seseorang, tapi dengan syarat tidak mengabaikan pengobatan medis. Sayangnya aku terjebak di pengobatan alternatif yang salah, dilakukan bukan oleh orang yang memiliki latar belakang kedokteran atau ilmu kesehatan sama sekali. Pengobatan alternatif yang menjanjikan kesembuhan tanpa sedikitpun bantuan medis, rasanya tidak masuk akal bukan?
Coba tebak apa ganjaran yang kudapatkan setelahnya. Tubuhku kembali terjangkit kanker, namun dengan penyebaran yang berbeda. Jika kali pertama kanker menyebar ke paru-paru, kali kedua kanker menyebar ke tulang belakang. Kanker itu telah membuatku sempat tak mampu berjalan, bahkan untuk duduk dan mengangkat leher pun aku tak sanggup. Belum lagi rasa sakit luar biasa yang harus kutanggung. Hal itu terjadi akibat saraf-saraf di tulang belakang dan beberapa ruas tulang leher ku telah digerogoti oleh sel kanker dan tumor yang bersarang disana. Sungguh, itu adalah mimpi terburuk yang pernah kualami seumur hidupku.
Selama itu aku harus kembali berjuang, rutin melakukan terapi, baik itu kemoterapi, radioterapi, fisioterapi, hingga tomoteraphy. Aku juga kembali harus terbaring di meja operasi untuk mengangkat tumor yang bersarang di tulang belakang ku itu, dan kembali bermalam di ICCU selama 2 hari. Jika dihitung, total pengobatan yang sudah kulalui dari tahun 2013 hingga awal 2018 antara lain, aku sudah menjalani 6x operasi (2 operasi kecil, 3 operasi sedang, dan 1 operasi besar). Aku juga sudah melalui 17x kemoterapi, 70x radiasi (50x dengan radioterapi dan 20x dengan alat tomotherapy), serta fisioterapi yang tak kuhitung sudah berapa kali. Fisioterapi yang kulakukan untuk melatih motorik kaki ku agar dapat berfungsi normal seperti sedia kala.
Alhamdulillah, kini aku sudah mampu berdiri serta berjalan kembali. Aku bahkan sudah bisa berlari meski belum sekencang dulu sebelum kanker menggerogoti saraf-saraf di tulang belakangku tepat saat aku baru memasuki usia 20 tahun. Kini aku sedang menunggu jadwal kemoterapi (lagi, dengan dosis tinggi untuk membombardir seluruh sel kanker si parasit, meski sel-sel sehat ku juga akan mati), serta jadwal pet-scan yang akan dilakukan segera setelah pembombardiran kanker selesai.
Jujur saja, aku takut. Aku trauma dengan kemo. Aku lelah dengan segala efeknya yang memuakkan. Namun apalah daya jika pasrah adalah satu-satunya pilihan yang tersedia selama proses pengobatan ini. Lakukan saja, daripada dipikirkan, yang ada aku bisa jadi gila. Daripada melihat sisi buruknya, lebih baik kutolehkan kepala ini pada sisi baik kanker, melihatnya sebagai “hadiah” dari Allah, sebagai sarana pengampunan dosa secara cuma-cuma. Karena melalui kanker, kudapati banyak sekali orang-orang yang ternyata menaruh perhatian dan kepedulian padaku. Orang-orang yang bahkan tak pernah kuduga sama sekali. Kutemui indahnya rasa syukur dari setiap perputaran waktu yang dulu jarang sekali kuhargai. Tak ada lagi istilah take it for granted di kehidupanku. Selain itu, ada satu hal yang benar-benar kuyakini dan kujadikan pegangan hidup, bahwa kanker mungkin saja bisa menggerogoti fisik seseorang, melemahkan dan bahkan merusak fungsi berbagai organ tubuh manusia, namun tidak dengan mentalnya. Takkan ada yang mampu menyentuh dan menghancurkan mental serta semangat seseorang kecuali atas izinnya sendiri.











