Laut Jawa sudah 3–4 hari ini benar-benar tidak bersahabat. Puncaknya jatuh pada hari Jumat ini. Pada akhirnya, badan pun tak kuasa menahan guncangan yang tak henti—tepar juga rasanya. Padahal project kali ini tidak sepenuh tahun-tahun sebelumnya, namun aktivitas tetap padat: pekerjaan lapangan, belum lagi target proposal tesis yang harus dikejar, dan beberapa jurnal yang sudah mendekati masa submit. Waktu senggang harus dimanfaatkan seefektif mungkin.
Di sela-sela mengistirahatkan badan, sambil mencoba menyadarkan kembali jiwa pada raga yang limbung, masuk pesan dari salah satu rekan tim provider ICT. Kurang lebih percakapannya seperti ini:
Him: Assalamu’alaikum Mas, cosl move ke clear area kapan ya?
Me: Wa’alaikumussalam warahmah, schedule tanggal 16 harusnya Bib.
Him: Baik Mas, nanti kalau sudah di clear area, boleh minta tolong digeser sedikit link-nya. Nanti aku pas-in dari sini.
Me: InsyaaAllah tandemmu Dek Ru, besok sudah di cosl kok. Info Pak San ada boat ke cosl. Tektok-an saja besok ya.
Him: Baik Mas, berarti sudah dapat boat ya.
Me: Ok Bib, sori slowres. Melantai nih. Goyang tak henti-henti. 😵💫
Him: Hehe… pelaut sejati tidak dilahirkan dari ombak yang datar, Mas. 🤭😂
Me: Wah… 😂…
Kalimat itu—pelaut sejati tidak lahir dari ombak yang datar—masih terngiang. Mengingatkanku pada sebuah nasihat dari asatidz yang pagi itu baru kusimak:
“Kenikmatan itu tidak dibangun di atas kenikmatan.”
Bahwa kemudahan tidak muncul dari kemalasan; kesuksesan tidak tumbuh dari kenyamanan; dan ketangguhan selalu lahir dari ujian.
Sembari merenungi kondisi, kubuka kembali beberapa catatan-catatan di gawai:
Perkataan Imam Syafi’i rahimahullah:
“Barang siapa yang tidak mau merasakan pahitnya belajar, maka ia akan menanggung hinanya kebodohan.”
“Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan.”
Perkataan Abdurrahman bin Abu Hatim rahimahullah:
“Laa yustatho’ul ‘ilmu bi rohatil jasad.”
Ilmu tidak bisa diraih dengan badan yang bersantai-santai.
Di tengah ombak laut yang bergelora, rasanya semua nasihat itu menemukan tempatnya: bahwa kelelahan ini bukan sekadar beban, tapi bagian dari proses. Bahwa setiap ujian yang datang, kesulitan yang menghampiri, setiap penat dalam mengejar ilmu dan amanah pekerjaan, semuanya adalah tarbiyah—didikan agar jiwa menjadi lebih sabar, lebih kuat, dan lebih dewasa.
P.S
Dalam kacamata saya, perjuangan dan pengorbanan tidak selalu berbanding lurus dengan kesuksesan dunia. Ada kalanya kita sudah bersungguh-sungguh, sudah berkorban tenaga, waktu, bahkan kenyamanan—tetapi hasilnya tidak selalu sesuai harapan.
Justru karena itulah, betapa ruginya seseorang yang setiap aktivitasnya tidak didasari dengan niat beribadah kepada Allah. Sebab ketika orientasinya hanya dunia, maka kegagalan terasa pahit, keberhasilan terasa hampa, dan kelelahan menjadi beban.
Namun ketika segala ikhtiar ditautkan kepada Allah, lelah berubah menjadi amal, gagal berubah menjadi pelajaran, dan berhasil menjadi syukur.
Pada akhirnya, hanya amal yang ikhlas dan benar yang akan abadi mengiringi langkah kita, bukan sekadar pencapaian duniawi yang fana.
Lelah lah yang Lillah
@clichemistry














