Self-Thought
Akhir-akhir ini saya banyak menemukan orang depresi, insecure, merasa gak bahagia dan segudang ketidak puasan yang entah gimana tapi seolah sedang mewabah bahkan menjadi trend. Sering saya berpikir, ada apa? Kenapa bisa demikian?
Saya tidak banyak memahami kegalauan dan keresahan yang dirasakan oleh mereka. Mungkin karena saya tidak memakai "sepatu" mereka.
Bukan karena saya tidak pernah mengalami kegagalan, bukan karena saya selalu mendapatkan apa yang saya inginkan, bukan karena saya memiliki segalanya, bukan.
Karena saya memiliki Qur'an. Dan Qur'an menjadi penerang dalam hidup saya, di titik terendah bahkan terburuk, Qur'an berhasil menjadi obat dan penawar racun. Dan diatas segalanya, saya ngerasa Allah ada buat saya.
I feel Allah always be there for me, whenever and wherever, in up and downs of life, the one and only who never neglect and forget about me.
Saya ingin sekali bisa berbagi soal perjalanan spiritual saya, berbagi sedikit cahaya dan ketenangan yang saya punya, meski saya tahu, banyak hal yang masih harus saya perbaiki dan pelajari.
Kalau lah boleh saya berbagi sedikit saran kali ini saya melihat bahwa sumber dari keresahan diri adalah ketidak puasan karena banyaknya kita membandingkan hidup kita dengan orang lain padahal setiap kita adalah spesial. Beberapa lagi sering merasa tidak bahagia karena sering menggantungkan kebahagiaan nya pada kasih sayang, perhatian dan penilaian orang.
Padahal cukup jadi diri sendiri dengan versi terbaik. Fokus pada apa yang menjadi kelebihan dan berproses memperbaiki apa-apa yang kurang dengan menikmati setiap tahapannya adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan.
Saat kita merasa "kok hidup saya begini-begini aja?" Kenapa kita malah sibuk membandingkan diri dengan orang ? Kenapa tidak mulai dari hal-hal kecil dan dari sekarang? Kalau kita tidak puas dengan penghasilan hari ini kenapa kita tidak mulai sambil mencari sampingan income sambil mensyukuri apa yang sudah Allah titipkan?
Kalau kita tidak puas dengan penampilan kita saat ini, kenapa kita tidak mulai bangun lebih awal, baca banyak buku, rapikan apa-apa yang terlihat belum rapi, dan percantik diri dengan kepribadian yang menarik serta prestasi-prestasi gemilang? Toh wajah yang super glowing itu tidak pernah berati apa-apa jika disertai dengan akhlak minus, dan otak kosong bukan?
Kalau anda merasa sepi karena belum punya pasangan, atau sudah punya pasangan tapi dia tidak peduli dengan anda, kenapa tidak mulai menjadi pasangan bagi diri anda sendiri? Kenapa tidak mulai menjadi sahabat bagi diri sendiri? Kenapa harus menuntut orang lain membahagiakan kita? Berjalan-jalan lah, lakukan kegiatan-kegiatan positif, buat koneksi-koneksi yang lebih luuas, buat list pencapaian, tambahkan dengan semangat dan optimisme, bukankah itu lebih asik ya dari pada meratap atau mengeluh sepanjang hari?
Kalau anda merasa tidak punya bakat, kenapa tidak anda coba lakukan apa-apa yang anda suka? Kalau anda merasa tidak punya banyak uang kenapa anda tidak mulai bekerja dan memulai semua dari nol?
Kenapa semua harus dijadikan bahan galau? Hidup kok kayanya isinya keluhan. Kapan mau bahagia kalau sedari awal sudut pandang kita sudah negatif, dan pesimis?
Putus dari pacar, galau? Jangan. Cari yang baru. (Kalau kamu menganganggap pacaran itu gak dosa)
Ga punya uang, galau? Jangan. Cari kerja, atau buat lapangan pekerjaan.
Dihujat teman, ditikung, galau? Jangan. Cari lingkaran pertemanan baru dan ambil pelajaran.
Nangis boleh? Boleh. Tapi jangan sekali-kali anda menyampah di ruang publik dengan keluhan dan kegalauan yang tiada akhir. Buang-buang waktu, tenaga dan sama sekalii tidak berkelas.
Tapi aku udah nyoba, dan ternyata sulit.
Dek, hidup itu memang isinya ujian. Kadang ada kerikil, ada tikungan. Selama kita punya Allah, coba libatkan Allah dalam urusan kita. Mohon pertolongan Nya. Apa-apa yang menurut kita sulit, buat Allah itu gampang banget.
Dan Allah tempat curhat sebaik-baiknya. Berhenti menggalau dan mulai bergerak meski cuma selangkah. Dan jangan lupa berdoa. Semoga kedepannya bisa lebih baik.











