Studi Kasus Nyata:Ketika Hoaks Jadi Lahan Uang
By:Abdul [email protected] juni 2025
Di era digital seperti sekarang, penyebaran informasi begitu cepat dan luas. Namun, tidak semua informasi yang beredar adalah benar. Hoaks, atau informasi palsu yang disengaja, bukan hanya menyebabkan kebingungan dan keresahan—tetapi juga telah menjadi ladang bisnis yang menggiurkan.
Fakta mengejutkan: banyak pelaku hoaks secara sadar menciptakan dan menyebarkan informasi palsu untuk mendapatkan uang. Mereka memanfaatkan algoritma media sosial, clickbait, dan ketidakmampuan sebagian masyarakat memverifikasi informasi. Artikel ini akan menyajikan studi kasus nyata tentang bagaimana hoaks menjadi lahan uang di berbagai konteks—dari kesehatan hingga politik.
? Pembuktian Sulit
Sementara itu, wartawan senior Budiarto Shambazy, menyebut bahwa penyebar konten hoaks Bukan hanya di indonesia adapun di Amerika Serikat juga ditindak secara hukum. Namun, pembuktiannya sangat sulit lantas langkah apa yang bisa di ambil?
Saat ini, di sana, ada penuntutan terhadap 13 warga negara Rusia serta entitas perusahaan Rusia di AS. Mereka merupakan operator yang kerjanya setiap hari memproduksi berita hoaks. Salah satu korban hoaksnya adalah Hillary Clinton saat bertarung melawan Donald Trump dalam pemilihan presiden 2016 lalu. "Mereka membuat konten menarik, Paus Fransiskus mendukung Trump. Di-share di Facebook. Mati-matian dibantah Fransiskus bahkan oleh Obama sendiri," kata Budiarto.
Bukan rahasia lagi konten ujaran kebencian dan hoaks kini menjadi lahan bisnis baru untuk mendapatkan uang instan. Pendapatan yang diperoleh juga tidak sedikit. Contoh saja, kelompok Saracen yang modusnya terungkap pada 2017 lalu. Mereka memasang harga Rp 70-an juta di proposal untuk menyebarkan konten-konten ujaran kebencian, hoaks, dan diskriminasi SARA lewat media sosial. Direktur Informasi dan Komunikasi Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Purwanto pun mengakui bahwa produksi konten hoaks menjadi bisnis yang menggiurkan di dunia, termasuk Indonesia.
Cara Hoaks Menghasilkan Uang di Media Sosial
Di era digital, hoaks bukan sekadar informasi salah, tapi juga ladang bisnis. Inilah cara hoaks mendatangkan uang?
1.Viral Uang Konten hoaks dibuat sedemikian rupa agar memicu emosi (marah, takut, kagum) sehingga mudah viral. Platform seperti Facebook, YouTube, dan TikTok memberi imbalan lewat iklan (adsense) dan engagement tinggi. Semakin banyak klik dan share, makin besar penghasilan.
2. Situs dan Akun Penyebar Hoaks Dibayar Kelompok seperti Saracen terbukti menawarkan jasa sebar hoaks dengan bayaran hingga puluhan juta rupiah per proyek. Situs-situs hoaks bisa meraup ratusan juta per tahun dari trafik yang tinggi.
3. Iklan & CPM Tinggi Situs hoaks menggunakan judul bombastis agar menarik klik. Dengan tingginya kunjungan, mereka mendapatkan CPM (Cost per Mille) iklan yang besar. Banyak klik = banyak uang.
4. Endorsement Gelap Beberapa akun media sosial/influencer dibayar untuk menyebarkan narasi palsu tanpa transparansi. Ini adalah bentuk promosi terselubung yang kerap terjadi menjelang momen politik.
5. Siklus Berulang Selama hoaks menghasilkan uang, akan terus dibuat dan disebarkan. Inilah kenapa menyebar hoaks kini jadi “pekerjaan” bagi sebagian orang
Pendapatan Terselubung dan Endorsement Gelap
Beberapa influencer bahkan terlibat dalam menyebar informasi tanpa mengecek kebenarannya terlebih dahulu, karena dibayar oleh pihak tertentu. Praktik ini dikenal dengan nama endorsement gelap,
karena tidak transparan menyebutkan bahwa konten tersebut adalah promosi berbayar. Mereka dibayar untuk “secara alami” memposting ulang berita dari situs hoaks Akun-akun fanbase, akun agama, atau grup-grup komunitas sering dijadikan target penyebaran karena memiliki keterlibatan tinggi.
Siklus yang Berulang: Semakin Viral, Semakin Kaya
Dari semua mekanisme di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa penyebaran hoaks bukan sekadar persoalan etika atau kebodohan digital. Ia sudah menjadi sistem ekonomi bawah tanah yang menguntungkan, karena:
Viral = trafik
Trafik = uang
Uang = insentif untuk membuat hoaks baru
Jika tidak ada intervensi (baik dari pemerintah, platform, atau masyarakat), maka siklus ini akan terus berputar. Hoaks tidak hanya memengaruhi opini publik, tetapi juga menjadi mesin uang bagi mereka yang tak peduli kebenaran.
Kutipan
Di era digital, hoaks telah bermetamorfosis menjadi komoditas ekonomi yang sangat menguntungkan, terutama di ekosistem media sosial yang berbasis viralitas dan engagement. Penyebaran informasi palsu bukan lagi sekadar akibat kelalaian individu, melainkan telah menjadi bagian dari praktik industri konten yang terorganisir.
Namun, di balik keuntungan tersebut, kerugiannya sangat besar: polarisasi sosial, keretakan demokrasi, hilangnya kepercayaan publik terhadap institusi, dan maraknya budaya misinformasi. Ini menjadi tantangan serius bagi integritas ruang digital Indonesia.
Sumber Referensi
Diskusi publik "Masyarakat Digital dan Hoaks" (UIN, 2022)
Webinar “Hoaks & Etika Digital” – Kemenko PMK, 2023
Tempo.co – “Hoaks Bukan Sekadar Iseng” (2020)
Kompas.com – “Literasi Digital Jadi Kunci Tangkal Hoaks” (2022)










