Waktunya sudah tiba. Waktu untuk kembali pulang dan memulai rindu yang sudah biasa aku alami. Sedari terik matahari hingga langit kembali gelap, lebih dari cukup untuk bisa melepas rindu akan sosokmu yang aku sayangi. Perjalanan pulangku bermula langkah demi langkah. Ucapan hangatmu tak mampu membuat wajahku berpaling, karena tak kuasa untuk berpisah. Semakin kulangkahkan kaki, sejauh itu pula rinduku bermula kembali. Sepanjang perjalanan, segala cerita dan gelak tawamu membuat perjalananku pulang penuh dengan lamunan. Lamunan yang kembali mengingatkan, betapa rindu ini terobati setelah waktu yang dilewati tanpa ada pertemuan. Entah apa yang membuat perasaan ini semakin dalam. Dikala kau kembali bercerita kisah pahit yang selalu kau alami. Hal itu pulalah yang selalu menjadikanku rapuh. Ketika kembali bertemu dan melihat parasmu yang sendu dan penuh luka pilu. Senyum indahmu yang selalu kurindu, semakin hari semakin mengisyaratkan setiap beban yang harus kau alami. Tapi aku bahagia. Bahagia karena kau tetap menunjukkan sosokmu yang aku sayang. Walaupun tanpa berkata-kata, namun kau mengisyaratkan kerapuhan hati dan pikiranmu padaku. Sungguh membuat perjalananku pulang penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang yang semakin dalam. Tik..tik..tik..tik.. Lalu dia pun turun. Sang penguasa langit kembali turun dalam rupa tetesan air yang membasahi bumi. Tetesan yang menemani sepanjang kakiku melangkah. Sejenak aku berhenti melangkah. Mencari tempat berlindung dan mulai menanti bilamana kehadirannya akan segera berakhir. Beberapa waktu aku menunggu, namun sang penguasa langit tak menunjukkan tanda - tanda untuk segera berakhir. Kehadirannya disambut meriah oleh cahaya silau nan mematikan, yang silih berganti mempertontonkan kebesarannya. Lalu tiba - tiba aku teringat padamu. Aku teringat akan dirimu yang selalu suka akan kehadiran sang penguasa langit. Kehadirannya seakan selalu mampu menjadi obat penenang dalam kegelisahan. Tak jarang kau pun akrab bercengkrama dengan sang penguasa langit. Walau tak jarang, tubuhmu menjadi korban akibat ulahnya. Entah apa yang menjadi alasan aku pun tak tahu. Namun, kehadirannya seakan mampu menghipnotismu untuk sesaat. Seakan - akan dia ikut merasakan kesedihanmu. Bahkan tidak jarang dia muncul disaat dimana kau membutuhkan. Kemudian aku baru sadar jikalau dia sudah menjadi sahabatmu. Sahabat yang mampu mengerti seperti apa kondisimu. Sahabat yang tak kenal lelah untuk selalu ada menemani sepimu. Siang atau malam dia selalu ada saat kau membutuhkannya. Lalu kakiku pun mulai beranjak dari tempat berlindung. Perlahan tapi pasti kulanjutkan perjalananku yang tertunda. Sembari tersenyum dalam langkah ku, kunikmati setiap tetesan yang membasahi tubuhku. Satu demi satu berjatuhan, membuat seluruh tubuhku penuh akan kehadirannya. Semakin kumantapkan langkahku, semakin kumantapkan pula perasaanku padamu. Perasaan yang selalu muncul seperti sahabatmu. Mungkin dia memang sahabatmu. Dan aku ingin seperti sahabatmu itu. Walau mungkin tak terwujud dengan pasti. Tetapi aku mau. Karena berkat sahabatmu, aku semakin cinta dan sayang pada dirimu. Dan karena sahabatmu aku mampu merasakan kehadiranmu. Dan oleh karena itu pula aku ingin tak hanya sekadar sahabat. Sebab HUJANKU HUJANMU.