Kamu lebih suka meninggalkan dan menanggalkan atau ditinggalkan dan ditanggalkan?
Aku bertanya pada sahabatku saat kami melihat dekorasi acara pameran yang menggantung di langit-langit.
Ia menoleh, terlihat berpikir.
“Ditinggalkan dan ditanggalkan,” jawabnya sambil iseng menyundul dekorasi gantung itu dengan puncak kepalanya.
“Memang kamu tahu apa bedanya?” tanyaku lagi pada orang aneh itu.
“Tinggal, tetap, selalu ada. Meninggalkan, membiarkan tinggal, atau pergi.
Tanggal, terlepas. Menanggalkan, melepaskan. Kamu boleh memilih bagaimana mengartikannya,” ia menjawab seolah membuka kamus dalam kepalanya.
Aku masih mencerna cara berpikirnya, mengaitkan jawaban itu dengan definisi yang ia utarakan.
“Apa jawabanmu?” ia balik bertanya.
“Semuanya sama saja,” aku meniti benang yang mengikat dekorasi gantung itu.
“Hanya masalah pasif atau aktif. Tinggal dan tanggal, pindah. Kamu tidak lagi di tempat yang sama,” lanjutku.
“Ya, bisa jadi. Tapi kamu belum memnajwab,” ia memasukkan tangannya ke saku celana. Kebiasaannya saat mulai gusar karena hal kecil.
“Meninggalkan dan menanggalkan,” jawabku sambil melihat lagi hiasan dinding yang ternyata bukan lukisan.
“Di imbuhan itu kamu punya pilihan,”
“Kamu benci saat tidak punya pilihan, ‘kan?” tebaknya sambil tersenyum tipis, seperti tahu sesuatu.
“Apa lihat-lihat?”
Ah, oke, apa lagi yang ia baca dari kepalaku?
“Ayolah, lupakan kata ‘dan’ dan ‘atau’ itu. Apa jawabanmu?” ia bertanya lagi.
“Meninggalkan dan ditanggalkan,” jawabku.
“Biar aku tebak, karena kamu seringkali ditanggalkan, tapi kamu selalu berusaha menjadi yang meninggalkan?” ia mengangkat sebelah alisnya.
Aku hanya tertawa. Ia selalu paham apa yang ada di tengah logika dan rasaku.
“Ah, cukup. Ia terlalu sibuk dengan perasaan barunya. Apanya yang ‘lebih suka ditinggalkan dan ditanggalkan’?”
Aku menatap potongan tket pameran yang sudah lewat berbulan-bulan lalu.
“Kamu boleh memilih bagaimana mengartikannya,” jawabnya dalam kepalaku.
Pertanyaan Ketiga | 2017, 279/365.25