day 1: personality
long time noooooooo nulis-nulis sesuka hati.
mungkin ya mungkin, udah kangen jadi janpi lagi. hingga akhirnya ya kembali ke sini. lihat-lihat lagi tulisan lama dan lalu berpikir, wah udah banyak banget ternyata hal yang dilalui selama hidup.
iya, dilalui.
sedihnya. senangnya. beratnya. bertahannya. kuatnya. lelahnya. capeknya. tawanya. sampai kemudian ada lagi di titik-titik terendah hidup. dan lalu bangun lagi untuk bangkit, karena ya satu-satunya cara untuk bertahan adalah ikut jadi keras kepala dengan masalah yang nggak berhenti datang.
sejak mulai bisa membaca dan berhitung--atau bahkan sebelum bisa melakukan keduanya itu--anak-anak lain tahu, bagaimana caranya meminta sesuatu dan berujung tangis untuk diiyakan. walau nggak semua, tapi sedikit banyaknya pasti mengalami. yang mana untuk saya, hal itu jadi sesuatu yang langka untuk dirasakan.
karena ya...saya lebih dulu dikenalkan jika hidup harus berdiri di atas kaki sendiri. harus berusaha untuk berjuang dan melawan keras dunia. harus jadi pribadi baik dan tidak menyusahkan. harus menjadi pengasih, namun tidak merugikan. harus tampil kuat, meski sejatinya berantakan jadi pengisi waktu di antara lelap.
tidak secara langsung, tapi diharuskan oleh kenyataan yang dihadapi. maka jawabannya memang mau tidak mau. bukan pertanyaan mengenai kesediaan ingin atau tidak.
banyak orang bersembunyi di balik tawa dan cerianya. tapi bukan berarti saya juga berusaha untuk menjadi demikian. karena ya, lagi-lagi ini bukan soal topeng yang ingin dipakai. tapi tentang bagaimana belajar melihat dunia dari sisi yang lain.
sisi yang berkebalikan dari apa yang sedang dialami. sisi yang katanya punya pelajaran lebih jika mau diterima.
hidup buat saya adalah soal pilihan.
untuk tetap bertahan atau berhenti. untuk menjadi baik atau tak peduli. untuk dipertaruhkan atau sekadar ikut arus. untuk bertemu lalu melepaskan atau bertahan tapi menyakitkan.
hidup itu nggak pernah mudah. manusianya harus punya seribu satu jurus untuk tetap menjadi waras. sesekali menangis di ujung malam juga bisa jadi jawaban. untuk apa-apa yang dirasa tidak kunjung tiba dan melelahkan.
besar di antara orangtua yang sudah tidak lagi utuh rasanya membuat saya agak pilih-pilih soal menjalin hubungan. apalagi ternyata, beberapa kali dipatahkan oleh kebaikan yang tulus ingin diberikan. ya gapapa, belajar untuk memaafkan diri sendiri mungkin sesuatu yang ingin Tuhan tunjukkan, ketika lagi-lagi manusia suka berbuat tidak semestinya.
hidup sudah keras. kalau kitanya nggak keras berjuang dan berusaha, mungkin kita yang akan jadi kalah. hidup sudah banyak menghantam kita dengan masalah, kalau kitanya ikut pusing karena tidak melihat jalan keluar, mungkin kita yang akan berujung membuat masalah lagi.
lagi-lagi. saya belajar keras kepala untuk diri sendiri, karena ya memang itu yang kemudian diajarkan hidup. entah eksekusinya bisa dengan baik atau buruk. intinya, keras kepala untuk niat baik, setidaknya tetap harus dijaga sampai akhir. pengasih dan berkasih juga harus dan semestinya sejalan.
gitu kan, ya?
10 agustus 2021 -hujanmimpi-














